Semakin dekat ke Kaimana semakin sering terjadi kontak senjata. Setiap kontak senjata pasukan gerilyawan semakin terpecah dalam kelompok-kelompok kecil. Kendala utama yang dihadapi para gerilyawan adalah tidak adanya tumbuhan yang bisa dimakan.
Perkampungan penduduk di sekitar Kaimana telah dijaga ketat pasukan Belanda dan mata-matanya. Kekurangan makanan menyebabkan kondisi fisik pasukan menjadi lemah, gerakan menjadi lamban dan akhirnya upaya pengamanan kurang diperhatikan.
Keadaan medan dan perlawanan Belanda sebenarnya tidak berat, yang berat justru sulitnya mendapatkan makanan. Dalam suatu kontak senjata dengan musuh, Prada Surip bersama tiga temannya terpisah.
Ia bersama tiga temannya yaitu Sabaruddin, Ijang Supardi dan Aipasa (PGT) berusaha mendekati sebuah perkampungan. Rupanya kedatangan mereka telah ditunggu Belanda, sehingga terjadi kontak senjata.
Kelompok yang semula empat orang ini terpecah lagi. Akhirnya Prada Surip tinggal sendirian. Pasukan Belanda terus melakukan pengejaran. Karena kondisi sangat lemah, akhirnya mereka tertangkap.
Anggota pasukan lain di bawah pimpinan Heru Sisnodo, sampai terjadinya gencatan senjata terus melakukan gerilya di sekitar Kaimana.
Berita gencatan senjata baru mereka terima melalui pamflet yang dijatuhkan dari udara, yang itupun mereka duga hanya tipu muslihat Belanda.
Letda Czi Moertedjo dengan tiga pengikut menjelang mendekati Kaimana, terjebak oleh pasukan Belanda. Dalam kondisi kurang makan berhadapan dengan kekuatan Belanda yang lebih besar akhirnya mereka tertangkap.
Sepertinya saat melaksanakan gerilya di sekitar Kaimana, Jhon Saleky bersama Heru Sisnodo bertemu dengan kelompok perlawanan anti-Belanda dipimpin Mayor (Tituler) Lodewijk Mandatjan.
Dalam sejarah perjuangan Trikora, kelompok Mandatjan dikenal sebagai penentang Belanda yang kemudian memilih masuk hutan untuk melaksanakan perang gerilya terhadap Belanda.
Karena melihat anggota APRI (Angkatan Perang Republik Indonesia) di tengah hutan, Mandatjan kemudian mengajak mereka bergabung. Entah kedekatan apa yang terjadi di antara mereka, Saleky dan Heru Sisnodo kemudian didaulat sebagai anak angkat oleh Mandatjan.
Ketika Pangdam XVII Tjendrawasih Brigjen TNI Sarwo Edhie Wibowo (2 Juli 1968 – 20 Februari 1970) mengajak Mandatjan turun gunung setelah sempat melakukan perlawanan karena kecewa, Mayor Heru Sisnodo dan Serma John Saleky diperintahkan menemui Mandatjan di Pegunungan Arfak untuk membujuknya beserta anak buahnya turun gunung.
Godipun sendiri tertangkap tanggal 7 Juni. Saat tertangkap, ia dalam pelarian seorang diri setelah kelompoknya terpecah karena diserang Belanda.
Tanpa senjata karena disimpan di dalam hutan setelah bahunya tertembak, Godipun berjalan hingga tiba di sebuah pantai di Kampung Sisir. Ia pun lupa membawa bungkusan yang isinya kitab suci dan tertinggal di hutan. Di sini jejaknya tersendus anjing pelacak Belanda.
Beberapa orang penduduk lokal mengejarnya dari belakang sambil mengacungkan golok dan tombak. Dia mencoba untuk lari, namun dicegah oleh sebuah teriakan keras, Berhentiiiiiiiii! “Saya balik kanan, saya pikir akan digorok, tapi rupanya mereka tercekat melihat saya.â€
Kalung Rosario yang tersembul dari balik bajunya mengagetkan para pemburunya. “Kamu agama apa,†tanya mereka yang dijawab singkat, “Khatolik.†Yang bertanya malah tidak percaya dan marah sambil berujar, “Bohong kamu, kamu babi Soekarno, bikin rusak tanah saya. Kamu mau hidup atau mau mati.â€
Akhirnya Godipun dibawa ke sebuah rumah panggung di pinggir pantai. Di situ ia melihat cukup banyak kuburan yang masih baru. Apakah ada temannya yang dimakamkan di situ? Godipun hanya mengernyitkan dahinya.
Dia ditanya macam-macam, seperti siapa komandannya, di mana dia, di mana teman-teman. Karena memang tersasar, ia tidak bisa memberikan jawaban.
Setelah mendapat havermut (sereal dari gandum atau dikenal juga dengan oatmeal), minum, dan sebatang rokok, siang itu ia dibawa ke rumah sakit untuk diobati. Suatu hari di penjara, ia didatangi seorang pastor Belanda berjubah putih yang menawarkan sakramen pengakuan dosa.
Ia diajak ke ruangan komandan polisi untuk melaksanakan pengakuan dosa. “Oleh pastor didoakan supaya Belanda dan Indonesia cepat damai dan saya cepat dipulangkan.†Kemudian diketahuinya nama pastor itu Van Manen.
Saat kembali ke kamar tahanan, ia melihat di sebuah meja sebuah bungkusan yang ia sangat kenal. “Saya bilang ini punya saya, puji tuhan,†ujarnya. Rupanya bungkusan itu berisi kitab Taurat dan Injil.
Setelah di penjara sekian lama, suatu hari mereka dibawa dengan pesawat Dakota ke Biak. Dengan mata ditutup, mereka dituntun ke dalam pesawat yang ternyata di dalamnya sudah banyak wartawan asing.
Mencermati penuturan ini, sepertinya peristiwanya berlangsung setelah cease fire. Mereka pun difoto oleh sejumlah wartawan. Di penjara Biak, Godipun bertemu Sarjono yang pernah ia turunkan pakai tali.
Kenangan pahitnya bersama Sarjono adalah, ketika temannya ini memutuskan merebus sepatu karena sangat kelaparan.
Dari Biak mereka dipindah ke penjara Wundi. Pada bulan September mereka disuruh siap-siap naik kapal untuk dibawa kembali ke Biak.
Di sini sudah menunggu Hercules milik UNTEA yang akan menerbangkan mereka ke Kemayoran, Jakarta.
Di akhir Operasi Banteng Ketaton di Kaimana diketahui bahwa PGT telah kehilangan sejumlah anggotanya. Mereka yang gugur adalah KU I Fortianus dan KU II Gintoro. Sementara yang terluka tembak adalah KU I Sahudi yang terluka saat terjun dan PU I G. Godipun.
Adapun yang gugur di Fak-Fak adalah SMU Picaulima, KU I Atjim Sunahju, KU I Sariin bin Djafar, PU I Lestari, dan PU I Suwito. Dua orang yaitu KU I S. Bomba dan PU I Pardjo hanya mengalami luka ringan.
Tentu perjuangan para pahlawan ini tidak akan sia-sia. Karena di setiap tanggal 17 Oktober, Korpaskhas yang tahun ini genap berusia 70 tahun, akan terus mengenang dan mendoakan perjuangan yang telah dilakukan para pendahulu mereka.
Teks: beny adrian