MYLESAT.COM – Belum sebulan sejak kedatangannya di Lanud Halim Perdanakusuma pada 3 November 2025, pesawat angkut Airbus A400M Atlas A-4001 Skadron Udara 31 sudah langsung turun gunung. Bencana berturut-turut di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatara Barat memaksa Sang Atlas harus berdinas meski masih dalam masa inreyen (running-in).
Seperti diberitakan pada 28 November 2025, A-4001 melaksanakan misi pengiriman bantuan kemanusiaan menuju Aceh dengan bawaan total 15.586 kg. Bantuan disebutkan terdiri dari 10 koli perahu karet (LCR), 30 koli tenda, 250 koli mie instan serta 7.195 kg ransum.
Untuk diketahui, beban yang dibawa ini masih separuh dari kapasitas beban maksimal yang mampu dibawa Atlas yang mencapai 37 ton.
Setelah bencana alam melanda Aceh, Medan, dan Padang, TNI AU gerak cepat menyiapkan setidaknya empat pesawat angkut dan helikopter untuk mempercepat pengiriman bantuan ke tiga provinsi yang dilanda bencana alam.
Empat pesawat angkut telah diberangkatkan pada 28 November yang terdiri dari satu unit A400M, dua C-130J Super Hercules, satu C-130H Hercules dan helikopter H225M Caracal.
Sekretaris Kabinet (Seskab) Teddy Indra Wijaya menjelaskan bahwa pengiriman bantuan merupakan instruksi langsung Presiden RI Prabowo Subianto. “Pagi ini sekitar pukul 07.30 diberangkatkan empat pesawat atas instruksi langsung Bapak Presiden,” ujar Seskab.
Sehari sebelumnya, pesawat C-130J dari Skadron Udara 31 juga dikerahkan untuk mengangkut material tower darurat dari Lanud Halim Perdanakusuma menuju Lanud Sultan Iskandar Muda. Pengiriman ini menjadi bagian dari percepatan pemulihan jaringan listrik pascabanjir Aceh yang dilaksanakan TNI AU bersama PT PLN (Persero).
Keputusan Pemerintah dalam hal ini TNI AU untuk melibatkan A400M Atlas A-4001 dalam misi kemanusiaan ini patut dipuji. Pasalnya, sejatinya saat ini setelah kedatangannya, A400M masih dalam proses adaptasi sistem dan serangkaian pelatihan di dalam negeri. Baik ground crew maupun cockpit crew.
Seperti diberitakan sebelumnya, keempat penerbang yang menjalani latihan di Spanyol, mendapatkan tahap pelatihan (Type Rating Course) yang meliputi CBT (Computer-Based Training), FTD (Flight Training Devices), dan FFS (Full Flight Simulator). Sesuai kontrak, dilanjutkan dengan program pelatihan terbang di dalam negeri (In Country Training) di Halim training area selama sekitar satu bulan.
Menurut informasi yang mylesat.com peroleh, saat ini sedang berlangsung In Country Training yang berlangsung selama 30 hari. Pelatihan ini baru dimulai sejak sekitar 17 November 2025. Namun sehari sebelumnya, A400M terlihat melaksanakan special flight untuk mendukung kunjungan kerja Menteri Pertahanan RI Sjafrie Sjamsoeddin ke Aceh.
Biasanya tahapan yang harus dilalui pesawat militer sebelum dinyatakan FOC (Full Operational Capability), adalah melewati tahap IOC (Initial Operational Capability), Production Ramp-up & Full System Integration, Full Operational Test & Evaluation (FOT&E), dan akhirnya oleh otoritas di TNI AU akan menyatakan bahwa pesawat sudah dalam status FOC.
Karena statusnya yang masih dalam tahap pelatihan, tidak heran jika pesawat masih diterbangkan oleh test pilot yang membawa Atlas dari Spanyol ke Indonesia bersama penerbang TNI AU. Apa yang dilakukan A400M saat ini bisa dimasukkan ke dalam tahap Initial Operation Experience atau kadang disamakan dengan Initial Operational Test & Evaluation (IOT&E).
Artinya, tahap uji operasi awal di mana pesawat digunakan untuk misi ‘nyata terbatas’ guna melihat performanya dalam kondisi operasional sesungguhnya. Kebetulan sekali saat ini sedang terjadi bencana alam di tanah air. Sikap bijak TNI AU patut diapresiasi.
Tentu keputusan yang diambil Pemerintah untuk melibatkan A400M yang masih kinyis-kinyis dan inreyen, setelah mempertimbangkan berbagai aspek khususnya keselamatan penerbangan yang menjadi prioritas utama.
Masih dalam suasana selebrasi usai kedatangannya, A400M sudah harus menunjukkan ketangguhannya dalam melaksanakan misi kemanusiaan.
Daya angkut yang besar serta jarak terbang yang mencapai 8.700 km (jarak terbang Jakarta – Aceh hanya 1.800 km), menjadikannya jawaban tak terbantahkan dalam misi kemanusiaan yang membutuhkan kecepatan tiba dan banyaknya jumlah bantuan.
Selamat bertugas A400M Atlas, Sang Pemikul Langit.