Kunker KSAU Marsekal TNI Fadjar Prasetyo di Tiga Lanud: Dari Heritage House hingga Strategisnya Letak Natuna

0

MYLESAT.COM – KSAU Marsekal TNI Fadjar Prasetyo menuntaskan kunjungan kerja selama empat hari di tiga provinsi (16-19 Januari 2024). Lanud Iskandar di Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah; Lanud Supadio di Pontianak, Kalimantan Barat serta Lanud Raden Sadjad di Natuna, Kepulauan Riau didarati pesawat B737-400 A-7306 Skadron Udara 17 yang membawa KSAU dan rombongan.

Baca Juga: 

Setiap kali kunjungan kerja (Kunker) KSAU ke daerah selalu saja ada hal yang menarik. Karena pada kesempatan seperti ini, pimpinan tertinggi TNI AU bisa melihat langsung pembangunan fasilitas yang telah direncanakan, hasil program kerja yang sudah dijalankan satuan, dan menemukan persoalan yang masih terkendala.

Paling penting dan utama juga adalah jadi kesempatan bagi KSAU untuk bisa bertemu langsung dengan personel Lanud yang dikunjungi.

Lanud Iskandar di Pangkalan Bun yang pertama dikunjungi KSAU, merupakan salah satu “situs” penting dalam perjalanan heroik TNI AU.

KSAU Marsekal TNI Fadjar Prasetyo memberikan arahan kepada anggota Lanud Raden Sadjad. Foto: beny adrian/ mylesat.com

Disinilah pada 17 Oktober 1947, sebanyak 13 prajurit AURI yang merupakan putra daerah Kalimantan, diterjunkan dalam operasi lintas udara di Kawasan Bukit Sepan Biha. Unit kecil ini dipimpin oleh Letnan Muda Udara I Iskandar.

Namun dalam aksinya, para penerjun mendarat di Desa Sambi, Kotawaringin, jauh sebelum Bukit Sepan Biha. Penerjunan menggunakan pesawat C-47 Dakota RI-002 yang diterbangkan Robert “Bob” Earl Freeberg.

Operasi penerjunan pasukan payung pada 17 Oktober 1947 ini merupakan operasi lintas udara pertama yang dilakukan TNI pasca Kemerdekaan, yang kemudian diabadikan sebagai hari jadi Kopasgat.

Menurut Kainfolahta Lanud Iskandar, Letda Lek Ferry Ansyari, sejarah Lanud Iskandar tak lepas dari Kerajaan Kepangeranan Kotawaringin (Kesultanan Kutaringin). Letda Lek Ferry Ansyari sendiri diberi tanggung jawab untuk merawat heritage house C. Willem (salah seorang pelaku penerjunan) yang berada di dalam kawasan Lanud.

“Pangeran yang menyerahkan lapangan terbang ke AURI. Jadi landasan ini dibangun oleh kesultanan, bukan Belanda,” jelas Ferry kepada KSAU saat mengunjungi heritage house. Bangunan bersejarah ini dulunya merupakan kediaman Komandan Detasemen AURI Pangkalan Bun, Letnan Muda Udara I M. Mangkin. Sekarang menjadi cagar budaya TNI AU.

Untuk membangun landasan, Sultan Kutaringin meminta bantuan kepada kerajaan di Jawa untuk mengirimkan pekerja dari Madura. Tugas mereka membuka lahan untuk dijadikan landasan. Anak keturunan pekerja Madura ini sekarang banyak bermukim di sekitar Lanud Iskandar.

Di dalam heritage C. Willem ini dipampang beberapa foto bersejarah. Seperti foto peta lapangan terbang dari tahun 1930. Lalu ada foto runway yang diabadikan Belanda pada tahun 1948 dan kemudian diperoleh dari Leiden, Belanda. Ada juga foto komandan Lanud pada zamannya.

Salah satu peninggalan yang sangat berharga di dalam heritage house ini adalah pedang milik Letnan Muda Udara I Dhomber. Putra asli Dayak (1924 – 1997) kelahiran Kalimantan Tengah ini merupakan Komandan Detasemen AURI Pangkalan Bun kedua setelah Letnan Muda Udara I M. Mangkin. KSAU meminta agar benda bersejarah ini dipelihara dan dijaga dengan baik.

Di dalam pangkalan ini terdapat salah satu jalan tertua di Pangkalan Bun, dibangun Sultan sebagai satu-satunya akses dari Istana Kuning menuju Pelabuhan Kumai. Akses yang dibuat dari 1938 – 1941 ini sekarang diberi nama Jalan Bendaha Kumai. Jalan ini dibangun untuk mempermudah pengiriman palawija dari Kotawaringin ke Banjar.

Persisnya tahun 1954, landasan ini dihibahkan Kesultanan kepada AURI. Menurut pihak Kesultanan, penyerahan landasan dilakukan agar lebih berguna dan tidak terlantar yang dikhawatirkan bisa menjadi semak belukar.

Untuk itu Sultan Kotawaringin mengutus Kapten Udara Gusti Dumai Anas untuk menyerahkan Lapangan Terbang Kotawaringin (di kalangan masyarakat dikenal sebagai Lapangan Terbang Sabah Uyah) kepada TNI AU untuk dijadikan Pangkalan Udara. Kapten Dumai Anas sendiri adalah perwira penghubung antara Kesultanan Kotawaringin dengan TNI AU saat itu.

Lapangan terbang ini tidak digunakan oleh Kesultanan sejak masuknya Balatentara Jepang pada tahun 1942. Oleh Jepang, Lapangan Terbang Sabah Uyah dijadikan pangkalan aju tentara Jepang di Kalimantan. Setelah kalah perang tahun 1945, lapangan terbang ini ditinggalkan. Peninggalan tentara Jepang masih bisa ditemukan di Lanud Iskandar berupa bunker untuk menyimpan pesawat.

Pun menurut dokumen yang tersimpan di Istana Kuning, diketahui bahwa landasan ini tidak pernah dikuasai tentara Belanda.

Untuk menghargai jasa pahlawan TNI AU yang telah gugur dalam operasi penerjunan di Kotawaringin, pangkalan udara ini diberi nama Iskandar. Sedangkan nama Dhomber dikukuhkan sebagai nama Lanud di Balikpapan.

KSAU Marsekal TNI Fadjar Prasetyo saat disambut Forkopimda Kabupaten Natuna. Foto: beny adrian/ mylesat.com

Sebelum meninggalkan heritage C. Willem, KSAU Marsekal Fadjar Prasetyo meminta Kepala Dinas Konstruksi TNI AU untuk memperbaiki bangunan ini namun dengan tidak menghilangkan keotentikannya.

Selain meninjau heritage house, KSAU dan Ibu Inong Fadjar Prasetyo beserta rombongan juga melakukan ziarah ke Taman Makam Pahlawan Indra Pura di Pangkalan Bun. KSAU melakukan tabur bunga di pusara Letkol Pur H. Dhomber.

Setelah itu KSAU mengunjungi Istana Indrasari Bukit Indra Kencana atau biasa disebut Istana Kuning. Istana yang didirikan pada 1860 oleh Pangeran Ratu Immanudin ini  menjadi tempat paling bersejarah di Kotawaringin Barat.

“Dengan Kunker ini kita pasti akan melakukan sesuatu berdasarkan apa yang sudah dicatat, dan melihat kondisi di lapangan serta hal-hal yang dianggap kritis dan segera memerlukan dukungan,” jelas KSAU.

Lanud Supadio 

Dari Lanud Iskandar, KSAU Marsekal TNI Fadjar Prasetyo melanjutkan kunjungannya ke Lanud Supadio di Pontianak. Diperkirakan tahun 2028, Skadron Udara 1 yang berada di Lanud Supadio akan mulai menerima pesawat tempur Dassault Rafale untuk menggantikan armada Hawk 109/209.

Pada kesempatan sebelumnya, KSAU pernah menyinggung kesiapan pesawat Hawk 109/209 di Skadron 1 dan Skadron 12 yang sudah menurun. Kondisi inilah yang menjadi alasan kuat TNI AU untuk menempatkan Rafale di Skadron Udara 12 Pekanbaru dan Skadron 1 Pontianak.

Namun sambil menunggu kesiapan Rafale, TNI AU sebagai penjaga kedaulatan di udara tentu tidak boleh dalam status pause mode. Kekosongan akan menimbulkan potensi pelanggaran bahkan ancaman.

Terkait hal tersebut, salah satu program Kementerian Pertahanan (Kemhan) untuk mempertahankan kesiapan armada Hawk 109/209 adalah dengan pengadaan mesin untuk pesawat Hawk. “Selain itu TNI AU juga mendapat hibah mesin pesawat Hawk dari Australia,” tambah Marsekal Fadjar.

Menurut informasi yang diperoleh mylesat.com, Kemhan telah memprogramkan pengadaan mesin untuk menjaga kesiapan armada Hawk 109/209 di dua skadron TNI AU. Mesin-mesin ini diperkirakan akan tiba dalam waktu dekat.

Meski kesiapan kedua skadron tidak lagi maksimal, Marsekal Fadjar tetap meminta Dinas Operasi dan Latihan Angkatan Udara untuk terus membuat terobosan agar para penerbang tetap bisa menjaga profesionalismenya. Selain itu, TNI AU juga harus mempersiapkan para penerbang yang akan dikirim ke Perancis tahun depan untuk menjalani transisi ke Rafale.

Sejauh ini KSAU memang memberikan prioritas kepada penerbang Hawk. “Kita prioritaskan Skadron 1 dan 12 untuk masuk ke Rafale,” ungkap Fadjar. Selama kunjungannya, KSAU juga memberikan arahan kepada para personel dari Skadron Udara 51.

“Saya mengapresiasi rekan-rekan di Lanud Supadio yang di tengah keterbatasan ini tetap semangat dan berupaya keras dalam melaksanakan tugas. Untuk Rafale sudah dilakukan survei lokasi, hal-hal yang belum dimasukkan segera disampaikan agar pembangunan fasilitas selaras dengan kedatangan pesawat,” tutur KSAU.

Di akhir Kunkernya, KSAU Marsekal TNI Fadjar Prasetyo pun tiba di Lanud Raden Sadjad yang berada di titik paling utara dari wilayah Indonesia. Lanud Raden Sadjad sangat strategis karena berada persis di depan Laut China Selatan yang sarat konflik.

Dijelaskan Marsekal Fadjar, Natuna adalah salah satu wilayah di Indonesia yang banyak mendapat perhatian negara lain. Baik karena kekayaan alamnya maupun perihal gelar kekuatan TNI di pulau ini.

“Dengan berada dekat Laut China Selatan yang sewaktu-waktu bisa bergejolak, kita harus tetap siaga, Mabesau akan berupaya melengkapi kebutuhan Lanud. Kita menginginkan Lanud ini prima dalam arti fasilitas lengkap dan personel siap melaksanakan tugas,” kata Marsekal Fadjar.

Karena letaknya itu pula, Pemerintah menjadikan Pulau Natuna sebagai transit point saat mulai merebaknya wabah Covid-19 pada tahun 2020. Ketika itu WNI yang dievakuasi dari Wuhan di China, ditampung di hanggar integrasi di Lanud Raden Sadjad.

“Lanud ini pernah sangat berjasa saat Covid, semua transist di sini, saya berterima kasih kepada kalian yang saat itu ikut terlibat dalam penanganan Covid tahap awal,” ucap KSAU.

KSAU Marsekal TNI Fadjar Prasetyo dan Ibu Inong di depan Heritage House C. Willem di Lanud Iskandar. Foto: beny adrian/ mylesat.com

Satu hal menarik dalam dialog KSAU dengan personel Lanud Raden Sadjad, adalah ketika KSAU meminta personel yang paling lama berdinas di Natuna untuk berdiri. Tiga orang mengacungkan tangan, dan salah satu di antaranya memperkenalkan diri.

Anggota ini memperkenalkan diri sebagai Pelda Imam Wahyudi, dan menyampaikan telah berdinas di Natuna selama 33 tahun sejak menjadi prajurit TNI AU tahun 1989. Seketika KSAU Marsekal Fadjar Prasetyo terperanjat dan tersenyum.

“Lulus tahun 1989, bulan depan pensiun KSAU,” ujarnya, yang langsung disergap KSAU dengan mengatakan, “Saya pensiun dua bulan berikutnya.” Namun demikian KSAU bersyukur karena personel yang berasal dari Gombong, Jawa Tengah dan berdinas di Satuan Radar 212 ini bisa menjalani kehidupan di Natuna dengan baik. Bahkan menikah dengan wanita dari Natuna.

KSAU Marsekal TNI Fadjar Prasetyo tidak lupa menyampaikan kabar baik bahwa status Lanud Raden Sadjad akan segera dinaikkan menjadi Tipe A.

Menyikapi peningkatan status ini, KSAU meminta kepada seluruh personel Lanud untuk melaksanakan tugas dengan lebih maksimal seperti Skadron 52, Denhanud 477, rumah sakit, dan Sathanlan untuk segera ditingkatkan seiring perkembangan Lanud.

Selama kunjungannya di ketiga Lanud, KSAU tidak lupa memberikan bantuan kepada satuan di jajaran lanud yang dikunjungi. Termasuk memberikan karpet untuk masjid atau mushola yang berada di jajaran Lanud Raden Sadjad.

Share.

About Author

Being a journalist since 1996 specifically in the field of aviation and military

Leave A Reply