Hankam

Sayang Dilewatkan, Ini Obrolan Santai Makan Siang Panglima TNI dan Dubes RI untuk Singapura

Usai mengikuti rangkaian pertemuan dan sidang ASEAN Chiefs of Defence Informal Forces (ACDFIM) ke-15 di Hotel Fullerton, Singapura (7-9/3/2018), Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto beserta Ibu Nanny Hadi Tjahjanto dan rombongan menyempatkan diri bersilaturahim ke Kedubes Indonesia di Singapura sebelum kembali ke tanah air selepas shalat Jumat.

Panglima TNI tiba di Kedubes Indonesia di Singapura sekitar pukul 12.15 siang. Tak lama kemudian, Marsekal Hadi dan rombongan menjalankan shalat jumat di Masjid Istiqomah. Jemaah di masjid yang berada di bagian belakang komplek Kedubes Indonesia itu cukup ramai.

Selepas menunaikan shalat Jumat, Dubes Indonesia untuk Singapura I Gede Ngurah Swajaya, menjamu makan siang Panglima TNI dan rombongan. Hadir dalam jamuan makan siang ini Asisten Intelijen Panglima TNI Mayjen Benny Indra Pujihastono, Asisten Operasi Panglima TNI Mayjen Lodewyk Pusung, dan Kapuspen TNI Mayjen MS Fadhilah.

Celotehan santai pun mengalir usai jamuan makan siang. Seperti soal Atase Pertahanan Indonesia untuk Singapura Kolonel Pnb Tjahya Elang Migdiawan, yang kata Hadi, namanya saja sudah Migdiawan, seperti nama pesawat tempur buatan Rusia yaitu MiG.

Panglima TNI dan jemaah Masjid Istiqomah. Foto: beny adrian

Usut punya usut, ternyata orang tua Migdiawan yaitu Marsma (Pur) Donan Sunanto adalah juga penerbang TNI AU yang alumni AAU 68.

Pesawat yang diterbangkan almarhum ayahnya juga tidak main-main, yaitu MiG-21 Fishbed, F-86 Sabre, dan A-4 Skyhawk. “Namanya saja sudah Mig, nama pesawat tempur MiG dari Rusia,” ujar Hadi tertawa kepada Dubes.

“Bagaimana kalau menjadi penerbang Sukhoi,” celetuk Panglima TNI kepada Migdiawan yang biasa dipanggil Mig itu.

Rupanya Migdiawan yang alumni AAU 93 dan pernah menjadi Komandan Skadron Udara 1, juga hampir menjadi penerbang Sukhoi. “Saya hampir kasih nama anak saya Pipit Rasido Sukhoi,” jawab Mig senyum.

Rasido di sini maksudnya adalah mengutip dari bahasa Jawa, ora sido yang berarti tidak jadi penerbang Sukhoi.

Saat berbincang dengan mylesat.com, terungkap bahwa Kolonel Migdiawan ternyata juga penerbang Skyhawk, pesawat tempur TNI AU yang didatangkan ke tanah air melalui operasi intelijen yang sempurna yaitu Operasi Alpha.

Suasana jamuan makan siang Panglima TNI dan Ibu Nanny Hadi Tjahjanto di Kedubes RI di Singapura. Terlihat Kolonel Migdiawan (sebelah Panglima TNI), Dubes (batik, di depan Panglima), dan Asops Panglima TNI (sebelah Dubes). Foto: beny adrian

Tidak sekadar menjadi penerbang Skyhawk seperti almarhum ayahnya, Mig ternyata menyimpan kenangan sangat spesial dengan pesawat Skyhawk yang diterbangkannya. “Bapak saya yang menerbangkannya pertama kali di TNI AU, dan saya yang menerbangkannya terakhir kali di TNI AU,” ujarnya.

Memang saat farewell flight A-4 Skyhawk dari Lanud Iswahyudi ke Lanud Adisutjipto, bukan Migdiawan yang duduk di kokpit melainkan rekannya. Namun saat itu ia menjadi bagian dari penerbang Skyhawk yang ditempatkan di Skadron Udara 11.

Ia pun membuka-buka galeri foto di telepon selularnya, lalu memperlihatkan koleksi foto-foto Skyhawk TNI AU dari masa ke masa. Di antaranya ada foto ia bersama beberapa penerbang Skyhawk, yang di antaranya gugur dalam tugas. “Yang ini gugur, ini gugur, ini saya,” ujarnya lirih.

Ada juga galeri foto para penerbang Sabre, yang di antaranya terlihat ayahnya Kapten Pnb Donan Sunanto. Seperti diketahui, Indonesia menerima hibah F-86 Sabre dari Australia pada 9 April 1973.  Dari kiprahnya di tanah air, pesawat ini melahirkan penerbang-penerbang andal TNI AU. Seperti Suyamto, Anggoro, Irawan Saleh, Tri Soeharto, FX Suyitno, Boediardjo, Sulaiman Supriyatna, Sutejo, Holky Bk, Donan Sunanto, dan Sudahlan.

Dari galeri foto di smartphone-nya itu pula Migdiawan lantas teringat salah satu fotografer udara andal pada masa itu, yaitu Didik Nur Yusuf yang tak lain dari wartawan Majalah Angkasa.

Mig kemudian memperlihatkan beberapa foto Skyhawk yang diambil oleh Didik. Dari beberapa foto itu juga terlihat wajah Migdiawan.

Seperti sebuah foto karya Didik yang memperlihatkan saat Mig melakukan pre-flight check. Di foto itu terlihat Mig dengan posisi membungkuk, tengah memeriksa drop tank. “Kenangan saya dengan Didik banyak sekali,” akunya.

Didik Yusuf dan Dody Aviantara adalah wartawan Angkasa yang gugur dalam musibah jatuhnya pesawat Sukhoi Superjet-100 di Gunung Salak pada 9 Mei 2012.

Selesai menyantap jamuan makan siang di Kedubes RI di Singapura, Panglima TNI pun berpamitan dengan Dubes beserta staf. Namun sebelum pamit, Dubes menyerahkan buku “50 Years Indonesia and Singapore Rising 50”.

Baca: RiSing 50: KSAU Akan Onboard di Pesawat F-16

Sambil menerima bukunya, Hadi mengatakan bahwa ia menjadi salah satu pelaku dalam peringatan 50 tahun hubungan diplomatik Indonesia dan Singapura pada 7 September 2017.

Panglima TNI menerima buku dari Dubes RI untuk Singapura. Foto: beny adrian

Dalam peringatan itu, Hadi yang saat itu menjadi KSAU, on board di pesawat F-16 TNI AU yang melakukan combined flypast dengan F-16 RSAF di atas wilayah Singapura. “Ada foto saya nggak di dalamnya,” canda Hadi.

Kesempatan itu pun dimanfaatkan Dubes dan para staf untuk melakukan foto bersama dengan Panglima TNI dan Ibu Nanny Hadi Tjahjanto. “Terima kasih atas sambutannya, makanannya enak semua,” tutur Hadi kepada staf Kedubes.

 

Teks: beny adrian

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close