Bukan Sembarang Kuburan, Ini Kisah Marsda TNI Henri Alfiandi Saat Bertandang ke Aircraft Boneyard di Arizona

0

MYLESAT.COM – Pemerhati dunia penerbangan tanah air sempat mempergunjingkan area pemakaman pesawat di Amerika Serikat, menyusul izin yang dikeluarkan Presiden Barrack Obama kepada Indonesia untuk membeli 24 pesawat tempur F-16C/D Fighting Falcon.

Ketika itu memang tidak ditawarkan pesawat baru namun pesawat bekas pakai US National Guard. Hanya saja pesawat ini tidak lagi disimpan di hangar melainkan di tengah padang gurun di Arizona.

Baca Juga:

Disinilah salah satu tempat penyimpanan pesawat terbesar di AS, yang sering disebut aircraft boneyard alias kuburan pesawat.

Kuburan itu terletak di Tucson, Arizona, Amerika Serikat dan menempati lahan seluas lebih dari 1.000 hektare. Secara resmi kuburan ini dikelola oleh 309th Aerospace Maintenance and Regeneration Group (AMARG), yang dulunya dinamakan Military Aircraft Storage and Disposition Center (MASDC).

Gerbang masuk Davis-Monthan Air Force Base. Foto: Marsda TNI Henri Alfiandi

Nah, 309th AMARG ini berlokasi di Davis-Monthan Air Force Base. Nama pangkalan ini sebagai penghargaan kepada dua awak udara Angkatan Udara AS (USAF) yaitu Letnan Samuel H. Davis dan Oscar Monthan. Keduanya penerbang era Perang Dunia I.

Pada 2010, Marsda TNI Henri Alfiandi berkunjung ke Davis-Monthan Air Force. Tentu bukan liburan, tapi untuk memilih 24 pesawat F-16C/D Fighting Falcon yang akan dibeli TNI AU saat itu.

Kesempatan langka dan berharga ini diperoleh Henri dalam kapasitasnya sebagai Atase Udara (Atud) Indonesia di Kedubes RI di Washington DC.

“Pembelian 24 F-16 ini dalam paket EDA (Excess Defence Articles),” ujar Asisten Operasi KSAU ini membuka kenangannya.

Flash back ke masa lalunya saat menjadi penerbang A-4 Skyhawk di Skadron Udara 12, Henri suatu ketika berucap, semacam nazar. Katanya, one day kalau diberi kewenangan untuk membeli pesawat maka ia tidak ingin adik-adiknya dibelikan pesawat seperti A-4.

Deretan pesawat F-16 di boneyard Arizona. Foto: Marsda TNI Henri Alfiandi

Pengalaman menerbangkan A-4 meninggalkan kenangan yang sulit dilupakannya. Pesawat bekas pakai Israel yang dibeli pemerintah itu, kondisinya cepat menurun tak lama setibanya di Indonesia. Kesiapan terus turun dan setiap hari selalu dihantui persoalan demi persoalan.

Pengalaman itulah yang membulatkan tekad Henri untuk meniatkan di dalam hatinya, memberikan yang terbaik buat yuniornya.

“Kemudian saya jadi Atud di Washington dan diperintah proses pengadaan F-16. Proses 4 tahun saya jadikan 2 tahun,” tuturnya.

Menurut Henri, ketika itu ada 12 negara yang berminat membeli F-16 yang salah satunya Indonesia.
Sebagai Atud di Washington, menjadi tanggung jawab Henri untuk memuluskan program pembelian 24 F-16 ini. Ia harus melobi pejabat AS baik di Pentagon, USAF, maupun Kongress.

Selain memainkan peran lobbyist, Henri juga harus cek sendiri ke lokasi untuk melihat dan memilih pesawat yang akan dibeli. Di situlah ia untuk pertama kalinya menginjak kakinya di aircraft boneyard di Davis-Monthan Air Force Base.

“Saya datang untuk melihat dan milih pesawatnya,” ujar Henri.

Meski jumlah F-16 banyak sekali, tidaklah sulit untuk mencari yang diinginkan. Ia tinggal meminta daftar logbook dan melihat riwayat satu pesawat dan pesawat lainnya secara teliti. Dari logbook bisa diketahui kondisi sebuah pesawat.

“Dari lihat logbook, saya pilih yang usianya paling muda,” akunya lagi.

Negosiasi tim TNI AU di 309th AMARG untuk membaca logbook dan melihat pesawat. Terlihat Kolonel Henri (duduk, ketiga dari kiri). Foto: Marsda TNI Henri Alfiandi

Saat itu Henri juga sempat memasuki sebuah Depo yang pekerjaannya khusus melakukan pembaharuan tampilan pesawat. Mulai dari mengelupas cat dan kemudian mengecat ulang pesawat hingga kembali terlihat baru.

Dari kunjungannya ke Arizon ini Henri bisa mengetahui betapa dahsyatnya sistem penyimpanan pesawat di gurun ini. Manajemen yang rapih, tertib, taat aturan, dan pengamanan yang maksimal.

Jika selama ini hanya diketahuinya dari obrolan atau membaca di internet, saat itu ia bisa berada di lokasi “keramat” itu.

Menurut Henri, Gurun Arizona tempat aircraft boneyard di Davis-Monthan Air Force Base itu layaknya gudang alam yang mahaluas. Gurun itu bukan sekadar hamparan padang pasir, namun memiliki kondisi alam yang dibutuhkan untuk sebuah gudang penyimpanan.

“Seperti gudang saja karena kondisi alam yang sesuai. Bukan sekadar gurun. Tanahnya keras seperti bata merah, humidity (kelembapan) sangat rendah dan hujan hanya beberapa kali. Rumput hanya ada sedikit,” beber Henri.

Pada saat memilih pesawat yang diinginkan, hanya decak kagum yang keluar dari mulut Henri. Ia tidak menduga akan menemukan pesawat dalam kondisi begitu terpelihara, meski dipanggang di tengah gurun.

Begitu lapisan khusus yang digunakan untuk menutup pesawat dibuka, layaknya melihat pesawat tersimpan di hangar. Nyaris tidak ada debu dan kotoran menempel.

“Saya lihat selangkangan rodanya lebih bersih dari mobil saya, debu saja hampir tidak ada. Bersih. Jadi kalau orang tidak ngerti bilang itu pesawat rongsokan, mereka tidak paham,” jelas pemegang rating A-4 Skyhawk dan Hawk 100/200 ini.

“Itu pesawat dijadikan kepompong,” tambah alumni AAU 88B ini.

Dari informasi yang diperolehnya diketahui bahwa ribuan pesawat yang disimpan di 309th AMARG ini, bisa sewaktu-waktu disiapkan dalam waktu singkat jika dibutuhkan. Katakan atas permintaan perang. Masih menurut Henri, pesawat bisa disiapkan hanya dalam 1,5 bulan kalau ada kebutuhan mendesak.

Kuburan pesawat ini memang dibuat AS tidak sekadar untuk menyimpan pesawat yang sudah tidak digunakan namun masih bisa dipakai.

Tempat ini juga dijadikan sebagai lokasi penyimpanan kelebihan aset yang ada. Jadi memang dibangun sebagai tempat cadangan nasional.

Storage alam yang luar biasa di kuburan pesawat di Arizona. Pesawat masih bersih mesti di tengah gurun. Foto: Marsda TNI Henri Alfiandi

“Dalam 10 tahun kalau tidak dipakai dan tidak ada perang, akan ditawarkan ke negara sahabat atau dimanfaatkan untuk pengujian seperti F-16 drone,” ungkap Henri.

Dijelaskan Henri, kalau tidak dipakai dalam kurun waktu tertentu barulah dihilangkan.

Makna “bisa dipakai” itu berarti disiapkan untuk cadangan kesiapan bila ada perang, atau untuk keperluan diplomasi dan ditawarkan ke negara sahabat AS, digunakan sebagai pesawat eksperimen, drone, dan keperluang pengujian lainnya.

Selain menyimpan pesawat, di tempat ini juga tersedia depo-depo penitipan suku cadang. Beberapa suku cadang juga diambil untuk disimpan dari pesawat yang sudah diputuskan dihapus sama sekali.
Kenapa pesawatnya tidak dihancurkan karena memang ada kebutuhan.

“Itu storage alam yang luar biasa. Di Indonesia nggak ada tempat seperti itu, kalaupun ketemu mungkin di daerah NTT (Nusa Tenggara Timur),” aku Henri.

Share.

About Author

Leave A Reply