Pilot AU Afghanistan Niloofar Rahmani: “Saya Manusia Pertama, Bukan Hanya Seorang Wanita”

0

MYLESAT.COM – “Pada dasarnya kisah saya tidak ada apa-apanya (dibanding) orang luar biasa yang saya temui selama perjalanan saya di sini.” Niloofar Rahmani memulai pidatonya dengan rendah hati saat diminta menjadi pembicara pada Konferensi Internasional Women in Aviation (WAI) tahunan ke-33. “Aku sangat tersanjung,” ujarnya pelan.

WAI yang merupakan organisasi nirlaba, menggelar konferensi di Gaylord Opryland Resort & Convention Center, Nashville, Tennessee, Amerika Serikat dari 17-19 Maret 2022.

Niloofar Rahmani bersama rekan seangkatannya Class 12-03 Shindand. Foto: niloofarrahmani.com

Sebelum memberikan pidatonya yang menginspirasi, hadirin disuguhi video pendek yang mengisahkan perjalanan hidup Rahmani menjadi pilot (fixed-wing) wanita pertama Angkatan Udara Afghanistan. Sehingga peserta konferensi yang membludak pada 18 Maret itu, sudah tahu lebih baik tentang Rahmani.

Karena itu ketika Niloofar Rahmani turun dari panggung, ia mendapatkan tepuk tangan meriah. Padahal tidak lama Rahmani menyampaikan pidatonya.

Wanita kelahiran Afghanistan, 27 September 1992 ini mengaku, mendapat dukungan penuh dari ayahnya untuk menjadi pilot pada 2013 saat usianya 21 tahun. Meski ia sadar, keputusan itu akan membuatnya kehilangan anonimitas dan keamanannya.

“Di negara saya, tidak ada hak untuk perempuan, tidak ada hak untuk perempuan berada di militer, tidak ada hak menjadi pilot,” katanya dalam video pembuka. “Aku ingin menjadi yang pertama. Saya ingin menjadi contoh bagi wanita lain di belakang saya. Saya adalah manusia yang sama dengan para pria,” ungkapnya.

Namun karena ancaman pembunuhan dari Taliban terhadap Rahmani dan keluarganya, memaksanya untuk mencari suaka di AS. Meski sudah menetap di Florida, ia terus meningkatkan kesadaran akan penderitaan perempuan di Afghanistan.

“Jika saya tidak memperjuangkan hak saya, siapa yang akan melakukannya? Jika saya tidak memperjuangkan hak saya sekarang, kapan saya akan melakukannya,” katanya.

Niloofar Rahmani di pangkalan udara di Shindand. Foto: niloofarrahmani.com

Ia mengatakan kepada hadirin di WAI2022 bahwa kisahnya tidak jauh berbeda dengan gadis-gadis lain di wilayahnya. Ketika lahir, keluarga mempermalukan orang tuanya karena telah melahirkan seorang anak perempuan. “Kelahiran anak laki-laki adalah kehormatan dan kebanggaan bagi setiap keluarga,” ucapnya.

Karena tumbuh selama masa perang saudara di Afghanistan, keluarganya melarikan diri ke Pakistan. Mereka tinggal di bawah tenda berdebu tanpa air atau listrik, dan tanpa pendidikan.

Rahmani tumbuh dengan begitu banyak kekerasan terhadap seorang wanita. Wanita tidak memiliki suara.

Tetapi ayahnya menjadi inspirasi, mengajarkan kepercayaan diri yang akan membimbing masa depannya. Itu sebabnya, Rahmani berpendapat bahwa terbang baginya, jauh lebih hebat dari sekarang mimpi. “Flying became more like a therapy for me, not just a dream,” tuturnya.

Niloofar Rahmani mengakhiri diskusinya dengan pesan inspirasional kepada hadirin. “Saya menantang semua orang, Anda semua untuk melawan ketakutan Anda dan menyambut impian Anda. Jangan takut pada mereka, aku tidak akan pernah membiarkan siapapun memotong sayapku lagi,” katanya berapi-api.

“Saya adalah manusia pertama, bukan hanya seorang wanita.”

Rahmani mendaftar di Air Force Officer Training Program pada 2010 dan pada Juli 2012 lulus sebagai letnan dua. Sepanjang program berlangsung, dokter angkatan udara Afghanistan berusaha menganggap fisiknya tidak layak untuk terbang, salah satu bentuk diskrimansi yang diterimanya. namun ia satu-satunya kandidat perempuan dalam program penerbang.

Dua pilot helikopter wanita di era Soviet, Nabizada bersaudara, menjadi inspirasi bagi Rahmani.

Penerbangan solo pertamanya dengan pesawat Cessna 182. Karena ingin menerbangkan pesawat lebih besar, ia pergi mengikuti sekolah penerbang lanjutan dan menerbangkan pesawat kargo militer Cessna 208 Caravan.

Dalam tradisi Afghanistan. perempuan dilarang mengangkut tentara yang tewas atau terluka. Namun Kapten Rahmani menentang perintah itu ketika ia menemukan tentara yang terluka saat mendarat dalam sebuah misi. Ia menerbangkannya ke rumah sakit. Ketika melaporkan tindakannya kepada atasannya, ia tidak menerima sanksi.

Ketika prestasinya dipublikasikan, keluarga Kapten Rahmani menerima ancaman dari Taliban. Keluarga itu harus pindah beberapa kali agar tidak terendus.

Captain Niloofar Rahmani saat diberi kesempatan joy flight tim aerobatik Blue Angels di Naval Air Facility El Centro, California pada 11 Maret 2015. Foto: US Navy

Saat bersamaan, Rahmani punya ambisi untuk menerbangkan pesawat lebih besar yaitu C-130 Hercules dan menjadi instruktur penerbangan untuk menginspirasi wanita lain.

Untuk itu ia menjalani pelatihan dengan Angkatan Udara AS pada 2015 dan menyelesaikan program pada Desember 2016.

Setelah itu Niloofar Rahmani mengajukan permohonan suaka di Amerika Serikat. Saat itu, Rahmani menyimpan harapan menjadi pilot militer Angkatan Udara Amerika Serikat.

Share.

About Author

Being a journalist since 1996 specifically in the field of aviation and military

Leave A Reply