Hampir 41 Tahun Tidak Tersentuh, Yonif 621 Capai Patok Perbatasan Indonesia-Malaysia di Nunukan

Tidak mudah perjuangan anggota Batalyon Infanteri 621/Manuntung (Yonif 621) saat melaksanakan patroli operasi patok di perbatasan Indonesia dan Malaysia di Kalimantan Utara (Kaltara).

Yonif 621 berada di bawah Korem 101/Antasari, Kodam VI Mulawarman. Yonif 621 yang berada di Barabai, Hulu Sungai Tengah, Kalimantan Selatan ini dipimpin oleh Letkol Inf Rio Neswan.

Sebagai Satgas Pamtas, Yonif 621 mempunyai tugas berat mengamankan wilayah perbatasan dan memeriksa patok perbatasan Indonesia dan Malaysia yang dibangun tahun 1977.

Saat mengunjungi Pos Satgas Pengamanan Perbatasan Indonesia-Malaysia di Desa Aji Kuning, Kecamatan Sebatik Tengah, Kabupaten Nunukan, Kaltara, Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto langsung mendapat laporan dari Komandan Yonif 621 Letkol Rio Neswan.

Danyonif 621 menyambut Panglima TNI di depan Satgas Pamtas. Foto: beny adrian

Rio melaporkan kepada Marsekal Hadi pencapaian tim patroli patok Yonif 621 selama hampir sebulan di wilayah perbatasan.

Satgas Pamtas Yonif 621 bertugas di wilayah Kabupten Nunukan, dengan disposisi pasukan di lima kecamatan Kabupaten Nunukan yang berbatasan dengan Malaysia.

Yakni Kecamatan Sebatik, Simanggaris, Sepu, Tulenongsoi, dan Lumbis. Sedangkan Kecamatan Krayan berada di bawah kendali Yonif 141.

Sektor yang menjadi tanggung jawab Yonif 621 memiliki panjang 363 kilometer yang di dalamnya terdapat 4.087 patok. Patok adalah sebuah tiang beton yang dibangun secara bersama oleh Indonesai dan Malaysia sebagai penanda batas kedua negara.

Persoalannya, di wilayah Lumbis terdapat blank spot area yang menjadi tanggung jawab Pos Lumbis. Blank post area ini memiliki panjang 24 kilometer yang di dalamnya terdapat 368 patok yang tidak pernah dijamah sejak awal pembentukan Satgas Pamtas tahun 2006.

Bahkan sebanyak 363 patok disebutkan tidak pernah terjamah sejak pemasangan patok bersama Indonesia dan Malaysia tahun 1977.

Dalam melaksanakan tugas patroli operasi patok ini, tim Yonif 621 yang dipimpin Kapten Ari Wahana hanya memberangkatkan satu tim dengan anggota terpilih. Yaitu yang sudah berpengalaman dan memiliki mental kuat. Tim membawa dua telepon satelit dan helikopter untuk dukungan logistik dan emerjensi lainnya.

Tim kecil ini berangkat pada 15 Januari 2018 menggunakan perahu ketinting dengan perjalanan melawan arus selama enam jam. Setelah delapan hari perjalanan, Tim Patroli tiba di Patok P3499 yang merupakan patok awal di blank spot area. Dalam perjalanannya, Tim sempat diikuti helikopter Malaysia.

Panglima TNI dan Kapolri memberikan penghargaan kepada prajurit di lapangan. Foto: beny adrian

Dari sini, Tim melanjutkan perjalanan ke Patok C001 yang sudah pernah dikunjungi Tim Ekspedisi Khatulistiwa 2012.

Di Patok C001, Tim melaporkan kepada Dansatgas bahwa mereka sudah tiba namun logistik sudah menipis yang tidak sampai 10 hari perjalanan dengan lauk hanya untuk dua hari saja.

Dengan sisa lauk kurang dua hari, Tim melanjutkan patroli ke Patok C200 dan tiba pada 28 Januari 2018. Mereka sudah sudah kehabisan lauk selama satu hari.

Atas dasar pertimbangan itu, Dansatgas melaporkan kepada Kodam Mulawarman bahwa dalam sisa perjalanan yang semakin berat dan medan bertambah terjal, Tim disarankan untuk kembali.

Kemudian dilakukan pengiriman logistik dari udara menggunakan helikopter Bell-412 TNI AD. Karena logistik akan dijatuhkan di Patok C141, Tim terpaksa kembali mundur ke Patok C141.

Setelah itu Tim melanjutkan perjalanan ke ujung patok paling barat yaitu Patok C481. Dalam perjalanannya, Tim menemukan Patok C400 yang kondisinya sudah tertutup pepohonan dan belum dilihat selama puluhan tahun.

Karena itu Tim langsung melakukan pembersihan. Akhirnya pada 3 Februari 2018, Tim tiba di Patok C481, salah satu Patok perbatasan Indonesia dan Malaysia yang tidak tersentuh selama 41 tahun.

Dalam perjalanan setelah meninggalkan C481, tim dihadang cuaca ekstrem yang melumpuhkan telepon satelit yang digunakan Tim. Selama delapan hari, Tim lost contact dengan Posko di Sebatik maupun Lumbis. Namun dengan mental baja dan tekad kuat, Tim meneruskan perjalanan menuju titik penjemputan di Sungai Sedalir pada 13 Februari 2018.

Akhirnya dengan menumpang perahun ketinting, sehari kemudian Tim tiba di dermaga desa di Lumbis dan disambut langsung oleh Dansatgas Pamtas serta masyarakat.

Dari rekaman video yang ditayangkan kepada Panglima TNI, terlihat jelas beratnya medan yang dilalui anggota Yonif 621. Hutan perawan yang lebat di Kalimantan, harus mereka tembus. Tentunya jika bukan prajurit terlatih, niscaya misi seperti ini akan berhasil.

Dantim Kapten Ari Wahana mengaku bangga karena dia dan anggotaanya mampu mencapai patok yang sejak dibangun tahun 1977, berhasil kembali dikunjungi oleh Satgas TNI. Mereka pun menceritakan suka dan duka selama patroli.

Seperti diakui Kopda Parwanto, sangat merasakan bahwa rekan-rekannya sangat kuat dan tangguh meski kondisi badan sudah lemah dan logistik berkurang. “Kami sampai empat hari hanya makan nasi bubur,” ujarnya. Begitu pula Praka Suranto, harus memanggul beras 70 kilogram selama patroli.

Namun karena logistik mulai menipis, tuturnya, mereka terpaksa mencari tikus dan babi hutan atau apa saja yang bisa dimakan. “Badan lelah, makanya banyak minum vitamin,” katanya.

Lebatnya hutan Kalimantan membuat matahari tidak sepenuhnya menembus hingga ke permukaan tanah. Kondisi ini sedikit banyak membantu fisik anggota Tim karena tidak langsung terpapar matahari.

“Selama 24 hari patroli, kami hampir tidak pernah mengeluarkan keringat bahkan melihat matahari bisa dihitung jari,” tutur Pratu Syamiriadi yang berpesan kepada tim selanjutnya untuk tidak mudah menyerah dalam melaksanakan tugas patroli.

Testimoni di rekaman video anggota Yonif 621 yang merupakan anggota Tim Patroli Patok. Foto: beny adrian

Setelah mendengar laporan dari Danyonif 621, Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto langsung menyampaikan bahwa Mabes TNI selanjutnya akan memberikan dukungan maksimal dalam setiap tugas operasional seperti patroli operasi patok ini.

“Ada yang mengharukan saya, 41 tahun pos itu dibangun dan baru kali ini pos itu ditinjau kembali oleh pasukan pengamanan perbatasan, saya memberikan salut dan hormat kepada seluruh prajurit yang sudah berhasil melaksanakan tugas tersebut,” kata Marsekal Hadi saat memberikan arahan kepada prajurit TNI-Polri di Sebatik.

Dijelaskan Marsekal Hadi, wilayah Kaltara memiliki panjang perbatasan lebih 1.000 kilometer dan terdapat 14.000 jalan tikus yang bisa digunakan untuk menyusup. “Di sini letak soliditas TNI-Polri untuk bahu membahu menghalau penyelundup yang masuk,” tegas Hadi.

Kepada seluruh prajurit yang bertugas di daerah perbatasan, Panglima TNI mengatakan untuk tetap mengikuti prosedur yang berlaku, terutama untuk setiap kegiatan di bibir garis perbatasan.

“Selalu bawa GPS sehingga kalian tidak masuk wilayah negara lain. Yakinkan posisi saudara tepat di wilayah kita,” pesan Panglima TNI.

 

Teks: beny adrian

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: