Suasana haru biru terasa saat salah seorang mahasiswa peserta Mahasabha (Kongres Nasional) XI Kesatuan Mahasiswa Hindu Dharma Indonesia (KMHDI) mengajukan pertanyaan kepada Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto dalam sesi Kuliah Umum Kebangsaan.
Mahasabha XI KMHDI dibuka oleh Presiden Joko Widodo di The Rich Hotel, Yogyakarta, Rabu (29/8/201).
Mahasiswa yang diketahui bernama Gede Budi Muliantika ini tidak hanya menanyakan sejumlah kebijakan pemerintah dan cara memotivasi diri, tapi juga curhat kepada Marsekal Hadi.
Dia mengaku ingin memberikan kebanggaan kepada orang kampungnya di Sulawesi Tenggara, bahwa dirinya berhasil bertemu, bersalaman, dan foto bareng Panglima TNI.
“Mohon izin bapak Panglima,” ujarnya yang langsung dipanggil Marsekal Hadi untuk berdiri di panggung.
Gede langsung berdiri dan menuju panggung. Panglima TNI menyalaminya dan kemudian foto bareng Gede, yang terlihat haru dan berkaca-kaca.
Salah satu pertanyaan yang dilontarkan Gede adalah, bagaimana cara memotivasi diri di tengah perubahan dunia yang begitu cepat.
Apalagi sekretaris umum pimpinan daerah KMHDI Sulawesi Tenggara yang merasa berasal dari kampung ini, melihat persaingan begitu ketat dan kompetitif. Gede berasal dari Desa Puuroe, Kecamatan Angata, Kabupaten Konawe Selatanl, Sultra.

Peserta Kongres memanfaatkan kesempatan foto bareng Panglima TNI. Foto: beny adrian/ mylesat.com
Menjawab pertanyaan Gede, Panglima TNI mencoba memotivasinya dengan menceritakan jalan hidup yang dilaluinya.
Hadi pun menuturan perjalanan hidupnya yang berasal dari keluarga sederhana, anak seorang kopral TNI AU. Membantu orang tua untuk membesarkan empat adiknya, dijalani Hadi sejak beranjak remaja.
“Saya dulu anak kopral dan tinggal di komplek yang di situ juga ada perwiranya, jadi saya dan keluarga orang kecil yang tidak dikenal,” urai Hadi.
Hadi pun terpaksa meninggalkan orang tua dan adik-adiknya karena harus menjalani pendidikan di AAU. “Saya masuk taruna dan harus meninggalkan orang tua dan empat adik saya,” ujarnya lagi.
Meski sempat menjadi Komandan Resimen Korps Taruna yang cukup bergengsi saat menjadi taruna AAU, Hadi mengatakan bahwa dirinya bukanlah siapa-siapa.
Apalagi dengan menjadi penerbang pesawat Casa NC-212, Hadi tetaplah penerbang TNI AU yang tidak dikenal.
“Saya jadi penerbang namun juga bukan penerbang elite, sehigga saya tidak dikenal dan banyak dianggap tidak ada apa-apanya,” ungkap Hadi di hadapan semua mahasiswa peserta Kongres.
Sampai kemudian dipercaya menjadi Kepala Dinas Penerangan TNI AU (Kadispenau), Hadi mulai mendapatkan kesempatan untuk membuktikan dirinya.
“Saya mulai dikenal dan sedikit berprestasi karena bisa menjelaskan peristiwa jatuhnya pesawat Air Asia yang membuat masyarakat paham,” kenang Hadi.
Dalam babak berikutnya, Hadi pun dipercaya Presiden Joko Widodo untuk menjadi orang nomor satu di TNI AU, yaitu KSAU. Dan sekarang Panglima TNI.
“Saya orang yang paling bawah, di angkatan pun saya dianggap sudah selesai, bukan penerbang elite, tapi di dalam hati saya terus membangun optimisme dan semangat untuk meraih yang terbaik,” kata Hadi.
“Sekarang saya terkenal,” kata Hadi sambil senyum.
Kepada seluruh mahasiswa peserta Mahasabha XI KMHDI, Panglima TNI berpesan untuk bijak menggunakan internet dan sosial media.
Karena selain memberikan kemudahan dalam kehidupan, kemajuan internet dan sosial media di sisi lain digunakan untuk menebar kebencian dan berita bohong.
Teks: beny adrian