Semakin Sulit Dipantau, Panglima TNI Ajak ASEAN Bekerja Sama Lebih Kuat dalam Perangi Terorisme

Dalam kesempatan kedua penyampaian makalahnya pada sidang ke-15 ACDFIM di Singapura (8/3/2018), Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto sejumlah penekanan terkait masalah terorisme di kawasan ASEAN.

Sebelum berbicara panjang lebar soal terorisme, Marsekal Hadi terlebih dahulu memperkenalkan dirinya sebagai Panglima TNI ke-18 yang baru kepada koleganya.

Menurut Marsekal Hadi, persahabatan yang tulus di antara negara-negara ASEAN yang didasari saling menghormati, merupakan fondasi kokoh demi terciptanya kerjasama yang kuat di ASEAN.

“Saya memandang positif hal ini sebagai sarana bagi kita untuk bertatap muka dan berbagi pengalaman mengenai isu strategis, yaitu ancaman di ASEAN. Sesuai dengan tema pertemuan ini yaitu Strengthening Cooperation, Building Resilience (Memperkuat Kerja Sama Membangun Ketahanan),” tutur Hadi dalam paparannya.

Dalam makalahnya, Hadi menyampaikan sejumlah poin yang dilakukan TNI dalam menanggulangi aksi terorisme, serta sikap dan peran TNI dalam menanggulangi terorisme.

Menurut Panglima TNI, serangan teroris telah menunjukkan kepada kita semua bahwa tidak ada lagi bagian di dunia ini yang aman dari serangan teroris. Karena itu, kata Hadi, ancaman teroris harus menjadi perhatian serius bagi semua negara termasuk militer ASEAN.

“Ancaman aktul ini tidak hanya berpengaruh kepada kedaulatan masing-masing, tpai juga berpengaruh terhadap konstelasi perdamaian dan keamanan di ASEAN,” jelas Hadi. Sekali lagi ditegaskan Hadi, bahwa terorisme adalah ancaman serius bagi kita semua dan dapat ditegaskan bahwa terorisme adalah musuh bersama.

Foto bersama delegasi TNI dalam ACDFIM ke-15 di Singapura. Foto: beny adrian

Dalam situasi yang kompleks saat ini, ASEAN juga menghadapi kondisi perubahan yang begitu cepat dengan terjadinya gelombang reformasi industri ke-4 yang menimbulkan dampak luas dalam banyak aspek kehidupan manusia.

Sementara kesenjangan ekonomi masih menjadi isu sensitif yang di sisi lain dimanfaatkan kelompok teroris untuk membangun jaringan dan pengikut. “Kesenjangan ekonomi dan sosial telah menimbulkan tumbuh suburnya radikalisme,” kata Panglima TNI.

Maka dapat dipastikan bahwa terorisme sebagai wujud perang aismeteris, akan bertransofmrais sesusai kondisi yang berkembang.

Belum lagi penggunaan senjata biologi, menjadi sarana atau senjata bagi teroris dalam melakukan aksi yang menimbulkan dampak berlapis. Oleh sebab itu, semakin jelas kalau potensi aksi terorisme akan semakin meningkat.

Dalam makalahnya, Panglima TNI menyampaikan bahwa karakterisitk utama saat ini adalah perubahan tak terduga pada faktor kecepatan, skala, dan kekuatan. Untuk itu Hadi mengajak para pemimpin angkatan bersenjata ASEAN yang dihuni oleh lebih 650 juta penduduk, untuk bersama-sama memerangi kondisi ini.

Fakta menunjukkan bahwa terorisme di ASEAN tidak terlepas dari aksi terorisme di dunia dan dinamika terorisme di tataran global.

Terakhir dengan munculnya fenomena ISIS, telah melahirkan fenomena baru dalam perang melawan terorisme sejak dunia mulai menghadapi ancaman teroris sejak tahun 1970-an. Gerakan teroris telah berubah menjadi jaringan terorganisir lintas negara, dengan sasaran tidak lagi sebatas aparat keamanan atau simbol pemerintah.

Jaringan teroris model baru yang berkembang sejak 2014, juga memanfaatkan para pengguna media sosial sebagai sasaran perekrutan. Hadi tidak menutupi kenyataan bahwa banyak warga Indonesia yang kembali ke tanah airnya dan terpapar ideologi ISIS, telah menjadi pelaku teror di Indonesia. Pelaku tunggal pun menjadi model dalam gerakan terorisme.

Indonesia sebagai negara mayoritas islam dijadikan ISIS sebagai lahan untuk melahirkan sel-sel tidur yang sulit dideteksi keberadaan dan aksinya. Sel-sel tidur ini dapat sewaktu-waktu melakukan aksi sabotase dengan sasaran terpilih.

Menurut Hadi, TNI memandang terorisme sebagai ancaman nyata yang komplek sehingga penanganannya pun membutuhkan totalitas negara. Diperkirakan aksi teroris ke depan akan semakin sulit dipantau, dikarenakan adanya pelaku tunggal (lone wolf) yang memanfaatkan kemajuan teknologi.

Untuk menghadapi ancaman terorisme, TNI menyiapkan satuan antiteror tiga matra sebagai standby force. Selain itu TNI juga meningkatkan saling keterkaitan di antara komunitas intelijen TNI dan dengan intelijen lainnya. Termasuk dengan negara sahabat berdasarkan kepentingan dan manfaat bersama.

Untuk itu Hadi menyampaikan harapan kepada para Panglima AB ASEAN untuk terus membangun kerja sama di Kawasan secara berkelanjutan, karena terorisme sangat adaptif dengan perubahan zaman.

“Oleh karenanya tindakan ke depan harus dinamis dan konsisten dalam kerangka semangat ASEAN dengan rasa saling percaya dan menghormati,” jelas Panglima TNI.

Upaya-upaya sub regional serta penguatan kerjasama sub regional seperti patroli bersama di Malaka, merupakan bentuk penguatan kerjasama guna mempersempit gerakan radikal.

Satuan siber militer ASEAN dan kerjasama siber ASEAN perlu terus ditingkatkan untuk menghadapi ancaman siber. Para personel di lapangan juga harus lebih sering melakukan pertukaran ahli dan saling mengunjungi.

Karena ancaman teroris juga mencakup aspek biologis, Panglima TNI meminta perlu juga dibentuk kerja sama di antara pusat kesehatan ASEAN dalam menghadapi bio threat.

“Saya berharap secara bersama-sama kita dapat meningkatkan kemitraan komprehensif yang dilandasi semangat ASEAN untuk mewujudkan kawasan ASEAN yang aman, damai, sejahtera,” ungkap Panglima TNI.

 

Teks: beny adrian

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: