Jerman Tuntut China Berhenti Gunakan Mantan Pilot Tempur Luftwaffe, Katanya Gaji Tahunan 6 Digit

0

MYLESAT.COM – Jerman telah menjadi negara terbaru yang menindak mantan pilot pesawat tempurnya yang memberikan pelatihan kepada penerbang China. Menhan Jerman menuntut mitranya. Namun disebutkan tawaran gaji enam digit begitu menggiurkan.

Pemerintah Jerman telah berjanji untuk segera menghentikan pelatihan pilot pesawat tempur China oleh mantan penerbang Luftwaffe Jerman. Dalam perkembangan terbaru telah melibatkan mantan personel dari berbagai negara NATO, yang membantu perluasan ambisi kekuatan udara Beijing.

Langkah ini dilakukan setelah sebuah ekspos di media Jerman yang memberikan rincian tentang bagaimana seorang mantan perwira Luftwaffe yang mantan pilot Eurofighter EF2000, telah direkrut oleh China untuk berbagi keahliannya.

Menurut Der Spiegel, majalah berita mingguan Jerman yang pertama kali melaporkan berita tersebut, Menteri Pertahanan Jerman Boris Pistorius dalam pertemuan baru-baru ini dengan mitranya dari China, Li Shangfu, menyerukan agar pelatihan pilot pesawat tempur Beijing oleh mantan personel Jerman segera diakhiri.

Pertemuan tersebut dilaporkan berlangsung di sela-sela Shangri-La Dialogue di Singapura mingu lalu. Shangri-La Dialogue adalah pertemuan pertahanan terkemuka di Asia.

Pistorius mengatakan kepada Li Shangfu bahwa dia pasti tidak akan terhibur jika Jerman melakukan hal serupa untuk mendapatkan wawasan tentang keahlian militer China. Pistorius menggambarkan pertemuan tersebut sebagai percakapan yang “sangat terbuka”, yang memungkinkan perbedaan pendapat antara Berlin dan Beijing untuk disuarakan. Namun ia mencatat bahwa menteri pertahanan China telah bereaksi “dengan sangat hati-hati” terhadap permintaannya.

Li Shangfu dilaporkan berusaha untuk merelatifkan pentingnya mantan personel Jerman yang, sejauh diketahui, direkrut melalui jalur hukum.

Menurut media Jerman, mantan penerbang Luftwaffe direkrut oleh perusahaan di Selandia Baru dan Afrika Selatan dan kemudian mengambil posisi di China. Beberapa di antaranya dilaporkan mendapatkan gaji tahunan enam digit.

Tidak mengherankan jika pengungkapan ini menimbulkan kritik keras dari lawan-lawan politik Pistorius dan Partai Demokratik Sosial (SDP).

“Fakta bahwa mantan tentara Luftwaffe melatih pilot jet tempur di Tiongkok setelah masa tugas mereka adalah sebuah kemarahan, kami tidak dapat menerima hal itu,” kata Marie-Agnes Strack-Zimmermann dari Partai Demokratik Bebas (FDP), yang juga ketua komite pertahanan Jerman kepada Der Spiegel.

Strack-Zimmermann menyerukan pengetatan aturan yang mengatur jenis pekerjaan apa yang dapat dilakukan mantan tentara, dan menyarankan agar mereka hanya diizinkan untuk memberikan instruksi kepada sekutu NATO dan mitra strategis lainnya.

Tanggapan serupa menyusul pengungkapan tahun lalu bahwa pilot Angkatan Udara Kerajaan Inggris, juga telah melatih Tentara Pembebasan Rakyat (PLA) di bawah pengaturan yang tampaknya sangat mirip.

Rincian ekstensif telah dipublikasikan tentang salah satu dari orang-orang itu, yang dikenal sebagai Alexander H. Dengan nama panggilan “Limey,” ia pernah menjadi penerbang Eurofighter di Luftwaffe’s Tactical Air Force Wing 73 “Steinhoff” yang berpangkalan di Rostock-Laage di Jerman bagian timur.

Alexander pernah bertugas sebagai pilot instruktur di unit pelatihan Eurofighter Jerman.

Pada 2013, Alexander meninggalkan Jerman, mungkin setelah menyelesaikan tugasnya, dan dilaporkan telah mendaftarkan kepindahannya ke luar negeri. Tujuannya adalah Qiqihar di provinsi Heilongjiang, China timur laut.

Pangkalan tersebut saat ini menjadi rumah bagi pesawat pembom tempur multirole J-16 Flanker dari Brigade Udara ke-3 Angkatan Udara PLA. Meskipun ketika Alexander pertama kali bekerja di sana, tampaknya unit tersebut masih dilengkapi dengan jet tempur J-8 Finback yang lebih tua. Transisi ke J-16 di pangkalan ini terjadi pada 2018.

Mengenai jenis pelatihan dan keahlian apa yang diberikan Alexander kepada PLA, masih belum jelas. Meskipun pejabat keamanan Jerman yang tidak disebutkan namanya telah mengonfirmasi, bahwa “sangat mungkin para pilot itu telah mewariskan keahlian militer dan taktik operasional rahasia. Bahkan mempraktikkan skenario penyerangan, seperti serangan terhadap Taiwan.

Kementerian Pertahanan Jerman juga belum memberikan informasi spesifik tentang apa yang dilakukan para mantan personel Luftwaffe di China.

Namun, kementerian itu mengonfirmasi bahwa Tiongkok berusaha, melalui lembaga eksternal, merekrut mantan pilot NATO sebagai instruktur. Bahwa mantan pilot Luftwaffe Jerman menjadi target dalam upaya ini.

Kementerian memperingatkan bahwa situasi ini berisiko bagi PLA untuk mendapatkan wawasan tentang “taktik, teknik, dan prosedur yang relevan.”

Tampaknya bagi mantan penerbang Luftwaffe khususnya, yang biasanya pensiun pada usia 41 tahun, tawaran menggiurkan dari Tiongkok mungkin sangat menarik.

Alih-alih pensiun sebesar setengah dari gaji bulanan terakhirnya, mereka yang bekerja di China bisa menerima tawaran yang sangat menggiurkan. Pilot-pilot Inggris yang mengambil pekerjaan serupa, sejak akhir 2019 dan seterusnya, dilaporkan menerima gaji sekitar 270.000 dollar AS per tahun. Hampir Rp 4 miliar setahun.

Lagi-lagi menurut Der Spiegel dan juga dikutip thedrive, mantan pilot Luftwaffe telah bekerja atas nama PLA selama lebih dari 10 tahun, dengan orang pertama yang tampaknya telah direkrut oleh Test Flying Academy of South Africa (TFASA).

Tidak ada hukum yang dilanggar, dan pada saat yang sama, pemerintah Jerman juga memberikan pelatihan formal kepada para perwira PLA.

Share.

About Author

Being a journalist since 1996 specifically in the field of aviation and military

Leave A Reply