Pilatus PC-24: Jet Serbaguna yang Membawa Kemampuan Baru Bagi TNI Angkatan Udara

0

MYLESAT.COM – Ketika sebuah angkatan udara memilih pesawat baru, pertimbangannya tidak semata-mata mengenai kecepatan atau jarak jelajah. Ada kebutuhan yang jauh lebih mendasar, yaitu seberapa fleksibel pesawat digunakan, seberapa mudah dioperasikan dan dipelihara, serta seberapa mampu menjalankan berbagai misi di wilayah yang memiliki karakter geografis dan operasional yang beragam seperti Indonesia.

Dalam konteks itulah pilihan TNI Angkatan Udara terhadap Pilatus PC-24 menjadi menarik. Pada 30 Maret 2026, Kementerian Pertahanan Republik Indonesia menandatangani kontrak pengadaan 12 unit PC-24 untuk mendukung pelatihan penerbang transpor TNI AU, tugas angkutan udara, dan misi liaison.

Paket pengadaan juga mencakup peralatan pendukung di darat, tools, suku cadang, pelatihan, serta dukungan teknis dari Pilatus di Stans, Swiss.

Pilihan tersebut membawa TNI AU memasuki sebuah kemampuan yang berbeda. PC-24 bukan sekadar business jet yang dipindahkan ke lingkungan militer. Sejak awal kelahirannya, pesawat ini dirancang dengan filosofi “Super Versatile Jet”—sebuah jet yang berusaha menggabungkan kecepatan dan kenyamanan jet dengan fleksibilitas operasional yang selama ini lebih identik dengan pesawat turboprop.

PC-24 merupakan proyek pesawat jet pertama Pilatus. Pengembangannya secara resmi diumumkan pada 2013 setelah proses pengembangan yang berlangsung selama bertahun-tahun.

Prototipe pertamanya terbang pada 11 Mei 2015 dari Buochs, Swiss. Dalam program sertifikasinya, tiga prototipe menjalani pengujian ekstensif dengan total sekitar 2.205 jam terbang, termasuk pengujian pada kondisi icing, temperatur tinggi, ketinggian dan kecepatan ekstrem, bird strike, uji struktur, kebisingan, dan berbagai fungsi sistem.

Pada 7 Desember 2017, PC-24 memperoleh sertifikasi tipe dari EASA dan FAA. Pesawat produksi pertama kemudian diserahkan kepada pelanggan pada awal 2018. Dengan demikian, PC-24 memasuki pasar bukan sebagai konsep eksperimental, melainkan sebagai pesawat yang telah melewati proses sertifikasi internasional yang ketat.

Sejak awal, Pilatus tidak ingin membuat sekadar jet bisnis konvensional. PC-24 dirancang untuk dapat melakukan berbagai pekerjaan. Sebagai transportasi penumpang, angkutan ringan, medevac, pemerintahan, special mission, hingga operasi dari landasan yang tidak selalu identik dengan bandara besar.

Itulah sebabnya nama Super Versatile Jet bukan sekadar slogan pemasaran. Fleksibilitas memang menjadi inti desainnya.

Kekuatan PC-24

Salah satu keunggulan PC-24 adalah kemampuannya beroperasi dari runway yang relatif pendek dan bahkan landasan tidak beraspal yang telah disetujui untuk operasi pesawat ini.

Pada konfigurasi dan kondisi tertentu, PC-24 memiliki jarak lepas landas sekitar 941 meter pada MTOW untuk model terbaru, sementara kemampuan operasi dari permukaan tidak beraspal merupakan salah satu karakteristik yang membedakannya dari banyak business jet konvensional. Karakter tersebut sangat relevan bagi negara seperti Indonesia.

Indonesia bukan hanya negara kepulauan, tetapi juga negara dengan ribuan pulau, bentang geografis luas, serta banyak lapangan terbang yang tidak mempunyai fasilitas dan panjang landasan seperti bandara utama.

Dalam konteks demikian, kemampuan sebuah jet untuk tidak terlalu bergantung pada bandara besar dapat berubah menjadi keunggulan operasional.

PC-24 juga memiliki pintu kargo standar dan kabin dengan lantai relatif datar yang memudahkan konfigurasi untuk berbagai kebutuhan. Pesawat ini dapat dikonfigurasi untuk membawa penumpang maupun muatan tertentu, sementara kabinnya dapat disesuaikan untuk misi khusus. Pilatus menyebut kapasitas maksimum hingga 10 penumpang, tergantung konfigurasi.

Pada generasi PC-24 terbaru, kemampuan payload-range juga ditingkatkan. Dengan enam penumpang, jarak jelajah maksimum mencapai sekitar 2.000 nautical miles atau 3.704 kilometer, sedangkan kapasitas muatan maksimum pada penerbangan jarak lebih pendek mencapai sekitar 1.406 kilogram.

Kecepatan maksimumnya mencapai sekitar 440 KTAS. Dengan kombinasi kecepatan, jarak jelajah, kapasitas muatan, dan kemampuan menggunakan landasan yang lebih pendek, PC-24 berada di sebuah ceruk yang menarik: lebih cepat daripada turboprop angkut ringan, tetapi lebih fleksibel dibandingkan banyak jet bisnis konvensional.

Kekuatan PC-24 tidak hanya terlihat dari spesifikasi di atas kertas. Salah satu bukti paling menarik datang dari dunia aeromedical.

Royal Flying Doctor Service (RFDS) Australia merupakan salah satu operator penting PC-24. Pengalaman RFDS menunjukkan bagaimana pesawat digunakan untuk menjangkau wilayah yang sangat luas dan kondisi operasi yang menantang. Bahkan sebelum PC-24, Pilatus telah memiliki hubungan panjang dengan organisasi tersebut melalui pengoperasian PC-12.

PC-24 kemudian membawa kemampuan itu ke tingkat yang berbeda. Kecepatan jet dengan fleksibilitas operasional. Pilot RFDS bahkan menyebut kedatangan PC-24 sebagai game changer karena kombinasi kecepatan, jarak, serta kemudahan pemuatan pasien dapat mengurangi waktu misi.

Pengalaman serupa juga terlihat pada New South Wales Ambulance. Organisasi ini memilih PC-24 untuk layanan aeromedis di wilayah sekitar 800.000 kilometer persegi, dengan proyeksi sekitar 800 penerbangan dan 6.500 pasien yang dipindahkan dalam tahun pertama operasi.

Sementara Svenskt Ambulansflyg di Swedia mengoperasikan PC-24 untuk layanan ambulans udara. Pesawat-pesawat tersebut harus mampu bekerja dalam kondisi geografis dan cuaca yang menuntut.

Penggunaan PC-24 oleh operator-operator seperti ini memberikan pelajaran penting. Keandalan pesawat bukan hanya dinilai dari bagaimana ia bekerja di lingkungan ideal, tetapi dari bagaimana berfungsi ketika misi membawa konsekuensi nyata bagi manusia.

Meskipun lahir sebagai jet sipil, PC-24 semakin menarik perhatian sektor pemerintahan dan militer. Qatar Emiri Air Force telah mengoperasikan PC-24 dalam lingkungan militer, termasuk untuk kebutuhan transportasi dan pelatihan.

Pada 2026, French Naval Aviation mulai menerima PC-24 dalam program Balbuzard. Pesawat tersebut digunakan untuk pelatihan dan kualifikasi IFR bagi penerbang Rafale M serta tugas liaison untuk staf Angkatan Laut Perancis. Ini menarik karena menunjukkan bahwa PC-24 dapat menjadi bagian dari ekosistem penerbangan militer berteknologi tinggi tanpa harus berperan sebagai pesawat tempur.

PC-24 memang relatif muda dibandingkan pesawat seperti C-130 atau King Air. Namun, perkembangan populasinya cukup cepat.

Pada awal 2021, ketika pesawat ke-100 diserahkan, seluruh armada PC-24 telah mencatat lebih dari 33.500 jam terbang aman dan telah hadir di semua benua. Pada 2025, Pilatus mengirimkan 50 PC-24 dalam satu tahun, menunjukkan bahwa program produksinya telah berkembang menjadi lini produksi yang mapan.

Pesawat kini digunakan oleh beragam kelompok operator. Mulai dari perusahaan, operator charter, organisasi pemerintah, layanan ambulans udara, organisasi kemanusiaan, serta militer. Keragaman pengguna tersebut menjadi salah satu indikator menarik mengenai fleksibilitas platform ini.

Bagi sebuah pesawat yang baru memasuki layanan sekitar 2018, perkembangan tersebut menunjukkan bahwa PC-24 telah bergerak melewati fase pembuktian konsep menuju platform yang memiliki basis pengguna internasional dan ekosistem dukungan yang semakin matang.

Menarik bagi TNI AU?

Pilihan Indonesia terhadap PC-24 dapat dibaca dari tiga kebutuhan utama: pelatihan, transportasi, dan liaison. Ketiganya secara resmi disebut sebagai tujuan pengadaan oleh Kementerian Pertahanan.

Pertama, untuk pelatihan penerbang transport. PC-24 adalah jet bermesin ganda yang telah disertifikasi untuk operasi single-pilot. Karakter ini membuka peluang untuk membangun pengalaman penerbang pada sistem jet transport modern, termasuk lingkungan IFR, prosedur multi-engine, avionik modern, serta pengelolaan penerbangan yang lebih kompleks.

Kedua, untuk transportasi. Dengan kecepatan sekitar 440 knot dan kemampuan membawa penumpang maupun muatan, PC-24 dapat mengisi kebutuhan transportasi cepat untuk kelompok kecil. PC-24 tidak menggantikan C-130 atau pesawat angkut besar. Justru keunggulannya terletak pada misi yang terlalu kecil untuk pesawat angkut besar tetapi membutuhkan kecepatan dan fleksibilitas jet.

Ketiga, untuk liaison. Dalam operasi militer modern, tidak semua misi membutuhkan pesawat besar. Ada kebutuhan untuk memindahkan komandan, staf, teknisi, instruktur, atau personel tertentu secara cepat antara pangkalan dan wilayah operasi. PC-24 sangat cocok mengisi ruang tersebut.

Ada satu aspek PC-24 yang sangat relevan dengan karakter geografis Indonesia. Kemampuan menghubungkan titik-titik yang tidak selalu dilayani secara ideal oleh pesawat jet bisnis biasa.

Bayangkan sebuah misi yang membutuhkan keberangkatan cepat dari pangkalan utama, membawa sejumlah kecil personel, menuju lapangan terbang yang lebih terbatas, kemudian kembali dalam waktu singkat.

Menggunakan pesawat angkut besar untuk misi seperti itu bisa menjadi kurang efisien. Sebaliknya, pesawat turboprop mungkin menawarkan fleksibilitas tetapi dengan waktu tempuh yang lebih panjang.

PC-24 berada di antara dua kebutuhan tersebut, menawarkan kecepatan jet tanpa kehilangan fleksibilitas yang menjadi karakter utama pesawat Pilatus. Bagi TNI AU, inilah nilai strategis yang paling menarik.

PC-24 bukan pesawat yang akan menggantikan Hercules. Bukan pula pengganti Falcon untuk penerbangan VIP jarak jauh. Kehadirannya mengisi ruang kemampuan di antara keduanya: cepat, relatif kecil, fleksibel, mampu membawa personel dan muatan, dan dapat digunakan untuk pelatihan maupun tugas liaison.

Pengadaan 12 PC-24 pada akhirnya bukan hanya tentang menambah 12 pesawat ke dalam daftar inventaris TNI AU. Di dalamnya terdapat kesempatan untuk membangun budaya operasi jet transport ringan yang modern, memperkuat kemampuan pelatihan penerbang, meningkatkan fleksibilitas angkutan personel, serta memperluas pilihan TNI AU dalam menjalankan misi-misi yang membutuhkan kecepatan dan ketepatan.

Terlebih lagi, kontrak tersebut mencakup pelatihan, suku cadang, peralatan pendukung, dan dukungan teknis dari Pilatus. Artinya, yang dibangun bukan hanya aircraft fleet, tetapi sebuah sistem kemampuan yang meliputi manusia, pesawat, peralatan, pelatihan, dan dukungan pemeliharaan.

Itulah alasan mengapa PC-24 layak dipandang bukan sekadar sebagai business jet yang masuk ke lingkungan militer, melainkan sebagai jet serbaguna yang berpotensi menjadi salah satu penghubung penting dalam jaringan transportasi udara TNI Angkatan Udara di masa depan.

TNI AU Siapkan Skadron Baru?

Dengan 12 unit pesawat  yang akan dioperasikan, besar kemungkinan kehadiran PC-24 akan menuntut kehadiran skadron udara baru di lingkungan TNI AU. Menurut Marsma TNI Ali Gusman, S.T., M.M., yang saat ini menjabat sebagai Komandan Lanud Halim Perdanakusuma, pesawat yang rencananya akan mulai dikirim tahun ini, terlebih dahulu akan ditempatkan di Skadron Udara 17 untuk menjalani fase transisi baik bagi pesawat maupun segenap kru.

Marsma TNI Ali Gusman, S.T., M.M.

Seperti memandu awak PC-24 untuk mengenal penerbangan VIP dan kompleksitas misi jarak jauh yang harus direncanakan karena akan melintasi sejumlah negara. Dalam penerbangan jarak jauh (long-haul flights), pilot tidak hanya dituntut memiliki keterampilan teknis menerbangkan pesawat, tetapi juga harus menguasai Regulasi ICAO dan memahami perbedaan kebiasaan prosedural (local practices) di setiap ruang udara negara yang dilintasi.

Sejarah mencatat bahwa Skadron Udara 17 memiliki catatan “mulia” sebagai satuan induk dari sejumlah pesawat baru yang kemudian memecah diri ke dalam satuan baru yang dibentuk. Terakhir, menerima kedatangan pesawat Dassault Falcon 8X sebelum dibentuknya Skadron Udara 18/ Spartan.

Kehadiran Falcon menjadi lompatan terjauh TNI AU dalam melaksanakan misi penerbangan jarak jauh nonstop dengan mampu terbang hampir 12 jam. Kemampuan itu dibuktikan dalam misi penerbangan Roma-Aceh pada tahun 2024 selama 11 jam 50 menit.

Menurut Marsma Ali Gusman, kedatangan pesawat Kepresidenan BBJ-2 (Boeing 737-800) yang memberikan lompatan jauh bagi TNI AU dalam melaksanakan misi penerbangan jarak jauh, saat ketibaannya tahun 2014 juga ‘disapih’ Skadron 17, meski akhirnya tetap dioperasikan oleh “Kereta Kencana”. Sebelum menjadi Skadron Udara 45, armada helikopter NAS-332 Super Puma juga merupakan aset Skadron 17.

Bisa jadi, kedatangan 12 unit pesawat Pilatus PC-24 akan melahirkan Skadron Udara 19. Namun rencana besarnya, TNI AU akan menyiapkan dua opsi pengoperasian bagi PC-24. Yaitu membaginya ke dalam dua skadron udara, yaitu skadron operasional dan skadron pendidikan sebagai pesawat latih lanjut transpor.

Satu hal yang saat ini masih terus berjalan dan disempurnakan TNI AU, adalah persoalan sumber daya manusia (SDM). Benar kata orang, beli pesawat relatif lebih mudah ketimbang menyiapkan SDM. Butuh waktu lama bagi seorang penerbang bisa duduk di kokpit sebagai pilot in command. Apalagi untuk PC-24, karena pesawat ini disertifikasi untuk single-pilot operation.

Seperti kita ketahui, TNI AU telah mengambil terobosan dengan merekrut puluhan penerbang jebolan sekolah penerbang sipil, dan saat ini sudah berada di skadron udara untuk melaksanakan transisi. Sementara penerbang lainnya yang berasal dari Sekbang TNI AU, sudah disiapkan untuk mengoperasikan PC-24.

Masih menurut Marsma Ali Gusman yang merupakan alumni AAU 96, Mabes TNI AU juga akan mengambil langkah solutif agar bisa segera mengoperasikan PC-24 pada saat kedatangannya. Salah satunya adalah mengoptimalkan para penerbang senior yang sudah tidak lagi berada di satuan operasional. Baik itu mantan komandan skadron maupun penerbang senior lainnya.

Soal optimalisasi penerbang, kita patut memberikan apresiasi kepada Kasau Marsekal TNI Tonny Harjono yang mengambil langkah progresif dengan menerbitkan perintah terbang kepada seluruh perwira penerbang yang dikoordinasikan oleh Komandan Grup masing-masing. Apakah itu Grup Tempur, Angkut, dan Heli. “Komandan Grup (marsekal pertama) pun sekarang harus terbang,” ungkap pemegang rating pesawat BBJ ini.

Jika rencana ini berjalan, operasional pesawat Pilatus PC-24 akan dimaksimalkan dengan memanfaatkan para penerbang senior. Baik itu di skadron pendidikan maupun skadron operasional. “Filosofi pesawat ini adalah private jet yang bisa diterbangkan (dengan mudah) oleh owner yang sudah memiliki rating dan jam,  seperti mobil lah ya, kita bisa membawa mobil apapun setelah mengenali sebentar sistem kendalinya,” jelas alumni SMA Taruna Nusantara ini. Ditambahkannya, saat melihat layout kokpit PC-24, ia mengaku mengagumi kesederhanaan panel yang ada di kokpit.

Lay out kokpitnya sederhana sekali dan sampai sekarang saya bahkan masih ingat, di atas ini hanya tiga saja yaitu baterai, lampu, dan starter engine 1 dan 2. Tiga saja di atas jadi tidak perlu dihapal. Begitu start, pesawat hidup dan semua sistem selanjutnya dikerjakan komputer. Kita tinggal monitor di layar, radar dan transponder nyala sendiri, kita hanya perlu input transponder dengan squake number-nya. Di samping layar ada tombol seperti ATM dengan pilihan seperti radio dan ILS, tinggal input dari keypad yang disiapkan. Jadi mudah sekali,” tuturnya mengagumi kesederhanaan pesawat PC-24.

Dengan kesederhanaan layout kokpit Pilatus PC-24, Marsma TNI Ali Gusman meyakini bahwa semua mantan komandan skadron angkut TNI AU bisa dengan mudah menerbangkan PC-24. Sehingga, menurutnya, tidak perlu kaderisasi yang lama untuk menjadikan pesawat bisa langsung operasional.

Share.

About Author

Being a journalist since 1996 specifically in the field of aviation and military

Leave A Reply