MYLESAT.COM – Belum sebulan Marsma TNI Prof. Dr. Ir. Rudy Agus Gemilang Gultom, M.Sc., CEH., CIQar., IPM menerima pengukuhan sebagai Guru Besar Tetap Bidang Ilmu Komputer di Universitas Pertahanan, tanggung jawab baru ia terima dari KSAU Marsekal TNI Fadjar Prasetyo.
Tepatnya pada Kamis, 22 Februari 2024, KSAU Marsekal TNI Fadjar Prasetyo melantik Marsma TNI Rudy Agus Gemilang Gultom sebagai Kepala Dinas Informasi dan Pengolahan Data TNI Angkatan Udara (Kadisinfolahtaau). Ahli komputer dan siber ini menggantikan Marsma TNI Didik Pujo Indarto.
Sebelumnya pada 30 Januari 2024, Marsma Rudy menerima pengukuhan sebagai Guru Besar Tetap Bidang Ilmu Komputer di Unhan dalam sebuah Sidang Senat Terbuka. Sejumlah koleganya menyambut gembira pengukuhan Rudy sebagai guru besar, yang membuatnya berhak menyandang gelar Profesor.

Marsma TNI Prof. Dr. Ir. Rudy Agus Gemilang Gultom, M.Sc., CEH., CIQar., IPM.
Sebagai profesor di bidang keamanan siber, Marsma Rudy mengemban tanggung jawab sebagai ahli keamanan dunia maya. Meski tidak banyak dikenal publik, sejatinya Prof Rudy termasuk penjaga terdepan dalam menghadapi serangan digital yang tak terelakkan terutama di TNI AU.
Salah satu koleganya sebagai akademisi, Teddy Mantoro, menuliskan harapannya di laman Facebook. “Semoga bisa membuat mayantara menjadi tempat yang lebih aman dan nyaman,” tulisnya.
Alumni Sepamilwa
Marsma TNI Prof. Dr. Ir. Rudy Agus Gemilang Gultom, M.Sc., CEH., CIQaR., IPM., atau biasa dipanggil Marsma Prof. Dr. Rudy Gultom, memang lebih banyak menghabiskan waktunya di depan komputer.
Kelahiran Jakarta, 19 Agustus 1967 dari pasangan H. Pailan Hidayat Gultom (Mayor Pur TNI AU) dan Hj. Rosdiana Pasaribu (pensiunan Guru Bahasa Inggris SMP Negeri 80), adalah alumni SEPAMILWA (Sekolah Perwira Militer Wajib) ABRI. Ia memutuskan menjadi prajurit TNI usai menyelesaikan pendidikan di Sekolah Tinggi Manajemen Informatika Gunadarma, Depok.
“Saya alumni SEPAMILWA ABRI 1991/1992 Gelombang I,” ujar Rudy.
Sebagai putra dari anggota TNI AU yang berdinas di Lanud Halim Perdanakusuma, Rudy menghabiskan masa kecil hingga remaja di lingkungan Halim. Bersekolah di SD Angkasa 1 Halim P, SMP Negeri 80 Halim, dan SMA Negeri 42 Halim.
Setelah di wisuda sebagai perwira di Akademi Militer Magelang akhir 1991 dengan pangkat letnan satu, Rudy memperoleh Korps Sus/PDE (Khusus/ Pengolahan Data Elektronik). Sangatlah tepat penempatan pertamanya di Disinfolahtaau (Dinas Informasi dan Pengolahan Data TNI AU) pada Februari 1992.
Enam tahun kemudian, Rudy dipilih Mabes TNI untuk mengikuti pendidikan pasca sarjana (S2) bea siswa Pemerintah Inggris, Chevening Scholarship di Inggris. Tahun 1999 menyelesaikan studi Master Degree dari Department of Computer Science, University of Sheffield, Sheffield, Inggris, dan diwisuda dengan gelar Master of Science in Telematics (M.Sc. in Telematics).
Kembali ke tanah air dan melanjutkan dinas di Disinfolahtaau, dengan pangkat Kapten kemudian dipercaya menjadi Kepala Infolahta Kohanudnas hingga 2003. Selanjutnya mengikuti pendidikan Sekkau (Sekolah Kesatuan Komando TNI Angkatan Udara), ditempatkan di Disinfonet Puspen TNI, dan kemudian pindah penugasan ke Biro Telematika Lemhannas RI (Lembaga Ketahanan Nasional RI) hingga mendapat pangkat Letkol di tahun 2008.

Ketua Dewan Guru Besar Universitas Pertahanan, Laksamana (Pur) Prof. Dr. Marsetio mengukuhkan Guru Besar Unhan yang baru, Marsma TNI Prof. Dr. Dr. Ir. Rudy Agus Gemilang Gultom, M.Sc, CEH, QiQar, IPM.
Kemampuannya dalam menganlisa persoalan menempatkannya sebagai 5 besar Taskap Terbaik saat mengikuti Seskoau Angkatan 44. Karena kecemerlangannya, Lemhannas memberikan kesempatan mengikuti program Doktoral (S3) di Fakultas Teknik Universitas Indonesia (FTUI) dengan bea siswa penuh dari Lemhannas.
Saat studi S3 ini, Rudy berhasil menciptakan penemuan baru (novelty) berupa Prototype Tools Xtractorz yang merupakan sebuah Search Engines Tools (Web Data Extraction).
Sekembalinya ke Lemhannas, Rudy mendapat tawaran pindah ke Universitas Pertahanan (Unhan) pada September 2017. Ia menjabat Sesprodi Teknologi Penginderaan Fakultas Teknologi Pertahanan, aktif mengajar dan meneliti bidang TIK, Cyber Security/ Cyber Defense dan Teknologi Pertahanan.
Pada saat berdinas di Unhan inilah Marsma Rudy Gultom menciptakan Six Ware Cyber Security Framework (SWCSF), yang kelak disampaikannya dalam orasi ilmiah saat pengukuhan Professor di Unhan. Orasinya berjudul “Model Pengukuran Six-Ware Cyber Security Framework (SWCSF) untuk Memperkuat Pertahanan dan Keamanan Nasional”.
SWCSF merupakan model kerangka pengukuran keamanan siber yang didesain dengan tujuan agar pengguna, atau layanan SPBE (Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik) memiliki kesiapan untuk menghadapi beragam ancaman serangan siber.
Terdapat enam faktor esensial SWCSF meliputi penilaian struktur, aplikasi, fasilitas, keselamatan, operasi dan pemeliharaan, data serta variabel kebijakan dukungan anggaran yang mencukupi.
SWCSF merupakan instrumen kerangka pengukuran keamanan siber memanfaatkan fasilitas TIK yang dapat diimplementasikan pada domain pengguna baik di tingkat pusat hingga di daerah, sehingga cocok digunakan sebagai suplemen pelengkap layanan SPBE dalam hal keamanan siber.
Menurut Rudy, keamanan siber menjadi sangat penting pada saat ini karena dampaknya bisa sangat merugikan dan mengancam keamanan nasional. Ia mencontohkan serangan siber Ransomware Wannacry yang pernah menyerang dua rumah sakit pemerintah pada 2017, yaitu Rumah Sakit Harapan Kita dan Rumah Sakit Dharmais.
“Saat itu sistem layanan kesehatan dari kedua rumah sakit tersebut lumpuh akibat serangan Ransomware Wannacry. Oleh sebab itu, untuk mengatasi ancaman serangan siber maka penting untuk meningkatkan kesadaran keamanan siber, menerapkan praktik keamanan siber yang baik, dan memperbarui perangkat lunak secara teratur,” beber Rudy.
Setelah berdinas 20 tahun di berbagai bidang penugasan, Prof Rudy akhirnya meraih pangkat perwira tinggi, Marsekal Pertama TNI pada Mei 2022 di Unhan RI. Saat itu ia menjabat Wakil Dekan Fakultas Teknologi Pertahanan Unhan.
Marsma TNI Prof. Dr. Ir. Rudy Agus Gemilang Gultom, M.Sc., CEH., CIQar., IPM berharap bisa memberikan kontribusi positif bagi TNI AU dengan jabatannya saat ini sebagai Kadisinfolahtaau. Karena persoalan keamanan siber menjadi satu isu yang sangat dicermati serius oleh KSAU saat ini.
Dinas Informasi dan Pengolahan Data TNI Angkatan Udara adalah Badan Pelaksana Pusat di tingkat markas besar TNI AU. Disinfolahtaau bertugas menyelenggarakan pembinaan sistem informasi dan pengolahan data di lingkungan TNI AU.
Pengolahan data yang dilakukan meliputi pembangunan, pengembangan, pemeliharaan dan penyiapan sistem informasi TNI Angkatan Udara secara elektronik yang meliputi bidang intelijen, operasi, personel, logistik/materiel, keuangan, perencanaan pembangunan kekuatan, program dan anggaran, metode, dan potensi dirgantara serta pemeliharaan dalam rangka mendukung tugas TNI Angkatan Udara.

Marsma TNI Prof. Rudy Agus Gemilang Gultom (paling kanan) usai dilantik KSAU Marsekal TNI Fadjar Prasetyo sebagai Kadisinfolahtaau. Foto: Dispenau
Reputasi Internasional
Sebagai akademisi dan pemikir bidang siber dan internet, Marsma Rudy Gultom telah menabung begitu banyak penghargaan di level internasional. Saat menjabat Kasubdit Regional Ditjian Internasional Debidjianstrat Lemhannas, Kolonel Sus Rudy Agus Gemilang Gultom meraih Best Paper Award pada International Conference on Internet Monitoring and Protection (ICIMP) 2016 di Valencia, Spanyol.
Rudy mempresentasikan naskah akademik dengan judul “Enhancing Network Security Environment by Empowering Modeling and Simulation Strategy (Cyber Protect Simulation Lesson Learned”.
Naskah ini ia susun berdasarkan pengembangan dari kursus Cyber Security for Information Leaders Course yang diikutinya di National Defense University (NDU), Washington DC., Amerika Serikat pada Maret 2015.
Karena itu untuk menghadapi ancaman siber yang nyata ini, Marsma TNI Prof. Dr. Ir. Rudy Agus Gemilang Gultom menyampaikan pentingnya kolaborasi dan sinergitas yang solid di antara stake holders terkait untuk meningkatkan ekosistem keamanan siber nasional.
“Sangat penting untuk memperkuat pertukaran informasi, pengetahuan serta sumber daya dan praktik cyber security dalam satu ekosistem keamanan siber nasional,” ungkapnya.