Selamat Jalan Pak Erlangga, Maafkan Saya Tidak Pernah Bisa Datang ke Rumah

Meski saya hanya teman “kecilnya” Captain Erlangga Suryadarma di antara teman-teman hebatnya di lingkungan TNI khususnya Kopassus, namun di benak saya selalu terbersit rasa bersalah karena tidak menuliskan berita wafatnya beliau.

Kalau dihitung, ini adalah hari ke-14 Captain Erlangga pergi menemui Sang Khalik. Kakek 78 tahun yang selalu memasang brevet-brevet kebanggaan di dadanya itu, meninggal pada Selasa 24 Juli 2018 pukul 00.30 di RS Pondok Indah, Jakarta Selatan.

Pak Erlangga bersama temannya saat HUT TNI AU di Lanud Halim PK. Foto: beny adrian/ mylesat.com

Pagi-pagi sekali, saya langsung meluncur ke kediaman almarhum di Jalan H. Sijan Blok E No.1, Perumahan Bukit Pratama, Lebak Bulus, Jakarta Selatan.

Belum banyak yang datang, selain hanya kerabat dekatnya. Tenda besar pun masih dipasang dan karangan bunga mulai berdatangan.

Salah seorang tamu yang ternyata teman kuliah dan teman terjun Erlangga saat kuliah di ITB, hanya bisa mengenang sahabatnya yang dikenalnya berani, kocak, dan koboi itu.

“Kita suka ngeledek dia karena terjunnya di Paskhas, sedang saya di Batujajar,” kenang bapak ini.

Erlangga sesungguhnya menyimpan banyak sejarah tentang TNI AU. Foto: Dok. Pribadi

Tak lama kemudian terlihat datang Arifin Panigoro dan Letjen (Pur) Alfan Baharudin. Namun saya tidak bisa berlama-lama di rumah duka, karena harus pergi ke tempat lain.

Alhasil dengan perasaan bersalah, baru malam ini saya bisa menuliskan kenangan saya bersama Capt Erlangga, putra kedua KSAU pertama Laksamana Soerjadi Soerjadarma.

Dari penikahannya dengan Ibu Oetami, Suryadarma memiliki tiga anak yaitu Awaniduhita Priyanti, Erlangga Suryadarma, dan Adityawarman Suryadarma.

Erlangga menggunakan loreng PGT dengan latar belakang MiG-21 Fishbed milik AURI. Foto: Dok. Pribadi

Pertemuan terakhir saya dengan Pak Erlangga, begitu saya biasa memanggil, terjadi pada saat HUT TNI AU ke-72, 9 April 2018 di Lanud Halim Perdanakusuma.

Suara berat itu kembali mengusik kuping saya di antara kerumunan anggota TNI AU di belakang tenda. “Sehat pak,” tanya saya. “Ya, beginilah, gua sudah pensiun,” kata Erlangga santai seperti biasanya.

Terkadang saya merasa sungkan diperlakukan layaknya teman sebayanya, karena usia saya terpaut 30 tahun dengan beliau. Tapi begitulah Pak Erlangga, selalu hangat dan tidak pernah melihat lawan bicaranya secara fisik.

Sudah lama sekali saya kenal dengan Pak Erlangga. Tentunya juga sahabat kentalnya Frank Reuneker, yang berdua kemudian merintis usaha penerbangan carter Airfast Indonesia. Frank lebih dahulu meninggal, pada 22 Februari 2008.

Salah satu foto kenangan yang dikirim ke saya. Dari kiri ke kanan: (sepertinya) TB Simatupang, Jenderal Soedirman, dan Suryadarma. Foto: Dok. Pribadi

Satu pengalaman tidak saya lupakan, ketika Pak Erlangga memperkenalkan saya dengan seorang marsekal pertama yang merupakan putra pendiri TNIAU.

Hari itu sedang berlangsung upacara HUT Kohanudnas di Lanud Halim Perdanakusuma.

Lu harus kenal orang ini,” ujar Pak Erlangga kepada marsekal itu, yang kemudian saya kenal dengan nama Marsma TNI Ian Santoso Perdanakusuma, putra Halim Perdanakusuma. Pertemuan hari itu juga menjadi momen awal keakraban saya dengan Pak Ian.

Pertemuan itu sekitar tahun 1998, karena beberapa waktu kemudian Pak Ian dipercaya menjadi Pangkoopsau II.

Suryadarma (paling kiri) bersama perwira Belanda usai mendarat di Kemayoran dengan pesawat Guntei tanpa meminta izin dari Belanda. Menurut Erlangga, foto ini diambil saat ayahnya menghadiri evakuasi tawanan perang di Asia Tenggara termasuk Hindia Belanda setelah kekalahan Jepang yang dikenal dengan RAPWI (Recovery of Allied Prisoners of War and Interness). Foto: Dok. Pribadi

Sebagai Direktur Airfast bersama Frank Reuneker, tidak sekali-dua kali saya menyambangi Pak Erlangga di kantornya di Kuningan Plaza, North Tower, Jl Rasuna Said, Jakarta.

Terkadang ikut nimbrung Capt. Gatot Purwoko, pilot Airfast yang gugur saat pesawat Sukhoi SSJ-100 jatuh di Gunung Salak. Atau adiknya Frank, Robin Reuneker yang pensiunan Green Beret dengan pangkat master sergeant dan spesialisasi senapan mesin berat.

Kami bertiga selalu ngobrol dari A sampai Z tentang apapun, khususnya sejarah AURI (sekarang TNI AU). Keduanya juga menceritakan keterlibatannya dalam operasi di Mapnduma bersama baret merah.

Foto yang sangat bersejarah saat Erlangga terjun di Bandung. Paling kiri dengan loreng Pelopor adalah Anton Soedjarwo yang kemudian menjadi Kapolri. Terlihat Erlangga berdiri di samping Anton Soedjarwo. Foto: Dok. Pribadi

Beberapa hal sensitif juga tidak luput dari obrolan santai kami, biasanya terkait operasi militer.

Seperti kebiasaannya sejak lama saat menghadiri upacara militer, Erlangga memang tidak pernah duduk di tenda undangan bersama tamu lainnya.

Ia lebih suka bergerombol dan ngobrol di antara protokol dan prajurit lainnya yang berdiri di belakang tenda. Karena memang Pak Erlangga tipe orang lapangan.

Saat bertemu Pak Erlangga di Halim, saya agak kaget karena beliau terlihat lebih kurus dan tidak sehat.

Erlangga di sebuah spot di ketinggian di pedalaman Papua. Terlihat tailboom helikopter Bell-205 milik Airfast. Foto: Dok. Pribadi

“Kondisi gua sudah menurun, tahun kemarin beberapa kali diserang stroke ringan, ini baterai jantung juga sudah mau habis kata dokter,” akunya.

Sudah beberapa tahun ini, Pak Erlangga menggunakan alat pacu jantung (pacemaker) untuk membantu mengontrol detak jantungnya.

“Makanya kalau ada upacara seperti ini gua selalu berusaha untuk hadir, karena bisa ketemu banyak orang, bisa ngobrol, karena dokter sudah vonis gua, ini tahun terakhir gua,” ucapnya enteng.

Saat itu Pak Erlangga bilang bahwa tahun ini mungkin menjadi tahun terakhirnya menghadiri HUT TNI AU. Dengan kondisi kesehatannya, ia seperti sudah tahu takdir yang akan menjemputnya. Namun saya berusaha mengalihkan pembicaraan, untuk tidak membahas kesehatannya.

Erlangga bersama Prabowo Soebijanto dan anggota Kowad dalam sebuah acara di Mako Kopassus di Cijantung. Foto: Dok. Pribadi

Seperti biasa, Pak Erlangga kemudian menceritakan banyak hal tentang masa perjuangan. Tentang bagaimana ayahnya, Soerjadarma membangun AURI dari nol.

Beberapa lembar kertas disodorkan ke saya untuk dilihat, yang merupakan kopian dari naskah asli sejarah perjuangan yang disimpannya.

Gua mau cerita banyak ke lu, telepon gua, main ke rumah, gua mau ceritain semuanya, gua kasih semuanya. Kalau gua sudah nggak ada, ini sejarah bisa hilang,” urai Pak Erlangga.

Selepas hari itu, hampir tiap hari saya dan Pak Erlangga berbalasan WA (WhatsApp). Beberapa foto dia kirim ke saya, yang semuanya merupakan bukti sejarah dan bisa dilihat di laman ini.

Menyisakan beribu penyesalan, saya tidak sempat sekali pun mampir ke kediaman beliau di Lebak Bulus untuk memenuhi permintaannya. Untuk mendengarkan “dongengnya” tentang sejarah perjuangan dan kelahiran AURI.

Erlangga punya kedekatan dengan Kopassus. Ia pun diangkat sebagai warga kehormatan Baret Merah. Foto: Dok. Pribadi

Sampai akhirnya saya pun menginjakkan kaki di rumah beliau, dan menatap nanar jenazah Pak Erlangga Suryadarma di dalam peti jenazah. Maafkan saya Pak Erlangga.

“Telepon gua ya, nanti kita ketemu lagi,” ucap Pak Erlangga hangat saat kami berpisah di Lanud Halim.

 

Teks: beny adrian

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: