Kesaksian Marsda (Pur) Sumarno Saat Datangnya F-5E/F Tiger II di Madiun, Satu Galaxy Khusus Bawa Spare Parts

0

MYLESAT.COM – Pesawat tempur F-5E/F Tiger II pernah menjadi primadona sejak memperkuat TNI AU awal 1980. Dari kokpit pesawat ini telah lahir puluhan marsekal. Tiga di antaranya meraih pangkat tertinggi bintang empat. Yaitu Marsekal (Pur) Djoko Suyanto, Marsekal (Pur) Agus Supriyatna, dan Marsekal (Pur) Yuyu Sutisna.

Djoko Suyanto menjadi KSAU ke-15 dan kemudian Panglima TNI pertama dari lingkungan TNI AU. Sedangkan Agus Supriyatna menjadi KSAU ke-20 dan Yuyu Sutisna didaulat jadi KSAU ke-22.

TNI AU pernah diperkuat 16 pesawat F-5 Tiger II yang ditempatkan di Skadron Udara 14, Lanud Iswahjudi, Madiun.

Para penerbangnya diberi julukan Eagle. Hingga akhir pengabdian pesawat ini bersama TNI AU, tercatat tidak kurang dari 82 Eagle hingga pesawat mengakhiri pengabdiannya menjaga Ibu Pertiwi.

F-5 melaksanakan penerbangan terakhir pada 28 April 2016 dalam sebuah misi Simulated Surface Attack (Phoenix Flight). Saat itu diterbangkan TS-0516 yang diterbangkan Phoenix 1 Letkol Pnb Abdul Haris dan Phoenix 2 Mayor Pnb I Kadek Suta Arimbawa yang menerbangkan TS-0512.

Sebulan kemudian, Mei 2016, keluarlah telegram pimpinan TNI AU Nomor T/719/2016 tanggal 3 Mei 2016 tentang penghentian sementara pengoperasian (stop flying) seluruh pesawat F-5 E/F Tiger II Skadron Udara 14 Lanud Iswahjudi. Komandan Skadron Udara 14 Letkol Pnb Abdul Haris memerintahkan kepada penerbang untuk menghentikan operasional pesawat F-5.

Pengadaan F-5E dilaksanakan mulai 1978 dengan nama Operasi Komodo. Operasi ini merencanakan tentang pengadaan pesawat, pendidikan penerbang dan teknisi, serta pembangunan fasilitas prasarana dan sarana pendukung operasional pesawat.

Mencakup perpanjangan landasan pacu Lanud Iswahjudi sepanjang 500 meter (jadi 3.050 x 60 meter), pembangunan pagar elektronik, pembentukan saluran air, fasilitas landasan serta pembangunan dan rehabilitasi bangunan hanggar.

Gelombang pertama kedatangannya terjadi pada 21 April 1980. Pesawat dibawa oleh pesawat angkut C-5 Galaxy milik Military Airlift Command USAF yang membawa delapan unit dari 16 pesawat yang dibeli dan mendarat di Lanud Iswahyudi. Kedatangan pesawat disaksikan KSAU Marsekal TNI Ashadi Tjahjadi.

Selanjutnya pada 28 April 1980, pesawat F-5F TL-0514, berhasil melaksanakan uji terbang diawaki Kapten Bill Edward dan Kapten Tom Danilson. F-5E pertama diberi nomor registrasi TS-0501.

Irjenau Marsda TNI Sumarno (paling kanan) saat memeriksa kesiapan simulator helikopter di Wing 4 Lanud Atang Senjaya pada Januari 2015. Foto: Lanud ATS

Pada 5 Mei 1980 penggunaan F-5E/F Tiger II diresmikan Menhankam/Pangab Jendral TNI M. Jusuf sebagai pengganti F-86 Sabre. Peresmian yang sangat emonsional, karena dilaksanakan sehari setelah kedatangan pesawat tempur A-4 Skyhawk gelombang pertama dari Israel.

Jika Tiger diangkut pesawat Galaxy, Skyhawk dibawa menggunakan kapal laut yang sandar di Pelabuhan Tanjung Priok pada 4 Mei 1980.

Selanjutnya pada 5 Juli 1980, datanglah pesawat Galaxy kedua membawa delapan pesawat sisanya.

Beruntung Marsda (Pur) Sumarno menjadi saksi saat kedatangan ke-16 pesawat tempur bertubuh lancip ini.

Diceritakan Sumarno, saat itu ia bersama teman-temannya taruna AAU, sengaja diundang ke Madiun untuk menyaksikan kedatangan F-5.

“F-5 dikirim dengan dua Galaxy dalam bentuk potongan. Satu pesawat Galaxy bawa 8 pesawat. Tambah satu Galaxy lagi yang khusus bawa spare parts. Saya lihat sendiri, saat itu masih taruna dan kita didatangkan khusus ke Madiun untuk melihat kedatangan F-5,” beber Sumarno.

Setelah dilantik, Sumarno mengabdikan dirinya sebagai perwira teknik di Skadron 14 Lanud Iswahjudi. Meski tidak sempat dididik langsung di Amerika Serikat, Sumarno toh dikenal sebagai salah satu teknisi ahli untuk F-5.

“Saya lama di Madiun hingga 20-an tahun. Sampai jabatan itu tidak ada lagi untuk saya. Setiap ada jabatan yang bisa dipasang, saya ditarik. Dari mulai Kadishar F-5, pindah ke F-16, Komandan Katek, Kadislog dan sebagainya,” ujar penggemar golf ini.

Sumarno merupakan alumni AAU 81. Sebagai perwira teknik ia mencapai puncak kariernya sebagai Komandan Koharmatau. Setelah itu dipercaya menjadi Inspektorat Jenderal (Irjen) TNI AU.

Share.

About Author

Leave A Reply