Hari Bakti TNI AU ke 70, Bukti Warisan Pendahulu yang Terus Abadi

Tanggal 29 Juli terlalu istimewa bagi TNI Angkatan Udara jika tidak diupacarakan secara spesial. Jika dibanding hari jadi TNI AU setiap tanggal 9 April, sangat terasa perbedaannya bahwa tanggal 27 Juli memberikan nuansa dan drama emosional tersendiri bagi TNI AU.

Peristiwa yang melatarbelakangi kegiatan rutin ini sungguh mempunyai nilai luhur, tidak saja kepada TNI AU, akan tetapi juga Bangsa Indonesia. Semangat juang yang diwariskan oleh tokoh-tokoh pendiri, haruslah terus dipupuk dan melekat di batin setiap prajurit TNI AU.

Nah, tanggung jawab moral itulah yang dititipkan kepada seorang Kepala Staf Angkatan Udara untuk bisa menjaga, melestarikan, dan memastikan bahwa nilai-nilai itu tidak pernah luntur dari setiap batin prajurit TNI AU.

Tentu seorang KSAU tidak bisa menyampaikan warisan itu hanya lewat pidato, slogan atau sekadar wacana. Sudah menjadi tradisi di lingkungan TNI AU, bahwa KSAU lah yang langsung memimpin rangkaian kegiatan tersebut hingga mencapai puncaknya di tanggal 27 Juli setiap tahunnya.

KSAU Marsekal TNI Hadi Tjahjanto di depan monumen pesawat latih T-34C. Foto: beny adrian

Karena itu, secara maraton sejak minggu lalu, KSAU Marsekal TNI Hadi Tjahjanto sudah meninjau langsung rangkaian kegiatan dalam rangka menyambut Hari Bakti TNI AU ke 70 tahun ini. Seperti meninjau pelaksanaan bakti sosial di Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah.

Maka sehari sebelum memasuki hari H, 29 Juli 2017, KSAU memimpin ziarah ke Ngoto, tempat jatuhnya pesawat Dakota VT-CLA yang ditembak jatuh pesawat Belanda sebelum mendarat di Maguwo.

Dalam ziarah sore hari itu turut hadir sejumlah mantan KSAU seperti Rilo Pambudi, Hanafie Asnan, Joko Suyanto, Herman Prayitno, Subandrio, Imam Sufaat, Ida bagus Putu Dunia, dan Agus Supriatna.

Selain keluarga korban para perwira TNI AU yang gugur dalam peritiwa tersebut, KSAU juga mengundang keluarga pilot VT-CLA, Constantin yang warga negara Australia. Marsekal Hadi sengaja mengundang mereka hadir, tidak hanya untuk menjalin tali silaturahim, tapi juga untuk menunjukkan perhatian TNI AU kepada warga negara asing yang telah menjadi bagian dari sejarah perjuangan bangsa Indonesia.

Malam harinya, bertempat di Museum Pusat Dirgantara Mandala (Muspusdirla), digelar acara sambung rasa. Acara yang menyajikan pementasan teatrikal peristiwa 29 Juli itu, dihadiri oleh para purnawirawan TNI AU dan 34 perwira tinggi TNI AU yang akan melaksanakan upacara purnawira esok harinya.

Akhirnya pada 27 Juli 2017, pukul 05.00 Wib, KSAU Marsekal TNI Hadi Tjahjanto sudah hadir di apron Lanud Adi Sucipto, Yogyakarta untuk memimpin napak tilas serangan udara yang dilancarkan oleh tiga kadet AURI pada 27 Juli 1947.

Ketika itu tiga kadet AURI yaitu Sutardjo Sigit, Suharnoko Harbani, dan Mulyono, melancarkan serangan udara terhadap kedudukan Belanda di Salatiga, Ambarawa, dan Semarang menggunakan dua pesawat Curen dan satu pembom Guntai.

Napak tilas ini diawali dengan aksi teatrikal yang diperagakan oleh komunitas Yogyakarta 45. Sebuah replika pesawat  Curen diparkir ke apron Lanud. Ada yang memeragakan membersihkan pesawat, menyiapkan dan memeriksa pesawat, semacam preflight check. Kemudian Komodor Halim Perdanakusuma datang untuk mengecek kesiapan para kadet yang akan melancarkan serangan.

KSAU bersama komunitas Yogyakarta 45, di depan Curen. Foto: beny adrian

Setelah briefing singkat, mereka pun “terbang” menuju sasaran. Rekonstruksi selanjutya dilakukan dengan menerbangkan 3 pesawat KT-1B Wongbee.

Usai memimpin upacara, KSAU langsung mendatangi komunitas Yogyakarta 45. Suasana cair pun mengalir lewat dialog santai yang berlangsung antara Hadi dengan anak-anak komunitas.

“Luar biasa, terima kasih ya sudah membantu kegiatan ini,” ujar KSAU kepada komunitas yang dilanjutkan foto bersama.

Setelah beristirahat sejenak di tempat peristirahatan, KSAU kembali melanjutkan kegiatan dengan memimpin puncak upacara Hari Bakti TNI AU di Lapangan Dirgantara, komplek Akademi Angkatan Udara, Lanud Adi Sucipto, Yogyakarta. Upacara dimulai pukul 08.00 hingga berakhir pukul 09.30.

Menjelang pukul 11.00 Wib, acara berikutnya sudah menunggu untuk dipimpin KSAU. Yaitu wisuda purnawira perwira tinggi TNI AU yang tahun ini memasuki masa pensiun.

Dalam upacara yang dilaksanakan di Gedung Sabang Merauke (GSM) di dalam komplek AAU ini, KSAU melepas pengabdian sebanyak 34 perwira tinggi TNI AU. Termasuk di antaranya Marsekal Agus Supriatna (mantan KSAU), Marsdya FHB Sulistyo (mantan Kabasarnas), Marsda Bambang Samudro (mantan Aspers Panglima TNI), dan Marsda Adrian Wattimena (mantan Dankorpaskhas).

Dalam upacara pelepasan yang sangat syahdu ini, KSAU memberikan sejumlah kenang-kenangan kepada para perwira tinggi.

Selanjutnya, ke-34 perwira tinggi dilepas secara resmi dalam sebuah upacara parade pelepasan (passing out parade) di Gedung Handrawina, AAU. Inilah akhir perjalanan seorang perwira tinggi TNI AU sebelum akhirnya menjadi warga sipil.

Berakhirlah sudah rangkaian panjang kegiatan Hari Bakti TNI AU ke 70 tahun 2017. Tentu ketiga penerbang pelaku penyerangan 29 Juli 1947, bangga melihat para penerusnya di TNI AU, yang selalu mengenang dan mewarisi nilai-nilai perjuangan yang mereka tunjukkan.

 

Teks: beny adrian

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: