AS365 Dauphin, Helikopter Mewah yang Dioperasikan Basarnas

Sore ini kita dikagetkan dengan berita jatuhnya helikopter Basarnas. Dua orang diduga tewas dalam kecelakaan tersebut meski belum ada informasi resmi jumlah korban di helikopter. Selain itu, pun belum dipastikan jenis helikopter naas tersebut.

Basarnas saat ini mengoperasikan dua jenis helikopter canggih yaitu AS365 Dauphin dan AW139. Keduanya masih gres dioperasikan oleh Basarnas. Sejumlah informasi mengabarkan bahwa heli yang jatuh adalah AS365.

Di kalangan dunia penerbangan khususnya helikopter, Dauphin dikenal sebagai heli yang aman, mewah dan sudah pasti nyaman.

Ibarat mobil, Dauphin merupakan Mercedez-Benz atau BMW. Helikopter buatan Airbus ini menjadi salah satu helikopter favorit kaum jetset. Tahun 2014, EC155 sebagai salah satu anggota keluarga Dauphin masuk ke dalam 10 helikopter termahal di dunia.

Aerospatiale sebagai perancang Dauphin yang pertama memang mendesain helikopter ini salah satunya untuk kebutuhan korporasi, terutama mengangkut VIP.

Dalam perkembangannya, Dauphin justru banyak dilirik instansi pemerintahan atau militer untuk keperluan pengintaian kawasan perairan, operasional medical evacuation (Medevac) serta SAR (Search and Rescue). Tak kurang 200 operator di 60 negara telah menggunakan Dauphin.

Salah satu yang menjadikannya tulang punggung SAR adalah Badan SAR Nasional (Basarnas).

Tahun 2014 lalu, Basarnas mulai mengoperasikan dua unit AS365 varian N3+. Varian ini diklaim sebagai varian paling mutakhir. Kedua heli ditempatkan di Pangkalan Udara TNI AL Juanda, Surabaya.

Kualitas AS365 N3+ Basarnas teruji tatkala musibah AirAsia registrasi PK-AXC di kawasan perairan Karimata di penghujung 2014. Saat itu Basarnas mengerahkan Dauphin sebagai salah satu heli pencari dan pengevakuasi korban jatuhnya pesawat.

Alhasil, setidaknya belasan korban AirAsia berhasil ditemukan. Proses evakuasi korban cukup unik karena seluruh jenazah yang ditemukan kru Dauphin tidak langsung diangkat dengan hoist, melainkan diangkut speedboat untuk kemudian dievakuasi ke KRI Bung Tomo. Pertimbangannya, risiko menaikkan korban dengan hoist cukup besar lantaran ombak dan angin cukup kencang bisa merusak jenazah.

Puas dengan performa Dauphin, tahun 2015 lalu Basarnas kembali memesan dua unit Dauphin versi yang sama. Kali ini pemesanan dilakukan dengan skema transfer teknologi yang lebih baik ketimbang sebelumnya.

Basarnas dan Airbus Helicopter menggandeng PT Dirgantara Indonesia (PTDI). PTDI mendapatkan hak merakit heli pesanan Basarnas. Penandatanganan kerjasama antara PTDI dan Airbus dilaksanakan di tengah perhelatan Paris Airshow 2015.

Proses perakitan memakan waktu sekitar dua bulan. Perakitan fuselage dan baling-baling hanya memakan waktu sekitar satu hingga dua minggu. Sedangkan kelengkapan lain seperti hoist, pelampung, fasilitas tambahan, dan proses finishing memakan waktu sektiar satu bulan.

Secara kasat mata penampilan AS365 N3+ milik Basarnas tidak banyak berbeda dengan Dauphin lainnya. Namun, apa yang membedakan Dauphin versi N3+ ini dengan Dauphin versi lainnya?

Salah satu fasilitas tambahan yang diminta khusus Basarnas adalah pelampung khusus yang menempel di badan Dauphin. Pelampung ini akan berguna jika heli harus mendarat di atas air (ditching) dalam kondisi darurat.

Terdapat empat pelampung, dua di bagian depan dan dua lainnya di belakang yang bisa dikembangkan baik secara otomatis maupun manual. Untuk pengoperasian otomatis, pelampung akan mengembang begitu heli menyentuh air.

Secara fisik, AS365 N3+ Dauphin memiliki bobot kosong 4.300 kg. Kabin Dauphin mampu dijejali beban hingga 1.345 kg. Sedangkan jika menggunakan sling, mampu mengangkut 1.600 kg barang.

Fasilitas hoist telah dilengkapi tali sepanjang 90 m yang mampu mengangkut 272 kg beban dari sisi kanan kabin.

Dauphin Basarnas dilengkapi dua mesin turbin Full Authority Digital Engine Control (FADEC) Turbomeca Arriel 2C. Dengan mesin ini, Dauphin mampu melaju di wilayah perairan hingga 269 km per jam selama empat jam penuh. Dalam sekali terbang, helikopter ini mampu terbang sejauh 791 km.

Sistem terbang versi N3+ sudah digital penuh. Perbedaan dengan versi N3, seperti yang dioperasikan Polri adalah di versi N3+ sistem autopilot telah menggunakan 4 axis, sedangkan di versi N3 masih menggunakan 3 axis.

Untuk membawa penumpang, Dauphin mampu mengangkut hingga 12 orang. Sedangkan jika kursi di dalam kabin dilepas untuk kebutuhan evakuasi medis atau SAR, kabin bisa dijejali empat brankar dalam sekali terbang. “Empat tandu disusun atas bawah, kanan dua, kiri dua,” ujar Supriyanto, Manajer Produksi Helikopter PTDI.

Selain dilengkapi radar Forward Looking Infra Red (FLIR), helikopter Basarnas ini juga sudah dilengkapi Direction Finder yang mampu menangkap sinyal yang dipancarkan Emergency Locator Transmitter (ELT) dari sebuah pesawat.

Direction Finder pada Dauphin Basarnas merupakan hasil pengembangan dan riset tim PTDI.

Jika dua Dauphin sebelumnya dioperasikan Puspenerbal, maka dua helikopter Dauphin ini selanjutnya akan dioperasikan TNI AU dan ditempatkan di Pangkalan Udara Atang Sendjaja Bogor, Jawa Barat.

Sebelumnya, Lanud Atang Sendjaja juga dipasrahkan helikopter SAR Basarnas lainnya AW139.

Dauphin menjadi heli SAR favorit di dunia salah satunya karena getarannya cenderung lebih kecil dibanding helikopter lainnya. Kecilnya getaran ini bisa dicapai karena AS365 telah menggunakan baling-baling jenis fenestron di bagian buntutnya.

Getaran kecil akan mengurangi beban pilot saat menaikkan atau menurunkan korban dengan hoist. Apalagi saat melaksanakan evakuasi di laut.

 

Teks: remigius septian/ beny adrian

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: