Kapten CZI (Anumerta) Pierre Andreas Tendean: “Itu Siapa, Koncomu Bule Indo Gitu”

Setiap tanggal 1 Oktober, kita selalu diingatkan dengan peristiwa berdarah upaya pemberontakan oleh PKI pada malam 30 September 1965 sampai besok paginya 1 Oktober.

Dalam peristiwa ini telah terbunuh tujuh perwira tinggi dan beberapa orang lainnya dalam usaha kudeta. Mereka adalah:

  • Letjen TNI Ahmad Yani (Menteri/Panglima Angkatan Darat/Kepala Staf Komando Operasi Tertinggi)
  • Mayjen TNI Raden Suprapto (Deputi II Menteri/Panglima AD bidang Administrasi)
  • Mayjen TNI Mas Tirtodarmo Haryono (Deputi III Menteri/Panglima AD bidang Perencanaan dan Pembinaan)
  • Mayjen TNI Siswondo Parman (Asisten I Menteri/Panglima AD bidang Intelijen)
  • Brigjen TNI Donald Isaac Panjaitan (Asisten IV Menteri/Panglima AD bidang Logistik)
  • Brigjen TNI Sutoyo Siswomiharjo (Inspektur Kehakiman/Oditur Jenderal Angkatan Darat)

Jenderal TNI Abdul Haris Nasution yang menjadi sasaran utama, selamat dari upaya pembunuhan. Sebaliknya, putrinya Ade Irma Suryani Nasution dan ajudannya Lettu CZI Pierre Andreas Tendean, menjadi tameng hidup bagi sang jenderal.

Lettu CZI Pierre Andreas Tendean merupakan sosok perwira ideal TNI dengan paras ganteng dan tubuh atletis. Wajah indo diwarisi dari ibunya yang keturunan Perancis, menjadikan Tendean cowok idola di Bandung saat masa pendidikan.

Di buku “Letjen (Pur) Soegito Bakti Seorang Prajurit Stoottroepen” yang ditulis Beny Adrian dan diterbitkan Majalah Angkasa, Kelompok Kompas Gramedia (2015), tercuplik sekilas kisah Tendean.

Sampul buku Letjen (Pur) Soegito Bakti Seorang Prajurit Stoottroepen. Foto: beny adrian

Kala itu, Desember 1961, sebanyak 148 perwira muda TNI dari Akademi Militer Nasional (AMN) dan 141 perwira dari Akademi Teknik Angkatan Darat (Atekad) Bandung, diambil sumpah oleh Wakil KSAD Kolonel Gatot Subroto.

Pengambilan sumpah berlangsung di AMN, Magelang. Letnan Dua (Infanteri) Soegito berdiri di urutan ke-24 dari 148 perwira muda lulusan AMN 1961, dan mendapat NRP 18810.

Setelah pengambil sumpah selesai, Soegito dihampiri kakaknya Soemarni yang datang bersama suaminya Soebiyanto.

Usai memberikan selamat kepada adiknya, Soemarni tidak bisa membohongi matanya saat melihat seorang perwira muda berwajah ganteng, tinggi, dan berkulit putih seperti bule, berdiri persis di sebelah adiknya.

“Itu siapa, koncomu bule, indo gitu,” tanyanya sedikit berbisik. Dijawab Soegito, perwira itu namanya Letnan Piere Tendean, lulusan Atekad Bandung.

Soemarni menganggukkan kepalanya sambil kembali melirik. Mata Soemarni sebagai perempuan tidak salah. Karena wajahnya yang tampan, Pierre bahkan pernah mendapat julukan “Si Ganteng dari Bumi Panorama”.

Bahkan para pengidolanya dari kalangan remaja perempuan di Bandung kala itu menjulukinya Robert Wagner dari Panorama. Bumi Panorama adalah sebutan untuk kampus Atekad.

Kolase wajah Kapten Tendean dari kecil hingga perwira. Foto: @imamqori02

Piere merupakan lulusan terakhir Atekad sebelum diintegrasikan dengan AMN pada tahun 1961.

Atekad yang sebelumnya dinamakan SPGi-AD (Sekolah Perwira Genie Angkatan Darat), meluluskan angkatan pertama sebanyak 12 perwira tahun 1956 .

Selanjutnya 17 perwira (Atekad 1957), 20 perwira (Atekad 1958), 50 perwira (Atekad 1959), 91 perwira (Atekad 1960), dan terakhir Atekad 1961 sebanyak 141 perwira.

Empat tahun setelah dilantik, Lettu CZI Pierre Andreas Tendean yang lahir di Jakarta 21 Februari 1939 dari pasangan dr AL Tendean dari Minahasa dan perempuan Perancis bernama Cornel ME. Pierre, menjadi salah satu korban keganasan G30S/PKI pada 30 September 1965.

Ia yang saat itu ajudan Jenderal AH Nasution, pangkatnya dinaikkan satu tingkat menjadi kapten anumerta.

 

Teks: beny adrian

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: