Tanpa Pamrih Sampai Larut Malam, Komunitas Ini Buktikan Cintanya Kepada Indonesia

Setidaknya empat komunitas mengeroyok koleksi pesawat di Museum Pusat TNI AU Dirgantara Mandala, Yogyakarta  pada 22-24 April 2017 lalu.

Apa pasal ? Ternyata A-4E Skyhawk ber-tail number TT-0440 akan diubah penampilannya kembali dan pihak Museum membuka kesempatan bagi para komunitas ikut terlibat dalam kegiatan ini.

Seperti diketahui, keterlibatan komunitas di Museum yang menyimpan lebih dari 40 koleksi alutsista milik TNI AU ini sudah berlangsung cukup lama. Kegiatan rutin seperti “Merti Museum” sudah berlangsung secara periodik tanpa jeda. Hal seperti ini mendekatkan dan mendukung fungsi Museum sebagai sarana pendidikan ke masyarakat luas.

Meskipun berbeda pada ekspresi dan minat, pada dasarnya komunitas ini mempunyai ketertarikan yang sama, yaitu sejarah.

Skyhawk “digarap” para modellers sampai malam. Foto: Alex Sidharta

A-4E Skyhawk TT-0440 sudah menjadi koleksi museum sejak 2007. Pada awalnya dicat separuh doreng biru Skadron Udara 11 dengan tail number TT-0407 dan separuh doreng coklat Skadron Udara 12 dengan tail number aslinya.

Hal ini untuk mengingatkan bahwa A-4 Skyhawk pernah dipakai oleh kedua Skadron di tahun 1980-90an. Di awal tahun 2017 ini, pesawat ini sudah sempat dikembalikan ke warna “last flight” di tahun 2004, saat Mayor Pnb Singgih menerbangkan pesawat ini ke Yogyakarta bersama sebuah TA-4H TL-0416 yang sekarang menjadi monumen di AAU.

Karena keinginan untuk mengenang awal kedatangan Skyhawk di Indonesia, akhirnya di bulan April itu, cat “last flight” ini diminta untuk diubah kembali menjadi kamuflase awal doreng biru koral ala skadron 11, meskipun tidak ada catatan sejarah bahwa TT-0440 pernah diwarna kamuflase ini.

Meski komunitas berbeda bendera, namun mereka jadi satu tim yang kompak saat bekerja demi Indonesia. Foto: Theo Aji Baruno

Beberapa penggiat sejarah sebenarnya cukup menyayangkan, mengingat dasar sejarah untuk pewarnaan last flight untuk A-4 sebenarnya sangat kuat, karena memang peristiwanya sungguh-sungguh terjadi di Yogyakarta.

Hal ini sama seperti peristiwa penerbangan terakhir Hawk MK-53 TT-5309 ke Yogyakarta yang sekarang diletakkan di sebelah A-4E ini.

Dalam kegiatan ini, Kepala Museum Kolonel Sus. Drs. Taibur Rahman mengajak para komunitas, yang dikoordinasikan oleh Sinang Aribowo (penggiat model kit dan sejarah) untuk terlibat dan bekerja sama aktif dengan Bapak Wahyono dari Museum Dirla untuk mengerjakan pengecatan ini.

Sementara perencanaan warna, desain gambar, dan persiapan masking cat dipersiapkan dari Komunitas Model-kit Jogja dan ISMS (Indonesian Scale Modellers Society) yang juga membantu aktif saat restorasi A-4E TT-0438 di Musem Satria Mandala-Jakarta, MiG-21 di Kohanudnas dan F-5E di Jogja.

Komunitas penggemar model berskala ini memberi banyak sekali sumbangan visual evidence dari koleksi masing-masing anggota komunitas. Seperti dari Vincent Ariyono dan Datta Hitakaraka, kemudian disatukan, didiskusikan, digambar dan direkonstruksi ulang dalam bentuk gambar dan panduan kerja pelaksanaan oleh Akha Vardhana dan Sinang. Kemudian semua dicek ulang oleh rekan dari ISMS agar panduan kerja ini bisa sedekat mungkin dengan aslinya dulu.

Dengan dibantu juga oleh Komunitas Djogjakarta 1945 (D45) yang diketuai Eko Isdiarto dan Komunitas Motor Tua Mobta yang dikoordinasikan oleh Is Wahyudi, pengerjaan pengecatan dimulai Sabtu pagi, 22 April 2017, sampai lewat tengah malam Senin, 24 April 2017.

Belasan sukarelawan hadir silih berganti sesuai jadwal pribadi masing-masing untuk membantu membersihkan pesawat, menutup bagian kaca, memasang dan melepas masking lambang-lambang dan penanda kebangsaan serta membantu pekerjaan-pekerjaan lainnya.

Sementara pekerjaan aplikasi warna dan penentuan lokasi tanda-tanda (roundel dan marking) tetap dikerjakan di bawah arahan dan koordinasi pihak Museum dan Sinang Aribowo.

Meskipun lelah karena pengerjaan berlangsung hingga malam hari, bahkan di hari terakhir hingga dini hari, semua terobati dengan hasil yang maksimal dan diapresiasi banyak pihak.

Bahkan Kadispenau Marsma TNI Jemi Trisonjaya, M.Tr (Han) berkenan menjenguk dan memberi apresiasi kepada Staf Museum dan Komunitas yang masih sibuk bekerja sampai larut malam.

Komunitas yang berbeda-beda minat tetapi mempunyai satu kecintaan kepada sejarah, terbukti mampu dan mau bekerja sama ketika sebuah kegiatan yang menyangkut sejarah datang memanggil.

Hal ini menunjukkan bahwa kecintaan terhadap sejarah tidak cukup dinyatakan dalam mulut saja, namun perlu dan harus diwujudnyatakan pula dalam tindakan nyata.

 

Teks : alex sidharta

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: