Besar Jasanya, TNI AU Akan Muliakan Monumen Cureng Sebagai Bukti Perjuangan

Mencintai dan mendalami sejarah khususnya sejarah TNI AU, adalah salah satu kelebihan yang dimiliki KSAU Marsekal TNI Hadi Tjahjanto. Kegemarannya terhadap sejarah terungkap jelas dalam setiap kali pidato, ceramah, dan obrolan santainya di berbagai kesempatan.

Hadi bisa dengan lancar “mendongengkan” sejarah awal berdirinya TNI AU (dulu AURI), kisah-kisah operasi di masa awal berdirinya AURI, dan detail-detail lainnya terkait sejarah TNI AU. “Itulah kelebihannya KSAU yang mantan Kadispen,” kata Hadi tertawa.

KSAU membuka selubung pesawat T-34C. Foto: beny adrian

Saat masih menjadi Kepala Dinas Penerangan (Kadispen) TNI AU, Hadi memang punya keinginan besar untuk merestorasi monumen pesawat TNI AU yang selama ini berdiri gagah di sejumlah lokasi di tanah air.

Tidak hanya memperbaiki, Hadi juga punya ambisi menambah jumlah monumen yang ada dengan pesawat-pesawat yang pernah menjadi kebanggaan TNI AU. Ketika itu sambil becanda Hadi mengatakan, “Nanti kalau saya jadi KSAU, akan saya wujudkan,” ujarnya.

Doanya dikabulkan Tuhan, dan Hadi pun dipercaya Presiden Joko Widodo menjadi KSAU dengan dilantik pada 18 Januari 2017 di Istana Negara.

Gerak cepat, Hadi pun membuktikan ucapannya sekitar dua tahun sebelumnya.

Proyek pendirian monumen pesawat A-4 Skyhawk di Museum Pusat Sejarah TNI Satria Mandala, Jakarta, adalah bukti pertama janji Hadi.

Persisnya Selasa, 13 Maret 2017, Hadi Tjahjanto meresmikan monumen pesawat A-4 Skyhawk TT-0438 di Museum Pusat Sejarah TNI Satria Mandala.

Pesawat Cureng “ditelanjangi” oleh tim Skatek 043. Foto: beny adrian

Menurut Hadi, monumen ini akan menjadi bukti sejarah pengabdian terbaik para pengawak pesawat A-4 kepada Bangsa Indonesia.

“Dengan diresmikannya monumen ini, akan dapat mengisahkan peran dan kiprah perjuangan para penerbang A-4 Skyhawk di Indonesia. Monumen ini akan menjadi bukti sejarah pengabdian A-4 Skyhawk dan Thunder Family kepada bangsa dan negara yang tak pernah lekang oleh waktu,” tutur KSAU dalam sambutannya saat itu.

Tidak melenggang sendiri dengan program restorasi ini, Hadi juga memerintahkan kepada seluruh komandan satuan di jajaran TNI AU untuk memberikan perhatian kepada simbol-simbol yang merepresentasikan kehebatan TNI AU pada masanya. Baik dalam bentuk monumen atau apa pun yang bisa dijadikan bukti bagi generasi penerus.

Proyek berikutnya terus mengalir. Di antaranya pendirian monumen pesawat F-5E/F Tiger II di Museum Pusat Dirgantara Mandala (Muspusdirla) Yogyakarta serta pendirian monumen baru A-4 dan F-5 di Akademi Angkatan Udara (AAU), Yogyakarta.

Terakhir pada 28 Juli 2017 lalu, KSAU kembali meresmikan berdirinya tiga pesawat latih yang telah melahirkan ratusan penerbang TNI AU. Yaitu AS-202 Bravo, T-34C Mentor, dan helikopter latih Bell-47G Soloy.

Ketiga pesawat telah berdiri megah di halaman depan Mako AAU. Tak jauh dari ketiga monumen ini juga tengah dikerjakan pembangunan tugu pahlawan TNI AU, Adi Sucipto dan Abdurahman Saleh.

KSAU dan Ibu Nanny Hadi Tjahjanto berfoto dengan Cureng yang tengah direstorasi. Foto: beny adrian

Sehari sebelumnya, KSAU juga membuka selubung sebagai tanda mulai dipajangnya pesawat latih Bravo dan Mentor di Muspusdirla. Acara diawali dengan pemotongan tumpeng.

Menurut informasi yang mylesat.com peroleh, saat ini juga tengah dan akan dikerjakan pendirian sejumlah monumen pesawat oleh TNI AU.

Mulai dari monumen pesawat OV-10 Bronco di Mabes TNI, heli Bell-204B di Museum Satria Mandala, pemindahan monumen Ilyusin Il-14 dan Cessna-402 ke Yogyakarta serta pemindahan monumen helikopter SM-1 dari Lanud Atang Senjaya, Bogor, dan C-130 Hercules ke Yogyakarta.

“Saya ada keinginan untuk mengembangkan Museum Yogya ini lebih besar lagi, sehingga masyarakat bisa mendapatkan informasi lebih banyak tentang TNI AU,” ujar KSAU saat meresmikan Bravo dan Mentor di Muspusdirla. Hadi terlihat bangga, karena menurutnya, koleksi pesawat di Museum Yogya ini termasuk lengkap.

“Nanti kita akan atur ulang akses jalan ke museum ini, jalan depan ini bisa kita tutup dan dijadikan tempat monumen,” tambah Hadi sambil menunjuk jalan di depan Muspusdirla.

Namun dari semua monumen yang sedang dan akan dididirikan TNI AU saat ini, dengan tidak mengurangi arti dan jasa pesawat-pesawat yang sudah dipajang, tentu pemindahan monumen pesawat Cureng (Yokosuka K5Y1) dari Museum Satria Mandala di Jakarta ke Museum Pusat Dirgantara Mandala di Yogyakarta, sangatlah dramatis.

Kenapa tidak?

Cureng adalah pesawat latih (two-seat intermediate trainer) yang pernah digunakan Angkatan Laut Jepang di Indonesia di masa Perang Kemerdekaan.

Setelah Jepang hengkang dari Indonesia, pesawat ini dan beberapa pesawat Jepang lainnya ditinggal begitu saja, yang menurut Hadi jumlahnya mencapai 50 pesawat. Umumnya sudah tidak bisa diterbangkan.

Setelah diperbaiki oleh teknisi AURI seperti Basir Surya, berhasilah sebuah pesawat Cureng diterbangkan pada 27 Oktober 1945 dari pangkalan udara Maguwo oleh Adisucipto.

Peristiwa bersejarah ini menandai untuk pertama kalinya sebuah pesawat bertandakan merah putih diterbangkan di alam kemerdekaan oleh putra Indonesia sendiri.

Bagian sayap dan kokpit Cureng siap diperbaiki. Terlihat replika Cureng yang akan dikirim ke Museum Satria Mandala. Foto: beny adrian

Adisucipto pun kembali menerbangkan pesawat lainnya, yaitu Nishikoren, pada 7 November 1945 di pangkalan udara Cibeureum, Tasikmalaya.

Pesawat Cureng pula yang kemudian pertama kali digunakan untuk melakukan pemotretan udara menggunakan kamera jenis oblique.

Dalam dunia fotografi, foto udara menggunakan kamera oblique dikenal dengan foto condong atau foto miring (oblique photograph), yaitu foto yang dibuat dengan sumbu kamera menyudut terhadap garis tegak lurus ke permukaan bumi. Sudut pada umumnya sebesar 10 derajat atau lebih besar.

Puncak pengabdian Cureng yang akan terus dikenang oleh generasi penerus TNI AU adalah saat melakukan serangan udara terhadap tangsi Belanda di Ambarawa, Salatiga, dan Semarang pada 29 Juli 1947.

Saat itu, dua Cureng dan satu pembom Guntei (Mitsubishi Ki-51) diterbangkan dari Maguwo selepas subuh. Sedianya pesawat Hayabusha (Nakajima Ki-43) juga ikut dalam misi ini, namun mendadak dibatalkan karena technical error.

Operasi yang gemilang ini dikenal sebagai serangan udara pertama yang dilakukan oleh TNI AU. “Operasi ini menunjukkan kepada dunia bahwa Indonesia dan AURI masih ada, bahkan mampu menghancurkan Belanda,” ujar KSAU.

Karena mengetahui sejarah pesawat Cureng bertintakan emas itulah, KSAU Marsekal Hadi Tjahjanto pun memperlakukan pesawat Cureng dengan sangat instimewa.

Pesawat Cureng asli ini ditempatkan di Museum Satria Mandala sejak tahun 1977.

“Tahun 1977 dikirim ke Satria Mandala sebagai Museum ABRI, namun terakhir ini Cureng kurang begitu diperhatikan. Saya menginsiatif mengambil Cureng, dan yang di Satria Mandala kami tukar dengan replika yang ada di sini (Yogya),” tutur Hadi.

Kondisi terakhir Cureng di Museum Satria Mandala memang kurang terawat. Di beberapa bagian badan pesawat, kain kanvasnya terlihat sudah sobek.

Setelah sayapnya dilepas oleh teknisi dari Skadron Teknik (Skatek) 043, Lanud Adi Sucipto, Cureng pun diterbangkan dari Jakarta ke Yogyakarta menggunakan pesawat C-130 Hercules pada 18 Juli 2017.

Saat ini Cureng sedang dalam tahap restorasi yang dilakukan oleh anggota Skatek 043. Dari informasi terbatas yang mylesat.com peroleh, diharapkan pesawat sudah bisa ditampilkan pada Oktober mendatang.

“Ini adalah pusaka untuk generasi penerus. Monumennya akan kami buat agak beda, dengan penempatan lebih tinggi dari permukaan tanah dibanding pesawat yang lain untuk menunjukkan kekhususan Cureng dalam sejarah TNI AU,” papar Hadi yang juga berharap masih bisa memperoleh pesawat Guntei untuk ditampilkan.

Ditinggikan posisinya tentu dengan maksud sedikit “dimuliakan” mengingat catatan sejarah yang ditorehkannya.

“Cureng akan saya simpan di Museum Yogya ini setelah restorasi. Kondisinya begitu parah dan setelah restorasi akan kami simpan dengan baik, karena ingat, ini pesawat pertama yang dimiliki TNI AU sehingga pesawat ini sebagai pusaka bagi generasi penerus yang harus diabadikan sepanjang masa,” jelas Hadi.

Lebih lanjut dijelaskan Hadi, generasi TNI AU saat ini juga memiliki nilai juang yang sama dengan generasi sebelumnya, yaitu rela berkorban.

“Semua berperan sesuai tugas dan fungsi, sejak dulu hingga sekarang. Pesawat tidak akan bisa diterbangkan dengan aman jika tidak disiapkan dengan baik oleh para teknisi. Begitu juga ketika Cureng pertama kali disiapkan, semua bekerja dengan baik,” kata Hadi lagi.

Foto bersama KSAU dengan tim inti restorasi Cureng. Foto: beny adrian

“Generasi sebelumnya dan sekarang memiliki semangat yang sama, perbedaannya adalah di peralatan yang diawaki. Jika sebelumnya sangat sederhana, sekarang lebih modern dan digital, namun semangat untuk mengawakinya tetap sama yaitu rela berkorban,” ungkap Hadi.

Tentu dengan berdirinya monumen pesawat Cureng dalam waktu dekat, akan menjadi simbol perjuangan untuk rela berkorban dari prajurit TNI AU sejak dulu hingga sekarang.

“Peristiwa 29 Juli harus diresapi oleh setiap prajuit TNI AU, karena memiliki nilai juang yang tinggi,” ungkap Hadi.

Dari penelusuran di berbagai literatur, diperoleh data bahwa di dunia hanya ada empat monumen Yokosuka K5Y1. Masing-masing satu replika di Museum Satria Mandala dan di Kawaguchiko Motor Museum di wilayah Perfektur Yamanashi, Jepang.

Sementara pesawat aslinya (akan) ada di Museum Pusat Dirgantara Mandala dan di Kawaguchiko Motor Museum.

 

Teks: beny adrian

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: