MYLESAT.COM – Ibarat pepatah, sebaik-baiknya anak adalah yang mengutamakan kepentingan orang tuanya. Transfer teknologi yang unggul telah menjadikan India percaya diri menawarkan rudal jelajah kepada ibu asuhnya, Rusia.
Perusahaan persenjataan India, BrahMos Aerospace, telah menyatakan bahwa mereka ingin menjual rudal jelajah BrahMos ke Rusia. Menurut CEO Atul Dinkar Rane dalam sebuah wawancara dengan The Week, CEO BrahMos Aerospace itu mengatakan bahwa mereka terus melihat Rusia (sejatinya mitra bisnis) sebagai pasar untuk rudal BrahMos.
“Kami terus melihat Rusia sebagai pasar untuk BrahMos. Jika mereka membelinya saat itu, mereka akan memiliki banyak hal yang dapat digunakan dalam situasi saat ini,” kata Rane.
CEO ini mengatakan bahwa setelah situasi yang sedang berlangsung di Eropa berakhir, perusahaan ini mungkin akan mendapatkan beberapa pesanan dari Rusia, terutama untuk rudal jelajah yang diluncurkan dari udara.
BrahMos Aerospace, sebuah perusahaan patungan India dan Rusia, telah mengembangkan apa yang mereka sebut sebagai rudal jelajah supersonik tercepat di dunia. Rudal yang namanya diambilkan dari nama dua sungai di Rusia dan India, Brahmaputra dan Moskva, merupakan rudal bertenaga ramjet yang digunakan oleh India dalam versi udara, darat, dan kapal.
Menurut Asosiasi Pengendalian Senjata yang berbasis di AS, jarak tempuh rudal itu antara 300 km (186 mil) dan 500 km (310 mil), sehingga mampu menghantam Islamabad dari landasan peluncuran India utara.
Selain itu, pada awal Maret 2022, seorang pejabat senior keamanan Pakistan mengatakan kepada Reuters bahwa rudal itu juga memiliki varian bersenjata nuklir. Akan tetapi tidak ada bukti bahwa versi seperti itu saat ini sedang beroperasi.
BrahMos (juga dikenal sebagai PJ-10) merupakan rudal jelajah supersonik tercepat di dunia. Rudal ini merupakan hasil kerja sama antara Organisasi Penelitian dan Pengembangan Pertahanan India (DRDO) dan NPO Federasi Rusia, Mashinostroyeniya, yang bersama-sama membentuk BrahMos Aerospace.
Versi yang diluncurkan dari darat dan versi yang diluncurkan dari kapal sudah beroperasi. Varian BrahMos yang diluncurkan dari udara dapat ditembakkan dari jet tempur Su-30MKI dan diperkenalkan pada 2012 dan mulai beroperasi pada 2019.
Versi hipersonik, BrahMos-II, saat ini sedang dalam pengembangan dengan kecepatan Mach 7-8 untuk meningkatkan kemampuan serangan cepat dari udara. Rudal ini diharapkan siap diuji coba pada 2024.
Pada 2016, ketika menjadi Anggota dari Rezim Kontrol Teknologi Rudal (MTCR), India dan Rusia kini berencana untuk bersama-sama mengembangkan Generasi Baru Rudal BrahMos dengan jangkauan 800 km dan kemampuan mencapai target-target yang terlindungi dengan akurasi tepat.
Rencana ini pada akhirnya akan meningkatkan semua rudal hingga mencapai jarak 1.500 km.
TNI AL pernah menjadi target pemasaran BrahMos pada 2007. Sampai sekarang pun, rudal BrahMos masih menempati prioritas “harapan” TNI untuk bisa mengakuisisinya.
Namun keinginan Indonesia sudah disalip oleh Filipina yang memenuhi harapan India dengan menandatangani kesepakatan pembelian tiga baterai rudal BrahMos.
Kementerian Pertahanan India mengatakan bahwa BrahMos Aerospace Private Limited (BAPL) telah menandatangani kontrak dengan Departemen Pertahanan Nasional Filipina pada 28 Januari 2022 untuk memasok Sistem Rudal Anti-Kapal Berbasis Darat ke Filipina.
Kesepakatan ini bernilai hampir 375 juta dolar AS, dan merupakan ekspor pertahanan pertama India yang signifikan. Selanjutnya, India menyasar Vietnam dan Thailand.