Tinjau Operasi SAR KM Sinar Bangun, Panglima TNI Perintahkan Kirim Heli dan Sensor Bawah Air

Di dalam posko operasi SAR Gabungan di Dermaga Pelabuhan Tigaras, Nagori Tigaras, Kecamatan Dolok Perdamaian, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara, Kamis (21/6/20180, Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto mendapat laporan pelaksanaan operasi SAR KM Sinar Bangun yang tenggelam di Danau Toba pada 18 Juni 2018.

Marsekal Hadi yang pernah menjadi Direktur Operasi dan Latihan Basarnas (2011-2013), tahu betul beratnya operasi melaksanakan operasi SAR. Karena itu, Hadi memberikan banyak masukan dalam pelaksanaan operasi SAR ini.

Panglima TNI didampingi Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian, KSAL LaksamanaTNI Siwi Sukma Adji, dan Kepala Basarnas Marsdya TNI Syaugi.

Lokasi posko SAR Gabungan yang berada di Dermaga Tigaras, cukup jauh dari Bandara Silangit yang berada di Siborong-borong, sekitar 140 kilometer dari lokasi.

Panglima TNI menerima paparan Kepala Kantor SAR Medan, Budiawan. Foto: beny adrian/mylesat.com

Pesawat Boeing B737-400 A-7306 dari Skadron Udara 17 yang membawa rombongan Panglima TNI, mendarat di Sibolangit yang berselimutkan kabut pagi.

Karena keterbatasan fasilitas bandara, pesawat tidak bisa parkir di Sibolangit sehingga harus kembali terbang untuk parkir di Lanud Soewando di Medan.

Dari Sibolangit, Panglima TNI dan rombongan menuju Dermaga Tigaras melewati jalur darat dengan waktu tempuh tiga jam. Jalan berbelok-belok dan menanjak, menemani perjalanan di pegunungan yang dingin dengan hamparan pemandangan Danau Toba yang begitu luas.

Tiba di Dermaga Tigaras, Panglima TNI langsung disambut ribuan warga yang berbaur dengan keluarga korban dan awak media. Hadi langsung menuju posko gabungan SAR untuk menerima paparan dari Kepala Kantor SAR Medan, Budiawan, terkait kronologis tenggelamnya KM Sinar Bangun termasuk pencarian dan evakuasi korban.

“Kapal Motor Sinar Bangun tidak memiliki manifest, sehingga data-data laporan korban yang selamat dan meninggal masih simpang siur. Basarnas dan Kepolisian akan melakukan pencarian sesuai SOP,” jelas Panglima TNI kepada awak media.

Menurut laporan Kapolres Samosir AKBP Agus Darojat, KM Sinar Bangun berangkat dari Pelabuhan Simanindo sekitar pukul 16.50. Jarak dari Pelabuhan Simanindo ke Pelabuhan Tigaras mencapai 3,6 mil.

“Kemudian sekitar 2,6 mil dari Pelabuhan Simanindo menuju Tigaras, kapal tenggelam,” ujarnya. Sejumlah korban yang terapung-apung di permukaan air sempat diselamatkan kapal feri lainnya yang berada di tengah Danau Toba.

“Kapal ini tidak melanjutkan bantuan karena juga sedang membawa penumpang, cuaca buruk, dan mengontak kapal lain di Tigaras untuk membantu,” urai Agus.

Masih menurut Agus, malam itu juga pukul 24.00 diberangkatkan tim pencari namun sudah tidak menemukan apa-apa. Pencarian dilanjutkan paginya, juga dengan hasil nihil.

Kantor SAR yang menerima laporan pukul 17.40, langsung merespon dan mengirimkan kapal Basarnas KN 412.

Menurut Budiawan, KM Sinar Bangun dilaporkan mengalami patah kemudi yang membuatnya oleng setelah dihantam gelombang dan angin kencang. “Ini membuat kapal terbalik dan tenggelam,” ujar pejabat Basarnas ini.

Warga dan keluarga korban semakin ramai mendatangi Tigaras, dan sedikit memaksa tim SAR untuk terus melakukan pencarian. Akhirnya untuk meredakan situasi, Basarnas pada hari kedua memberangkatkan kapal pukul 4 dini hari, untuk terlebih dahulu mengisi bahan bakar sejauh 1,5 jam perjalanan.

Untuk memudahkan pencarian, tim dibagi ke dalam empat lokasi yaitu Zona I, Zona II, Zona III, dan Zona IV.

Total tim SAR Gabungan berjumlah 932 personel. Sedangkan tim pencari yang bertugas menyisir lokasi berjumlah 112 personel. Juga disiapkan delapan unit mobil ambulan.

Dari laporan BMKG diperoleh data bahwa pada saat KM Sinar Bangun tenggelam, angin bertiup dari arah timur laut selatan dengan kecepatan 5 knot.

Dalam operasi SAR di perairan, mengetahui kecepatan angin dan arus sangat penting untuk memperkirakan lokasi hanyutnya korban.

Dalam kunjungannya pada hari keempat kejadian itu, Panglima TNI meminta Kepala Basarnas untuk meminta aset helikopter guna memudahkan tim menyisir lokasi. “Kalian kan sudah punya pengalaman di Airasia, mestinya ini bisa diprediksi,” kata Hadi.

Kalau area pencarian sudah mencapai 12 kilometer, diperlukan helikopter. Saya minta Kabasarnas meminta aset heli untuk menyisir,” jelas Marsekal Hadi.

Tidak hanya itu, Panglima TNI juga meminta Pusat Hidrografi dan Oseanografi TNI AL (Pushidrosal) untuk membantu proses pencarian.

Dari hasil analisa lapangan Dishidrosal, diketahui bahwa bahwa Danau Toba memiliki kedalaman hingga 500 meter, sehingga menyulitkan penyelam untuk melakukan pencarian.

Tim SAR juga sudah menurunkan robot ROV (remotely operated underwater vehicle) hingga kedalaman 50 meter.

“Kedalaman yang kita dapat 498 meter. Kedalaman 20 meter penyelam sudah tidak mampu melihat karena danau gelap dan arus kencang cenderung berputar,” ujar Komandan Lantamal I Laksma TNI Ali Triswanto menjelaskan.

Di dalam danau juga ditemukan banyak tanamam ganggang yang bisa saja menahan jenazah korban naik ke permukaan air.

Sore itu rencananya Dishidrosal akan mendatangkan alat sonar khusus untuk mendeteksi keberadaan KM Sinar Bangun yang memiliki panjang 17 meter itu. Sonar magnet ini mampu memberikan gambaran kondisi permukaan bawah danau hingga kedalaman 600 meter.

Dalam arahannya kepada tim SAR, Panglima TNI menyampaikan sejumlah tindakan reaksi cepat yang harus diambil.

Mulai dari mengangkat kapal menggunakan crane dan balloning system atau mengaitkannya dengan jangkar.

Marsekal Hadi juga menanyakan sistem lighting yang dimiliki Basarnas, yang bisa digelar di empat titik (kapal) untuk menerangi areal pencarian.

TNI membuka dapur umum di Posko SAR Gabungan di Dermaga Tigaras. Foto: beny adrian/mylesat.com

“Namun semua itu baru bisa dilaksanakan setelah posisi kapal ditemukan,” ujar Hadi.

Panglima TNI tak lupa memberikan apresiasi kepada pihak Pemda Sumatera Utara yang memberikan dukungan logistik kepada tim SAR. Setidaknya setiap sore dikirim 40 ton bahan bakar.

Usai menerima laporan tim SAR, Panglima TNI menyempatkan diri menaiki KM Patra Jasa yang memiliki ukuran dan kapasitas hampir sama dengan KM Sinar Bangun.

Setelah itu Panglima TNI mengunjungi salah satu korban selamat atas nama Fitri Simbaya di Rumah Sakit Rondahaim.

Fitri sempat sok dan berteriak saat melihat mylesat.com memasuki ruang perawatannya mendahului rombongan Panglima TNI. Menurut pihak keluarga, Fitri tidak mau difoto dan diwawancarai.

KM Sinar Bangun

Kapal Motor Sinar Bangun dinakhodai oleh seseorang dengan inisial TS yang sudah ditangkap polisi. Dari hasil penyelidikan polisi, diketahui bahwa nakhoda merangkap sebagai pemilik kapal.

KM Sinar Bangun dibuat tahun 1999 oleh Simalindo. Kapal diketahui melaksanakan docking terakhir pada 2016.

KM Sinar Bangun dengan konstruksi bertingkat, memiliki GT (gross ton) 17 ton. Hanya saja jendela kacanya dipasangi teralis besi layaknya rumah.

Kapal awalnya diberitakan berpenumpang 80 orang. Lalu berdasarkan daftar korban hilang yang diadukan di posko dari keluarga, ada sekitar 170 orang hilang.

Berdasarkan berat kapal, seharusnya kapal hanya berkapasitas 40 orang.

Sesuai sertifikat kapal dengan 17 GT, KM Sinar Bangun hanya bisa menampung 40 penumpang.

Masih menurut sertifikat, panjangnya 17 meter, lebar 4 meter, dan tinggi 1,5 meter. “Pada kenyataannya tidak sesuai, karena tinggi kapal mencapai tiga lantai,” tutur Kapolres Simalungun AKBP Liberty.

Masih menurut Liberty, KM Sinar Bangun membawa 60 sepeda motor yang umumnya komunitas roda dua yang ingin liburan di Samosir.

Sepeda motor ini dijejer di kedua sisi kapal, masing-masing 30 sepeda motor. Pemiliknya duduk di atas motornya.

Pada kesempatan itu, Kapolri mempertanyakan kemungkinan tindak pidana yang dibalik kejadian ini.

Mulai dari tidak jelasnya manifest penumpang, spesifikasi kapal, alat kelengkapan keselamatan penumpang dan komunikasi kapal, pejabat yang mengeluarkan surat izin berlayar (SIB) sampai ABK yang ikut “main” menaikan penumpang.

Panglima TNI meninjau KM Patra Jasa yang memiliki ukuran sama dengan KM Sinar Bangun. Foto: beny adrian/mylesat.com

“Jangan berspeskulasi soal angka penumpang, harus akurat karena publik menunggu,” tegas Tito.

Untuk naik kapal, penumpang harus membayar Rp 8.000 per orang dan motor Rp 7.000 sehingga total pembayaran Rp 15.000. Sedangkan untuk masuk pelabuhan, dikenakan tiket Rp 1.000.

Menurut Kapolres Samosir, pembagian hasilnya adalah 30 persen untuk nakhoda dan ABK serta 70 persen untuk pemilik kapal.

Sementara pihak Kemenhub yang hadir saat itu menjelaskan bahwa sesuai aturan yang ada, SIB kapal dengan GT di bawah 7, dikeluarkan oleh pihak Kabupaten.

“Di atas itu hingga 300 GT dikeluarkan Dishub Provinsi, sedangkan di atas 300 oleh pemerintah pusat yang didelegasikan ke provinsi,” ujanrya.

 

Teks: beny adrian

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: