Mantan bintara kesehatan 3rd Special Forces Group (Airborne) yang secara heroik merangkak naik ke puncak pegunungan untuk memberikan bantuan kepada rekannya dari Special Forces dan pasukan komando Afghanistan menerima Medal of Honor.
Gedung Putih mengumumkan bahwa mantan Staff Sgt. Ronald J. Shurer II telah melakukan sesuatu yang sangat hebat guna menuntaskan misinya pada 6 April 2008.
Saat itu Shurer bergabung bersama Special Operations Task Force-33 di Afghanistan dalam Operation Enduring Freedom. Dia dinilai layak menerima medali militer tertinggi atas keberaniannya seperti diumumkan Gedung Putih pada 1 Oktober 2018.

President Donald J. Trump menyematkan Medal of Honor kepada pensiunan Staff Sgt. Ronald J. Shurer II pada Senin, 1 Oktober 2018, di Ruang Timur Gedung Putih. Foto: Shealah Craighead/Â White House.
Pada April 2008, Shurer ditugaskan di Special Forces untuk menangkap tokoh penting (high-value targets) dari Hezeb Islami al Gulbadin di Lembah Shok.
Saat tim menjelajahi lembah, baku tembak pun tak lama pecah. Rentetan tembakan dari penembak jitu, RPG, senapan serbu dan senapan mesin memaksa unit melawan secara bertahan.
Tak lama berselang, Shurer menerima kabar bahwa elemen serangan terdepan juga menerima siraman tembakan di lokasi lain. Tim terdepan mereka telah menderita banyak korban.
Dengan mengabaikan keselamatannya, Shurer bergerak cepat melalui hujan peluru menuju pangkal gunung untuk mencapai kelompok elemen yang terjepit.
Sambil bergerak maju, Shurer sempat berhenti untuk mengobati cedera leher salah seorang anggota tim terkena pecahan peluru dari RPG. Setelah memberikan bantuan, Shurer menghabiskan sekitar satu jam berikutnya untuk bertempur sejauh beberapa ratus meter. Di sini ia membunuh cukup banyak insurjen.
Akhirnya Shurer tiba di tempat rekannya yang terluka dan segera memberikan bantuan. Setidaknya empat prajurit AS ditemuinya dalam keadaan kritis, sementara 10 prajurit komando terluka sampai rekan lainnya tiba.
Segera setelah kedatangan rekannya, Shurer dan seorang sersan kembali menerima hujan tembakan. Petugas medis berlari 15 meter melalui rentetan tembakan untuk membantu sersannya.
Meskipun peluru menghantam helm dan luka tembak di lengannya, Shurer menarik teman satu timnya untuk menutupi dan memberikan perawatan.
Beberapa saat kemudian, Shurer kembali melalui hujan tembakan untuk membantu mempertahankan rekan satu timnya yang menderita amputasi traumatis di kaki kanannya. Selama beberapa jam berikutnya, Shurer mencoba membantu menghadang kelompok pemberontak dalam jumlah besar di sebuah teluk.
Namun di saat bersamaan ia tetap memberikan perawatan kepada rekannya yang terluka. Tindakan Shurer terbukti membantu menyelamatkan nyawa semua korban luka.
Shurer juga membantu mengevakuasi tiga rekannya yang terluka kritis, non-ambulatori, menuruni tebing yang nyaris tegak lurus, sambil menghindari tembakan dan batu-batu berjatuhan karena serangan udara.
Dalam perjalanan yang penuh rintangan itu, Shurer menemukan nylon webbing yang kemudian ia gunakan untuk menurunkan rekannya yang terluka.
Sementara menurunkan, ia harus melindungi rekannya dari reruntuhan bebatuan.
Medal of Honor yang diterima Shurer adalah sebagai revisi dari Silver Star yang diberikan kepadanya.
Awalnya Staff Sgt. Ronald J. Shurer II menerima Silver Star atas keberaniannya ini. Namun pada 2016, Pentagon melakukan kajian ulang atas semua medali yang diberikan pasca serangan teror 9/11.
Sebagai hasilnya, Shurer berhak atas Medal of Honor yang disematkan Presiden Donald Trump pada 1 Oktober 2018 di Gedung Putih.
Ronald J. Shurer II lahir tahun 1978. Kedua orang tuanya berdinas di AU AS (USAF). Shurer menghabiskan masa kecilnya di Tacoma, Washington, di mana ayahnya ditempatkan di McChord Air Force Base.
Shurer lulus dari Rogers High School di Puyallup, Washington tahun 1997. Ia meraih gelar administrasi bisnis dari Washington State University pada 2001.
Ia kemudian mendaftar untuk menjadi Marinir AS (USMC) dan diterima masuk ke dalam Officer Candidate School, namun kemudian dipulangkan setelah ditemukannya gejala peradangan pankreas (pancreatitis)Â karena pernah jatuh dari sepeda.

Presiden Donald Trump dan Wapres Mike Pence foto bersama Shurer dan istrinya Miranda serta kedua anaknya Cameron dan Tyler Monday. Foto: Shealah Craighead/Â White House
Tidak putus asa, ia kembali ke kampusnya untuk mengambil master. Sampai akhirnya Shurer masuk AD AS pada September 2002.
Shurer kemudian menjalani latihan sebagai tenaga kesehatan dan dinyatakan berkualifikasi dilatih sebagai tenaga medis di Special Forces.
Latihannya meliputi magang di ruang gawat darurat rumah sakit dan merampungkan program latihan paramedik nasional.
Ia lalu mendapat kenaikan pangkat dari sersan ke staf sersan di 3rd Special Forces Group pada 1 Desember 2006.
Shurer menjalani penugasan bersama Combined Joint Special Operations Task Force di Afghanistan dari November 2007 hingga Mei 2008.
Teks: beny adrian