An-225 Mriya: Si Bongsor Seberat 600 ton Ini Ditopang 32 Roda Pendarat

0

Data inilah yang menimbulkan keraguan namun membesarkan hati kelompok Antonov, bahwa sepertinya rekor itu lebih tepat diberikan kepada An-225.

Soal daya muat An-225, membuat mata mendelik. Sekali terbang raksasa ini mampu membawa muatan mencapai 250 ton. Tidak ada yang sanggup membawa beban seberat ini.

Bandingkan dengan C-5 Galaxy yang memiliki payload capacity 195 ton dan An-124 Ruslan pada angka 150 ton.

Sekalipun raksasa baru Eropa Airbus A380, masih kalah jauh soal ini. A380 versi kargo dilaporkan hanya mampu membawa beban sekitar 150 ton dengan berat kotor maksimum lepas landas (GTOW) sekitar 590 ton. Lihat lah GTOW An-225 yang mencapai 640 ton. Wow….

Dengan beban maksimum di dalam kabinnya, An-225 mampu terbang sejauh 4.526 km atau jika dengan bahan bakar maksimum angkanya berkali lipat menjadi 15.489 km.

Menanggapi soal berat lepas landas ini, Moiseiev buka rahasia bahwa tanki An-225 sesungguhnya tidak pernah diisi penuh. “Akan menambah maximum take-off weight,” ungkapnya.

Mriya memang sebuah fenomena. Tidak hanya dari ukurannya tapi juga sejarahnya.

Kehadiran Mriya bisa ditarik mundur ke awal 1980 ketika Uni Soviet memulai program pengembangan pesawat ruang angkasa Buran (Snowstorm).

Seiring pengembangan Buran, terpikirkan pula proses pengirimannya ke pusat peluncuran di Baikonur, Kazakhstan.

Karena itulah lalu dibutuhkan sebuah pesawat raksasa yang mampu membopong Buran, sama seperti yang dilakukan NASA dengan memodifikasi B747-100 dan B747-100SR menjadi Shuttle Carrier Aircraft (SCA).

Awalnya badan antariksa Soviet memesan tiga pesawat di bawah proyek 402. Dari semula sudah direncanakan untuk menggunakan teknik bopong (piggyback) saat mengangkut Buran.

Persyaratan ini kemudian diamini Antonov Design Bureau di Kiev yang digawangi kepala desain legendaris Pyotr Balabuyev (meninggal 2007).

Pada 1987, enam bagian sayap besar selesai dibuat di Tashkent, untuk kemudian dikirim ke Kiev. Ada yang unik dalam proses feri ini. Sayap besar ini diikat di atas An-22 dan dibawa terbang.

Di Kiev inilah kemudian untuk pertama kali Mriya dirakit pada 1988. Secara sederhana bisa dibilang bahwa An-22 adalah derivatif dari An-124 yang terbang perdana pada 1982. Waktu yang begitu mepet antara An-124 dan An-225 sengaja diset untuk alasan dana.

Meskipun kedua saudara kembar ini memiliki lebar badan yang sama, An-225 tetap punya kelebihan untuk soal panjang. Pesawat ini lebih panjang 15 m dari kakaknya.

Untuk menahan beban tubuhnya yang lebih berat 200 ton dari Ruslan, An-225 ditopang oleh 32 roda pendarat. Masing-masing 28 di roda pendarat utama yang bisa dibelokkan (steerable) dan empat di roda pendarat depan dengan posisi side by side.

Total roda pendarat ini lebih banyak empat digit dari An-124.

Soal muatan seperti pesawat ulang-alik Buran atau roket booster Energija yang ditumpangkan di atas punggungnya, membawa masalah ke aerodinamika ekor konvensional An-225.

Efek ini membuat pabrikan melakukan modifikasi dengan memperbesar horizontal stabilizer dengan dua ekor terpasang di outer edges. Dengan rentang 32,65 m, ekor Mriya ini bahkan lebih lebar dari rentang sayap B737-300.

An-225 memiliki 14 titik cantelan (lashing points) di punggungnya. Titik ikatan ini diperlukan untuk mengamankan muatannya yang memiliki panjang lebih 70 m, lebar lebih 8 m, dan berat mencapai 90 ton.

Dengan superstructure yang kuat, jadi jaminan bahwa Mriya sanggup membopong beban berat di bagian belakang badannya. Sejauh ini baru Buran yang pernah memanfaatkan kekuatan pinggang Mriya.

Namun mungkin akan segera berubah, seperti diungkap Profesor Dmytro Kiva, Presiden dan Desainer Umum Antonov.

“Kami baru mulai bernegosiasi untuk menggunakan pesawat ini tidak hanya untuk kargo, di masa depan mungkin bisa sebagai wahana pembawa satelit untuk diluncurkan ke ruang angkasa. Pesawat akan membawa satelit mendekati khatulistiwa untuk kemudian melepas satelit yang membawa roket sebelum mulai mendorong,” ujar Kiva.

1 2 3
Share.

About Author

Being a journalist since 1996 specifically in the field of aviation and military

Leave A Reply