Malaysia Bangkit, Ini Daftar Akusisi Senjata yang Diungkap Saat Defence Services Asia Exhibition 2022

0

MYLESAT.COM – Pekan lalu dilaksanakan pameran pertahanan Defence Services Asia Exhibition and National Security Conference Asia 2022 di Kuala Lumpur, Malaysia selama tiga hari. Menteri Pertahanan Republik Indonesia Prabowo Subianto turut hadir pada Senin (28/3/2022). Pameran ini mencatat munculnya realisme dan semangat baru militer Malaysia untuk memborong alutsista terbaru.

Sejumlah media mencatat fokus utama program pengadaan pertahanan Malaysia yang mulai menggeliat. Sebelumnya ambisius namun kekurangan dana. Sekarang ada tanda-tanda realisme baru.

Kementerian Pertahanan Malaysia mencatat total 54 penandatanganan senilai RM4,6 miliar selama Defense Services Asia (DSA) 2022 dan National Security (Natsec) Asia 2022.

Menteri Pertahanan Senior Datuk Seri Hishammuddin Hussein mengatakan, hal itu terdiri dari upacara penandatanganan dokumen kontrak, Memoranda of Understanding (MoU), penyerahan Letter of Acceptance (LOA) dan Letters of Intent (LOI).

“Total 20 LOA senilai RM1,14 miliar, 24 kontrak (RM3,32 miliar), tujuh LOI (RM152,79 juta dan tiga MoU (tercatat),” katanya dalam konferensi pers pada 30 Maret 2022. Hishammuddin juga menyinggung pengadaan aset baru yang sedang berlangsung untuk Angkatan Bersenjata Malaysia.

Sejumlah catatan diterima media sebagai berikut.

Menteri Pertahanan Senior Datuk Seri Hishammuddin Hussein. Foto: Bernama

Hishammuddin mencatat bahwa pengadaan untuk Angkatan Udara Malaysia (RMAF) yang saat ini sedang berlangsung, adalah 36 Fighter Lead-In Trainer/Light Combat Aircraft (FLIT-LCA) baru yang akan diperoleh dalam dua fase masing-masing 18 pesawat. Jadi total 36 pesawat.

Proposal mantap sebagai persyaratan yang diminta untuk LCA yang juga dapat berfungsi sebagai FLIT itu diterima Oktober 2021.

“Ini akan menggantikan MiG-29N/UB yang telah berhenti beroperasi pada 2017, BAe Hawk yang akan bertugas selama 32 tahun pada 2026, dan Aermacchi (MB-339CM) yang juga akan beroperasi selama 22 tahun pada 2030,” katanya.

Menteri Senior ini mengatakan ada rencana pengadaan tiga radar pertahanan udara jarak jauh (LORAD), radar pertahanan udara jarak menengah (MERAD), Unmanned Aerial Surveillance (UAS); Medium Altitude Long Endurance Unmanned Aerial Surveillance (MALE-UAS), dan Maritime Patrol Aircrafts (MPA).

Dengan keuangan pemerintah yang tertekan karena pandemi Covid, evaluasi jadi melambat. Namun Kementerian Pertahanan Malaysia kini telah menentukan pilihannya, dan meneruskannya ke Kementerian Keuangan.

Untuk merebut program ini, penantang utama tampaknya adalah T/FA-50 Golden Eagle dari Korea, yang sudah dipesan Indonesia dan Filipina. Kandidat lainnya HAL Tejas India, Leonardo M346, JF-17 Pakistan-China, dan Hurjet dari Turki.

Pesawat terakhir dari Turki yang belum terbang, sepertinya pilihan tidak mungkin. Namun Turkish Aerospace (TA) telah membuat proposal yang kuat untuk partisipasi di Malaysia, termasuk produksi Hurjet keempat dan seterusnya.

Di DSA, presiden dan CEO TA, Temel Kotil mengatakan bahwa tipe itu “hampir siap terbang”. Oktober lalu, TA membuka fasilitas avionik di dekat Kuala Lumpur yang sedang diperluas menjadi 100 personel. Temel juga menguraikan rencana membangun helikopter multi-peran bermesin kembar T625 baru di Malaysia.

Dia mengatakan bahwa kedua skema itu tidak bergantung pada Hurjet yang memenangkan kompetisi LCA/FLIT. Mungkin karena Temel lebih percaya diri untuk memenangkan kompetisi RMAF lain yang sedang berlangsung, yaitu untuk sistem tak berawak medium-altitude long-endurance (MALE).

TA sudah menandatangani perjanjian kemitraan dengan perusahaan pertahanan Malaysia DEFTECH.

Kemampuan pesawat tempur kelas atas RMAF saat ini adalah satu skadron yang terdiri dari 18 jet tempur Sukhoi Su-30MKI, dan delapan Boeing F/A-18D Hornet. Tepat sebelum DSA, CEO Aerospace Technology Systems Corporation (ATSC), yaitu perusahaan yang mendukung Sukhoi di Malaysia menyatakan keyakinannya bahwa pesawat dapat terus terbang meskipun ada sanksi yang dijatuhkan pada Rusia setelah menginvasi Ukraina.

ATSC adalah perusahaan patungan pemerintah Malaysia (70 persen) dan Rosoboronexport (30 persen).

Setelah masalah dukungan sebelumnya yang mengandangkan sebagian besar armada pesawatnya, program perombakan 10 tahun yang dijadwalkan tampaknya berjalan lancar. Baik Kemenhan Malaysia maupun ATSC mengatakan, Malaysia memiliki dua tahun suku cadang, dan juga dapat memanfaatkan China dan India untuk mendapatkan dukungan.

Namun demikian, kekhawatiran terhadap Sukhoi tampaknya mengarahkan Malaysia untuk melirik 33 armada F/A-18C/D Angkatan Udara Kuwait. Angkatan Udara Malaysia mungkin akan memborong sekitar selusin. Kuwait sedang menunggu pengiriman 28 F/A-18E/F Super Hornet sebelum melepaskan model C/D.

Perdana Menteri Malaysia Ismail Sabri diperkirakan akan membahas masalah ini saat mengunjungi Kuwait dalam waktu dekat. Sementara itu setelah dilaporkan bahwa Boeing Defence Australia akan overhaul delapan Hornet Malaysia. Pekerjaan ini tampaknya sedang diselesaikan di Butterworth oleh Ruag Aerospace, yang merombak armada F-18 Swiss.

Kemhan Malaysia juga sedang mengevaluasi tender untuk tiga pesawat patroli maritim (MPA). Untuk negara yang dikelilingi perairan dengan potensi pencurian ikan dan pembajakan ilegal, belum lagi ekspansi agresif China ke Laut China Selatan, Malaysia memiliki aset udara yang sedikit untuk menghadapinya.

AU Malaysia memiliki tiga Beechcraft 200T King Air, namun sebaliknya hanya dapat menugaskan pesawat transpor A400M Atlas, C-130 Hercules dan CN235 dengan kemampuan visual saja. Tiga CN235 Malaysia menjalani program modifikasi menjadi pesawat intai maritim di PTDI di Indonesia.

Di bawah Maritime Security Initiative (MSI), tiga pesawat CN235-220M dalam proses upgrade untuk memenuhi peran Maritime Surveillance Aircrafts (MSA) yang akan mampu melakukan tugas Intelligence, Surveillance and Reconnaissance (ISR).

Program ini didanai pemerintah AS menggunakan program pengembangan kapasitas militer yang sejauh ini telah menyediakan lebih dari 200 juta dollar AS dalam pendanaan ke Malaysia. Termasuk 18 UAV Insitu Scan Eagle untuk Angkatan Laut Malaysia (RMN).

Sumber informasi yang dekat dengan negosiasi juga mengatakan kepada media bahwa Leonardo ATR72MP disukai untuk MPA, tetapi Malaysia meminta harga diturunkan.

Di DSA, Johan Pelissier, kepala Asia-Pasifik untuk Airbus Defence & Space, mengatakan bahwa C295MPA akan ideal untuk Malaysia. Airbus menggunakan pameran ini untuk menandai pencapaian jam terbang untuk tiga produk yang sudah beroperasi di Malaysia.

Yaitu pesawat A400M (10.000 jam), helikopter ringan AS355 (20.000 jam), dan helikopter utilitas menengah H225M (juga 20.000 jam).

Faktanya, 12 helikopter H225M (EC725) kini telah melampaui 25.000 jam. Penggunaan yang dipercepat sebagian disebabkan Malaysia menarik 27 helikopter angkut menengah S-61 Nuri pada 2019, tanpa penggantian.

Menurut Hishammuddin, saat ini Malaysia menyewa empat helikopter AW139 sebagai langkah jangka pendek untuk mengisi kekosongan setelah helikopter Nuri dinonaktifkan.

“Rencana sudah ada untuk pengadaan 24 helikopter baru mengatasi penonaktifan Nuri mulai 2026 dan seterusnya dengan 12 helikopter yang akan diakuisisi di Fase 1 (Rencana Malaysia ke-13 dari 2026-2030), dan 12 helikopter lagi yang akan diakuisisi di Fase 2 (14 MP 2031-2035),” katanya.

Empat AW139 yang lebih kecil telah disewa dari operator lokal sebagai stop-gap, sementara pengganti yang tepat untuk Nuri tidak akan datang dalam waktu dekat. Pada kesempatan itu, Menteri Pertahanan Senior Dato Seri Hishammuddin mengumumkan bahwa AU Malaysia berencana mengakuisisi 12 helikopter baru dari 2026-30, dan 12 lagi dari tahun 2031-35.

Sementara itu tiga AW139 baru akan dikirim ke Angkatan Laut Malaysia. Adapun Angkatan Darat baru saja menerima enam MD Helicopter MD 530G bersenjata yang tertunda karena berbagai alasan.

Selain Turkish Aerospace Anka MALE, ruang pertunjukan pameran dipenuhi UAV lebih kecil, baik yang sudah operasional maupun dalam status diproyeksikan. Bahkan ada dua dari Azerbaijan.

Sayangnya, UAV yang menjadi berita utama baru-baru ini tidak dipajang. Bayraktar TB2 yang berhasil digunakan Ukraina untuk memantau dan menyerang pasukan invasi Rusia dan juga dari Turki, tidak terlihat.

Namun sistem lain yang sekarang digunakan dalam konflik itu dipajang. Thales menunjukkan model rudal Starstreak. Ribuan rudal ini diberikan ke Ukraina oleh Inggris dari stok Angkatan Darat Inggris. Rudal diluncurkan dari bahu atau ditembakkan dari Lightweight Multiple Launcher (LML) portabel.

Pengunjung dapat melihat versi peluncur yang dipasang di kendaraan Angkatan Darat Malaysia di stand Westar, mitra lokal Thales. Perwira Angkatan Darat Malaysia mengatakan senang dengan rudal ini, yang mampu terbang dengan kecepatan hingga Mach 3 dan menggunakan panduan beam-riding yang sulit untuk dilawan.

APC untuk AD 

“Untuk Angkatan Darat, asetnya adalah Armored Personnel Carrier (APC) yang akan dioperasikan MALBATT 850 di Lebanon; Howitzer Self-Propelled 155mm, Jembatan Pendukung Logistik untuk Mekanik Angkatan Darat; truk Kargo GS 3 ton untuk mobilitas dan logistik; dan Light Anti-Tank Weapon untuk Pasukan Khusus,” ujarnya.

Sementara Angkatan Laut adalah tiga helikopter utilitas AW 139 buatan Italia.

Batch kedua dari tiga Littoral Mission Ships (LMS) yang akan dilengkapi dengan sistem senjata lebih canggih untuk melengkapi empat LMS yang ada, juga direncanakan tahun depan, dengan persetujuan dari Economic Planning Unit (EPU). Selain itu, 13 Fast Interceptor Crafts (FIC) juga sedang dalam proses pengadaan,” tambahnya.

Hishammuddin menekankan bahwa terlepas dari dampak ekonomi dari pandemi dan bekerja dalam anggaran yang dialokasikan untuk Kemenhan dan Angkatan Bersenjata, baik kementerian dan militer berkomitmen untuk bahu membahu guna memastikan kesiapan pertahanan dan keamanan negara tetap pada tingkat yang optimal.

Share.

About Author

Being a journalist since 1996 specifically in the field of aviation and military

Leave A Reply