Komuniti

Munas Dharma Pertiwi, Ibu Nanny: Ingin Program yang Mengakar ke Bawah

Pagi ini, Kamis (25/1/2018), bertempat di Balai Sudirman, Jakarta, Panglima TNI Marsekal TNI Hadi Tjahjanto menghadiri pembukaan Musyawarah Nasional (Munas) XIII Dharma Pertiwi Tahun 2018. Munas dilaksanakan secara maraton dari 23-25 Januari 2018.

Dharma Pertiwi adalah organisasi di tingkat Mabes TNI yang menaungi organisasi para istri anggota TNI baik di Angkatan Darat (Kartika Candra Kirana), Angkatan Laut (Jalasenastri), dan Angkatan Udara (PIA Ardhya Garini).

Munas Dharma Pertiwi yang biasanya dilaksanakan tiga tahun sekali, mulai saat sesuai arahan Ketua Umum Dharma Pertiwi Nanny Hadi Tjahjanto, akan dilaksanakan setiap lima tahun. Menurut Ibu Nanny, periode lima tahun dinilai lebih ideal untuk merealisasikan sebuah program bisa berjalan dan berkesinambungan.

Dalam sambutannya, Panglima TNI mengatakan betapa pentingnya peran seorang ibu dalam rumah tangga. Baik dalam mendukung tugas suami di TNI maupun dalam membina keluarga yang berkualitas.

“Kaum ibu adalah pahlawan sejati, ibu-ibu dengan tulus dan ikhlas telah memberikan sesuatu melebihi dari yang seharusnya diberikan. Hanya dari kaum ibu lah awalnya manusia mengenal pendidikan dan kebudayaan,” ujar Panglima TNI.

Panglima TNI juga menegaskan kembali, bahwa keberhasilan seorang suami tidak akan terlepas dari sosok istri hebat yang mendampinginya.

“Siapa lagi sosok penting di balik layar itu, tidak lain dan tidak bukan adalah sosok ibu, sosok istri,” jelas Marsekal Hadi.

Munas Dharma Pertiwi dibuka oleh Ibu Nanny Hadi Tjahjanto dengan tiga kali ketukan palu. Ibu Nanny berharap Munas Dharma Pertiwi akan melahirkan kebijakan-kebijakan yang mendasar, berakar dari bawah dan bermanfaat bagi seluruh anggotanya, yaitu para istri anggota TNI.

Munas Dharma Pertiwi mengambil tema: Dilandasi semangat kebersamaan, Dharma Pertiwi bertekad meningkatkan kepeduliaan sosial, pendidikan, dan kesehatan guna mewujudkan kesejahteraan prajurit dan keluarganya.

Ibu Nanny Hadi Tjahjanto saat memberikan sambutan. Foto: beny adrian

Munas ini dihadiri oleh 813 peserta. Sebanyak 144 orang adalah peserta inti, 236 orang dari Persit Kartika Candra Kirana, 205 orang dari Jalasenastri, 116 orang dari PIA Ardhya Garini, 110 orang dari IKKT serta empat orang pendamping dari Mabes TNI.

Dalam sambutannya saat membuka Munas, Ibu Nanny menyampaikan beberapa hal mendasar yang harus diperhatikan selama Munas yang akan dibahas di dalam kelompok kerja (Pokja) untuk dirumuskan sebagai program Dharma Pertiwi lima tahun ke depan.

Satu hal menarik yang ditekankan Ibu Nanny adalah untuk selalu menyanyikan lagu Indonesia Raya pada setiap acara resmi yang ada bendera Merah Putih di dalam ruangan acara. “Tolong diperhatikan dan dimasukkan ke dalam aturan,” ujar Ibu Nanny.

Meski belum dua bulan menjadi Ketua Umum Dharma Pertiwi, Ibu Nanny terlihat sudah menaruh harapan begitu besar kepada Dharma Pertiwi sebagai wadahnya organisasi para istri TNI.

Karena itu di dalam Munas ini, Ibu Nanny berharap semua peserta untuk aktif dalam setiap forum diskusi memberikan masukan, kritik, dan saran kepada Dharma Pertiwi.

Dengan kata lain, Ibu Nanny sangat ingin program kerja Dharma Pertiwi lahir dari keinginan dan harapan seluruh anggotanya. Sehingga program dan aturan yang nanti disahkan di akhir Munas, benar-benar berasal dari masukan anggota, keinginan anggota yang ingin diwujudkan.

Keinginan itu terlihat jelas saat Ibu Nanny memberikan sambutan. Berkali-kali Ibu Nanny terdengar merangsang para peserta untuk aktif selama proses penyiapan materi di Pokja masing-masing.

Tidak hanya itu, Ibu Nanny juga mendatangkan lima narasumber sehari sebelum dibukanya Munas ini. Kelima narasumber ini diharapkan memberikan bekal dan menginspirasi para peserta Munas untuk memasuki fase diskusi.

Narasumber yang didatangkan adalah Devy Luhut Panjaitan dengan tema ceramah “Postur Istri TNI”, Irjen (Pur) Basaria Panjaitan dengan ceramah “Perempuan Anti Korupsi”, Nora Ryamizard Ryacudu dengan tema “Kepemimpinan”, Dr. Victor Pudjiati tentang “Bahaya Narkoba”, dan Triawan Munaf tentang “Masalah Ekonomi Kreatif”.

Munas Dharma Pertiwi memiliki nilai strategis untuk mengevaluasi dan merumuskan kembali peran srategis organisasi. Apalagi bagi Dharma Pertiwi yang sudah berusia 53 tahun, Munas ini dilaksanakan berbarengan dengan Rapim TNI dan Apel Komandan Satuan yang digelar di Mabes TNI.

Sehingga para istri anggota TNI yang hadir dalam Munas ini pun berjenjang dari komandan satuan setingkat batalion hingga kepala staf angkatan.

Untuk membahas agenda Dharma Pertiwi lima tahun ke depan, pembahasan dilakukan oleh tiga kelompok kerja. Yaitu Pokja AD/ART, Pokja Rencana Kerja, dan Pokja Atribut. Setiap Pokja dipimpin oleh ketua umum organisasi di Angkatan, yaitu istri KSAD, KSAL, dan KSAU.

Pokja AD/ART dipimpin Ibu Sita Mulyono, Pokja Rencana Kerja dipimpin Ibu Ayu Yuyu Sutisna, dan Pokja Atribut dipimpin Ibu Endah Ade Supandi.

Setiap Pokja membahas berbagai detail terkait bidangnya. Seperti Pokja Atribut, membahas segala hal menyangkut seragam dan asesoris yang menyertainya.

Satu contoh soal penyebutan PSK (Pakaian Seragam Kerja), sempat didiskusikan di Pokja Atribut apakah akan tetap dipakai atau diganti dengan BSK (busana seragam kerja) atau PSH (pakaian seragam harian).

Namun dengan niat baik dan positive thinking, istilah PSK tetap dipakai karena memang sudah terlanjut lazim di lingkungan Dharma Pertiwi.

Tidak lupa kepada seluruh peserta Munas, Ibu Nanny berpesan agar anggota Dharma Pertiwi lebih aktif dalam forum organisasi kewanitaan di tingkat nasional.

Hal ini disampaikan Ibu Nanny, karena mengaku pernah mendengar dan melihat sendiri dalam sebuah forum nasional, Dharma Pertiwi seperti tidak terlihat dan tidak disebutkan kehadirannya.

“Jadi mohon kalau ada acara tingkat nasional, ibu-ibu untuk mengambil tempat di depan supaya terlihat kehadirannya,” pesan Ibu Nanny.

Tidak lupa Ibu Nanny menyampaikan kepada ibu-ibu yang eksis di zaman millennial ini, zaman now, untuk benar-benar bisa menyesuaikan diri dengan perkembangan. Mulai dari cara berpakaian, bersikap, berbicara, memilih pakaian, memilih asesori dan sebagainya.

Sebelumnya dalam sarasehan Dharma Pertiwi pada hari pertama (23/1/2018), hadir para senior dan pendahulu Dharma Pertiwi dari masa ke masa. Yaitu Ibu Try Sutrisno, Ibu Edi Sudrajat, Ibu Widodo AS, Ibu Endriartono Sutarto, Ibu Djoko Suyanto, Ibu Agus Suhartono, Ibu Moeldoko, dan Ibu Gatot Nurmantyo.

 

Teks: beny adrian

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close