Tanpa Basir Surya, Cureng Tidak Akan Terbang: Teknisi Andal yang Pendiam, Pemalu namun Romantis

Ada tiga tokoh hebat yang pernah dimiliki TNI AU pada masa perjuangan. Ketiganya dikenal andal di bidang teknik penerbangan, sehingga namanya harum sampai sekarang.

KSAU Marsekal TNI Hadi Tjahjanto menyebut ketiganya sebagai tokoh penting dalam sejarah TNI AU. KSAU tentu tidak sembarangan menyebut ketiga tokoh ini sebagai pribadi yang menentukan dalam sejarah TNI AU, karena memang dedikasinya yang luar biasa.

Pertama adalah Achmad bin Talim yang berhasil membuat pesawat Walraven-2 pada tahun 1935. Pesawat ini kemudian diterbangkan ke Belanda dan Inggris serta menggemparkan Eropa.

Baca: Achmad bin Talim, Montir Pesawat Hebat yang Pernah Dimiliki TNI AU

Kedua, Basir Surya yang berhasil memperbaiki pesawat Cureng peninggalan Jepang untuk kemudian diterbangkan Adisucipto pada 27 Oktober 1945.

KSAU Marsekal Hadi Tjahjanto didampingi Ibu Nanny Hadi Tjahjanto, menyerahkan lukisan mozaik Basir Surya dengan Cureng kepada keluarga Pak Basir. Foto: Dispenau

Ketiga adalah Nurtanio Pringgoadisuryo. Tokoh penting dalam industri penerbangan Indonesia ini berhasil membuat pesawat serang darat Nu-200 Sikumbang pada tahun 1954.

Sebuah keberuntung bagi mylesat.com bisa bertemu dan mendengarkan kesaksian istri dan anak-anak Basir Surya yang melegenda itu.

Kesempatan itu diperoleh pada malam sambung rasa dalam rangka HUT Koharmatau ke-54 di Museum Pusat TNI AU Dirgantara Mandala, Rabu (25/10/2017).

Di antara deretan para pahlawan TNI AU, Basir Surya dikenal bukan karena jago terbang tapi justru karena ketelitian jari-jarinya saat memperbaiki pesawat.

Lahir di Garut, Jawa Barat pada 17 April 1912, pria bertubuh sedang ini sudah menjadi teknisi pesawat sejak zaman pendudukan Hindia Belanda dan kemudian Jepang.

Sebagai teknisi di bagian penerbangan, Basir Surya dikenal tekun dan rajin bekerja. Pengalaman yang didapat menjadikan Basir Surya sebagai teknisi yang andal.

Bekal pengalaman inilah yang menjadikan KSAU Marsekal Suryadi Suryadarma begitu menghargai Basir Surya, sehingga memintanya untuk menyiapkan pesawat tak lama pasca Kemerdekaan 1945.

Suryadarma memercayainya untuk menangani pesawat-pesawat peninggalan Jepang di Maguwo, Yogyakarta.

Dari kiri ke kanan: Amy Suryami, Ibu Dinarsih, dan Tetet Mardiana. Ketiganya berbicara dalam malam sambung rasa Koharmatau. Foto: beny adrian

Basir Surya berangkat ke Yogyakarta dengan menumpang kereta api. Setibanya di Maguwo, ia diantar oleh anggota AURI bernama Sudibyo menuju lapangan terbang Maguwo.

Berkat pengalaman dan kemampuanya, sebuah pesawat Cureng berhasil diterbangkan Adisucipto pada 27 Oktober 1945.

Di mata istri dan anak-anaknya, Basir Surya justru dikenal sebagai sosok bersahaja. Di rumahnya, Basir tidak pernah banyak bicara terutama menyangkut pekerjaannya di AURI.

“Bapak tidak terlalu banyak bercerita tentang tugasnya, kami hanya tahu ayah kerja di AURI,” ujar putrinya Amy Suryami.

Hal yang sama diakui sang istri, Ibu Dinarsih Nadikusuma, yang sangat mengagumi ketekunan dan dedikasi Pak Basir dalam bekerja sebagai teknisi pesawat.

“Sebagai istri kami sangat mengagumi karena beliau memperhatikan sekali pekerjaannya, sampai kami iri karena jadi kurang diperhatikan. Perasaan saya beliau kurang memperhatikan keluarga,” ujarnya tersenyum.

Makin lama, ia semakin menyadari bahwa apa yang dilakukan Pak Basir adalah sebuah perjuangan, dedikasi, dan bentuk cinta kepada pekerjaannya.

Di hadapan tamu dan undangan, Dinarsih pun menuturkan kisah asmaranya dengan Pak Basir.

Pertemuan pertama mereka terjadi di Bandung. Saat itu Dinarsih menempuh pendidikan di sekolah guru. Ia tinggal di asrama putri. Saat itu Basir merupakan komandan Lanud Margahayu.

Beberapa kali setiap pulang sekolah di sore hari, Dinarsih yang selalu bersama teman-temannya, diikuti sebuah mobil Jeep. Dia awalnya tidak tahu, siapa yang membawa mobil itu dan apa maksudnya.

Ibu Dinarsih mengaku sangat bangga kepada suaminya, Basir Surya yang penuh dedikasi dan memperhatikan anak buahnya. Foto: beny adrian

“Kadang dia berhenti, tapi sepertinya nggak berani nanya, mungkin takut tidak dijawab. Lalu jalan lagi, berhenti lagi. Saya pikir, kenapa itu orang,” aku Ibu Dinarsih yang disambut tawa hadirin.

Rupanya aksi ngebuntutin Pak Basir ada maksudnya, yaitu ingin tahu tempat tinggal gadis idamannya ini.

Sampai suatu hari saat pulang sekolah, kebetulan ia jalan sendiri dan sore itu agak gerimis.

Kesempatan emas ini rupanya tidak dilewatkan oleh Basir Surya. Ia langsung mendekati dan memberanikan diri bertanya, kok pulang sendiri.

“Yuk saya antar, kan hujan,” ajak Pak Basir. Itulah momen pertama perkenalan mereka yang kemudian berlanjut ke jenjang pernikahan.

Di mata Dinarsih, Pak Basir adalah sosok yang pendiam dan pemalu, namun romantis. Hal romantis yang dilakukannya, akunya, adalah mengajaknya terbang di atas Kota Bandung.

“Kami sudah nikah saat itu, saya bangga sekali meski takut juga karena dia pernah jatuh di Gunung Galunggung,” ucap Dinarsih.

Sebagai komandan pertama Lanud Margahayu, perjuangan Letnan Udara I Basir Surya tidaklah mudah. Selama dua tahun dari 1954 sampai 1956, Pak Basir bekerja keras menyiapkan pangkalan yang masih baru itu agar bisa mendukung kegiatan AURI.

Bagi Ibu Dinarsih yang berprofesi sebagai guru SMP, kondisi ini sungguh memprihatinkannya. Dengan kondisi Lanud yang masih baru, ia melihat banyak anak-anak anggota AURI kesulitan mencari tempat sekolah. Ia pikir, kenapa tidak ada sekolah di sini?

Akhirnya Dinarsih mendirikan sebuah sekolah SD dan SMP, yang tentu dengan fasilitas secukupnya. Ibu Nanny Hadi Tjahjanto ketika dihubungi mylesat.com mengaku sangat terharu dengan sifat inovatif Ibu Dinarsih.

Selain mengelola sekolah kecilnya, Dinarsih yang suka kesenian itu juga mengajarkan kesenian angklung kepada ibu-ibu PIA (Persatuan Istri Angkatan Udara). Saat itu, menurut Dinarsih, angklung baru saja dimodifikasi oleh Daeng Soetigna.

“Saya ngajar musik angklung kepada ibu PIA. Dari angkatan darat sampai iri, kenapa di AURI ada yang seperti itu.”

Sedangkan dalam kenangan Tetet Mardiana Angkasawati yang lahir 9 April 1955, sang ayah dikenalnya sangat disiplin seperti dalam hal kebersihan.

Salah satu kebiasaan Pak Basir yang diingatnya adalah, setiap habis mandi selalu membersihkan jari-jari kakinya dengan kain lap khusus. “Katanya supaya tidak gatal,” kata Tetet.

Ibu Dinarsih Nadikusuma adalah istri kedua Basir Surya. Istri pertamanya, Maryamah, meninggal saat melahirkan anak ketiganya.

Foto bersama keluarga besar Basir Surya usai HUT Koharmatau dengan latar belakang pesawat Cureng. Foto: beny adrian

Dari pernikahan pertamanya, Pak Basir dikarunia tiga orang anak yaitu Amy Suryami, Ety Wiyati, dan Iwan Ridwan.

Sedangkan dari pernikahannya dengan Dinarsih yang terpaut 20 tahun, Pak Basir memperoleh tiga anak juga. Yaitu Tetet Mardiana Angkasawati, Dadang Ganjar, dan Rahmalia.

“Saat menikah, usia bapak sudah 40 tahun, sedangkan saya 20 tahun,” aku Ibu Dinarsih tersenyum manis.

Karena dedikasi Ibu Dinarsih yang begitu tinggi, Ibu Nanny Hadi Tjahjanto selaku Ketua Umum PIA Ardhay Garini mengaku terharu sekaligus bangga. “Beliau pantas diberi penghargaan,” aku Ibu Nanny yang dikenal sangat peduli dengan pendidikan.

 

Teks: beny adrian

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s