Menyingkap Misi Rahasia Hadirkan Pak Bambang, Sebuah Surprise untuk KSAU

HUT Komando Pemeliharaan Materiil TNI AU (Koharmatau) ke-54 memang sudah lama berlalu. Persisnya 26 Oktober 2017, TNI AU memperingati HUT Koharmatau secara spesial di Lanud Adi Sucipto, Yogyakarta.

KSAU Marsekal TNI Hadi Tjahjanto langsung menjadi inspektur upacara.

Namun bagi sebagian orang yang hadir pada malam sambung rasa Koharmatau di Museum Pusat TNI AU Dirgantara Mandala, Rabu (25/11/2017), tentu tidak melupakan acara talk show yang dipandu Ninda Nindiani.

Presenter cantik Ninda pun melukiskan kegembiraannya memandu acara malam itu, mengingatkannya ke masa tahun 1990 akhir saat melakukan liputan di lingkungan TNI AU.

Acara pun mengalir layaknya talk show.

Ninda menyebutkan bahwa tamu yang diundang sebagai narasumber merupakan para teknisi TNI AU lintas generasi dari tahun 1945 hingga 1970-an.

Pertama dipanggil keluar Basir Surya, dikenal sebagai teknisi yang berhasil menghidupkan pesawat Cureng pada 26 Oktober 1945.

Baca: Tanpa Basir Surya, Cureng Tidak Akan Terbang: Teknisi Andal yang Pendiam, Pemalu namun Romantis

Kemudian masuk ke generasi 1960-an, disebutkan bahwa narasumber yang satu ini tidak bisa hadir di malam sambung rasa dikarenakan alasan pribadi.

Karena itu, panitia acara dari Koharmatau hanya bisa mewawancarainya di kediamannya di Malang dan videonya diputarkan malam itu di sebuah layar lebar.

KSAU Marsekal Hadi Tjahjanto menyaksikannya dengan haru, mendengarkan penuturan tokoh yang videonya ditayangkan malam itu. Begitu pun Ibu Nanny Hadi Tjahjanto, tersenyum bangga di meja sebelahnya.

Nama beliau Serka (Pur) Bambang Soedarto, lahir di Banyumas, Jawa Tengah pada 8 Maret 1936. Dari pernikahannya dengan Nursa’adah pada 1962, Bambang dikaruniai lima anak.

Yaitu Hadi Tjahjanto, Artiningsih Tjahjanti Amd., Budi Tjahjono, Letkol Adm Wahyu Tjahjadi S.S., dan Eny Tjahjani S.E.

Ya, Bambang Soedarto yang merupakan putra dari pasangan Poerwowidjojo dan Nasimah, adalah salah satu teknisi generasi MiG yang tak lain dari orang tua Marsekal Hadi Tjahjanto.

Setelah videonya habis ditayangkan, presenter pun melanjutkan acaranya dengan menyampaikan maaf kepada KSAU karena Pak Bambang tidak bisa dihadirkan malam itu.

Disaksikan KSAU, Ibu Nanny memeluk Pak Bambang di atas panggung utama. Foto: beny adrian

Namun, kata Ninda, atas usaha gigih dan inovatif dari panitia HUT Koharmatau, Pak Bambang akhirnya berhasil didatangkan ke acara malam itu untuk memberikan surprise kepada KSAU dan Ibu Nanny.

Sontak, KSAU terlihat kaget dan berdiri dari kursinya untuk menyambut kedua orang tuanya yang berjalan ke atas podium dari sisi kiri panggung utama. Pak Bambang berjalan pelan diikuti Ibu Nursa’adah di atas kursi rodanya.

Hadi didampingi Ibu Nanny pun segera naik ke atas podium, memberikan salam dan memeluk kedua orang tuanya secara bergantian. Pemandangan yang mengharu biru itu ditingkahi tepuk tangan para hadirin yang hadir.

Tak hanya Bambang, panitia juga menghadirkan teknisi lainnya yaitu Pelda (Pur) Dasuki dan Sumani yang pensiunan pegawai negeri sipil TNI AU.

Mata Ibu Nanny Hadi Tjahjanto masih berkaca-kaca saat turun dari panggung. Foto: beny adrian

“Saya dengan Pak Bambang satu lichting, kami selesai pendidikan 100 orang masuk Depo Pancar Gar, namun saya sekolah lagi ke Bandung sembilan bulan, saya sempat overhaul pesawat Mustang. Pancar Gas waktu itu masih dibangun,” tutur Dasuki membuka ceritanya.

Keduanya masuk AURI pada tahun 1957. Di antara kisah yang dibagi Bambang malam itu adalah soal kreativitas. Bagaimana kalau bekerja tidak hanya mengandalkan otot tapi juga otak.

“Banyak kreativitas harus dilakukan dalam bekerja seperti mengikatkan kunci dengan tali di tangan agar tidak jatuh ke dalam mesin pesawat,” ujar Bambang sambil menunjukkan caranya dengan membawa kunci.

Begitu juga Sumani yang masih menyimpan buku manual pemeliharaan pesawat MiG dari Polandia dalam bahasa Inggris. “Saya generasi ketiga teknisi. Generasi pertama era pak Adi Sucipto, generasi kedua Pak Bambang, dan kemudian generasi saya,” aku Sumani.

Ibu Nursa’adah yang diminta tanggapannya sebagai istri yang mendampingi suami seorang anggota TNI AU, mengaku tabah dan tidak pernah mengeluh.

“Bapak kerja bisa lembur demi tugas negara, bapak tidak pernah mengeluh,” ucapnya.

Ibu Nursa’adah pun membagikan resepnya dalam membesar anak-anak. “Mendidik anak-anak itu harus sabar, tidak boleh terlalu keras, anak saya kebetulan nurut semua apalagi bapak KSAU itu,” aku Ibu Nursa’adah sambil menunjuk Hadi yang disambut tawa dan tepuk tangan hadirin.

Pak Dasuki saat berbagi pengalaman sebagai teknisi Koharmatau. Foto: beny adrian

Masih menurut Ibu Nursa’adah, Marsekal Hadi itu semasa kecilnya tidak pernah nakal, tidak pernah menjawab, dan lebih banyak diem.

“Dia tidak pernah keluarkan air mata, kalau mau keluar (air mata), matanya dikedipkan saja (jadi air matanya tidak jatuh),” kata Ibu Nursa’adah.

Begitu pun Pak Bambang, menceritakan kenangannya tentang anaknya terutama menyangkut pergaulan. Pak Bambang punya cara agar Hadi tidak terseret pergaulan yang tidak baik, namun tetap ingin anaknya punya hubungan baik dengan teman-temannya.

“Kalau diajak teman mu turuti saja, nanti di jalan kalau diajak yang nggak benar, bilang begini: saya lagi disuruh bapak, lupa, saya tak pulang dulu ya, nanti tak susul,” ujar Pak Bambang.

Lepas dari pengalaman inspiratif yang dibeberkan ketiga teknisi senior Koharmatau ini, sesungguhnya kedatangan Bambang malam itu betul-betul mengagetkan KSAU beserta jajarannya dan semua hadirin yang hadir malam itu.

Bahkan staf koordinator administrasi KSAU yang mylesat.com coba konfirmasi, semua mengaku tidak tahu sama sekali soal itu.

“Saya sama sekali tidak tahu, kejutan beneran,” kata Lettu Pas Holik Maulana, yang merupakan ADC (ajudan) KSAU.

Meskipun tugas panitia hanya mendatangkan Pak Bambang dan Ibu Nursa’adah, namun di balik keberhasilan panitia membuat surprise KSAU malam itu adalah sebuah operasi intelijen yang sempurna.

Menurut Mayor Sus Ayi Supriadi, ide ini berawal dari Komandan Koharmatau Marsda TNI I. Tryandono yang ingin memberikan sentuhan lain di malam sambung rasa.

Karena Dankoharmatau menyadari tidak mungkin bisa menandingi meriahnya acara HUT Korpaskhas yang memiliki banyak pasukan dan kisah operasi gemilang. Malam sambung rasa Paskhas juga digelar di tempat yang sama pada 16 Oktober lalu.

Serka (Pur) Bambang Soedarto dan ibu Nursa’adah. Foto: beny adrian

Mungkin dari situ Tryandono tercetus untuk memberikan kejutan. Tim kecil pun dibentuk Koharmatau yang terdiri dari Kolonel Tek Bambang Triono, Kolonel Tek MD Riswanto, Letkol Sus Bahtiar Hermawan, Mayor Sus Ayi Supriadi, dan Mayor Tek Asep Kurnia.

Pada hari yang dijanjikan dan sepengetahuan KSAU, datanglah tim beranggotakan Mayor Ayi dan Mayor Asep ke kediaman Pak Bambang di Malang. Kepada Pak Bambang, tim menyampaikan maksud kedatangannya untuk wawancara guna penyusunan buletin.

“Saat itu belum dikomunikasikan dengan beliau tentang rencana ini, hanya disampaikan untuk keperluan tulisan saja,” urai Ayi lewat pesan singkat WA.

Tim kedua yaitu Kolonel Bambang dan Mayor Ayi, kembali menemui Pak Bambang di Malang.

Kedua perwira Koharmatau ini menyampaikan rencana rahasia komandannya dan mendiskusikannya dengan Pak Bambang.

“Saya setuju,” jawab Pak Bambang singkat.

Panitia menyadari bahwa tingkat kesulitan tertinggi dari rencana ini adalah, bagaimana mendatangkan Pak Bambang tanpa seorang pun termasuk KSAU mengetahuinya.

Dalam kondisi yang berbeda, rasanya kok sama kritisnya dengan kerahasiaan yang harus dijaga Mayjen Benny Moerdhani saat mendatangkan 32 pesawat A-4 Skyhawk dan kemudian mengirim para penerbang dan teknisi ke Israel dalam Operasi Alpha.

Skenarion pun disusun. Diputuskan bahwa misi ini hanya diketahui oleh Komandan Koharmatau dan tim saja. Tidak ada yang lain.

Tim inti sempat mengendus kebocoran informasi di kalangan panitia, namun dengan tenang disikapi Komandan Koharmatau dengan sikap innocent dan tim tidak pernah membahasnya di forum resmi.

H-1, 24 Oktober 2017, pesawat Garuda yang ditumpangi Pak Bambang dan Ibu Nursa’adah dari Malang, mendarat di Lanud Adisucipto, Yogyakarta.

Dalam briefing dengan protokol Bandara dan pihak pengamanan Lanud (Intelpam), tim hanya menyampaikan bahwa mereka sedang menunggu tamu VIP, tolong dibantu.

Siapa orangnya, namanya, mau kemana, tidak perlu tahu. “Tolong dibantu saja, nanti kami yang ambil,” ujar Ayi kepada pihak Intelpam.

Tanpa banyak protokol lagi, kedua tamu VIP ini langsung dibawa ke Hotel Satoria yang berjarak sekitar dua kilometer dari Lanud.

Mission accomplished.

 

Teks: beny adrian

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s