MYLESAT.COM – Australia telah bergerak selangkah lebih dekat ke arah pembaruan besar-besaran kemampuan angkut udara strategis. Baru lalu, Departemen Luar Negeri AS memberikan sinyal positif kemungkinan penjualan dua lusin C-130J Super Hercules senilai 6,35 miliar dolar AS.
Baca Juga:
- Kepada Lockheed Martin, KSAU Juga Tekankan Jaminan Suku Cadang untuk C-130J Super Hercules
- Pengalaman Marsekal TNI Fadjar Prasetyo On Board C-130J RAAF, Pesawat Taxi Mundur Hampir 1 Kilometer
- Dari Kokpit C-130J RAAF, KSAU Bongkar Kecanggihan Super Hercules yang Segera Diterima TNI AU
Departemen Luar Negeri AS pada hari Rabu (2/11/2022) menyetujui kemungkinan penjualan militer asing (FMS) dari 24 pesawat Super Hercules ke Australia. Pernyataan tersebut dikutip dari Badan Kerjasama Keamanan Pertahanan (Defense Security Cooperation Agency).
“Angkatan Udara Australia (RAAF) dengan penggantian armada kargo yang menua, menjamin kemampuan angkutan udara yang andal, dan memungkinkan RAAF untuk meningkatkan kemampuan operasional secara keseluruhan,” menurut DSCA mengenai kesepakatan yang diusulkan.
Selain itu, pemberitahuan ini mengatakan bahwa kontraktor utama adalah Lockheed Martin Corporation. Tidak ada kesepakatan offset yang diusulkan sehubungan dengan potensi penjualan ini.
C-130J adalah tambahan terbaru untuk armada C-130 dan telah menggantikan C-130E yang sudah tua dan beberapa C-130H yang sudah lama.
C-130J menggabungkan teknologi tercanggih, yang mengurangi kebutuhan personel, menurunkan biaya operasi dan dukungan, dan memberikan penghematan biaya siklus hidup dibanding model C-130 sebelumnya.
C-130J-30 adalah versi yang dipanjangkan, menambahkan 15 kaki ke badan pesawat hingga bisa meningkatkan ruang yang dapat digunakan di kompartemen kargo. Tipe sejenis direncanakan akan mulai diterima TNI AU pada Februari 2023.
Armada 12 C-130J Hercules Australia dioperasikan di RAAF Base Richmond oleh Skadron No. 37. Pesawat dikirim antara 1999 dan 2001.