Misi Penyelamatan Terjauh Presiden Soekarno ke Yogyakarta, Tandai Lahirnya Paspampres

0

MYLESAT.COM – Tentara Belanda dan Inggris belum menunjukkan tanda-tanda menyerah. Sampai menjelang pergantian malam dari tahun 1945 ke 1946, suasana Jakarta semakin tidak aman. Keheningan malam acap kali dipecahkan oleh rentetan suara senapan mesin dan tembakan-tembakan sporadis. Bahkan siang pun, suara tembakan kadang masih terdengar dari kamp-kamp pasukan Belanda dan Inggris.

Situasi ini jelas semakin tidak aman bagi Presiden Soekarno, Wakil Presiden Muhammad Hatta, dan Perdana Menteri Sutan Sjahrir. Jam tidur Polisi Pengawal Pribadi Presiden pun jadi tak menentu.

Polisi Pengawal Pribadi Presiden yang kemudian disebut DKP atau Detasemen Kawal Pribadi, dipimpin oleh AKBP Mangil Martowidjojo, yang mantan anggota Tokomu Kosaku Tai (Kesatuan Polisi Isitmewa).

Pasukan DKP menjadi inti pengawalan Soekarno. Bahkan saat Resimen Tjakrabirawa sudah dibentuk, pengamanan di sekitar ring 1 tetap dipercayakan kepada Mangil dan belasan anak buahnya.

Hampir setiap malam mereka harus mengambil sikap siaga untuk mengantisipasi terjadinya serangan. Ancaman penyanderaan Presiden dan Wakil Presiden, benar-benar mengkhawatirkan.

Tidak cuma itu. Polisi Pengawal Pribadi Presiden pun acap kali hampir terjebak dalam kontak senjata dengan pasukan Belanda atau percobaan pembunuhan.

Ambil contoh ketika mendadak asrama Polisi Pengawal Pribadi Presiden di gedung Kementerian Dalam Negeri di Rijswijk (sekarang Jl. Veteran), ditembaki tentara Belanda membabi buta. Genteng pada rontok, kabel telepon putus.

Esok paginya, saat mereka mulai bertugas, asrama ini kembali dikepung. Polisi Pengawal Pribadi Presiden ini cepat ambil posisi siap tempur. Tentara Belanda yang melihat sikap menantang ini, akhirnya mundur dan menghilang.

Pernah juga beberapa anggota Polisi Pengawal Pribadi Presiden diracuni. Untunglah dalam insiden yang melibatkan tukang masak itu tidak sampai merenggut nyawa anggota Polisi Pengawal Pribadi Presiden.

Malang bagi Supena, anggota termuda. Dia meninggal dalam sebuah insiden di jalan raya. Ketika itu konvoi truk yang membawa pengawal Presiden Bung Karno ini nyaris bertabrakan dengan truk tentara Inggris. Memang tidak sampai terjadi tabrakan karena supir truk Polisi itu mampu menghindari.

Namun karena terlalu zig-zag, truk terbalik hingga mencederai beberapa anggota dan menewaskan Supena.

Diperkuat dengan kondisi keamanan serta alasan politis lainnya, sebuah surat dilayangkan ke asrama Korps Polisi Pengawal Pribadi Presiden RI di Jalan Pengangsaan Timur 45. Polisi Pengawal Pribadi Presiden ini sengaja ditempatkan di asrama yang berada persis di depan kediaman Presiden Bung Karno untuk alasan pengamanan.

Surat dengan cap Sekretariat Negara dan ditandatangani Mr. AG. Pringgodigdo selaku Sekretaris Negara itu berisi perintah mengawal Bung Karno dan Bung Hatta beserta keluarganya hijrah ke Yogyakarta.

Mengingat kala itu hanya Djawatan Kereta Api Republik Indonesia (DKARI) yang bisa menyiapkan alat transportasi, disiapkanlah sebuah kereta khusus yang dikenal sebagai Kereta Api Luar Biasa (KLB).

Formasi rangkaian KLB yang disiapkan DKARI terdiri dari: lokomotif uap seri C.2849 dengan masinis Hoesein dibantu dua orang juru api Moertado dan Soead.

Sementara berturut-turut kereta barang DL.8009, kereta penumpang kelas 1 dan 2 ABGL.8001, kereta penumpang kelas 1 dan 2 ABGL.8004, kereta restorasi FL.8001, kereta tidur kelas 1 SAGL.9006, kereta tidur kelas 1 SAGL.9004, kereta inspeksi khusus presiden IL.8, dan kereta inspeksi khusus wakil presiden IL.7.

Misi escape pada 3 Januari 1946 ini kelak dicatat pada tinta emas sebagai misi penyelamatan pertama dan tersukses presiden RI pasca Kemerdekaan. Tanggal ini pula lalu ditetapkan sebagai hari jadi Pasukan Pengamanan Presiden (Paspampres).

Sore itu, 3 Januari 1946 sekitar pukul 18.00.

Rombongan presiden dan wakil presiden terlihat santai di atas KLB. Empatbelas anggota Polisi Macan dipimpin Winarso hanya berpakaian seadanya, terkesan mau berlibur. Tidak ada barang-barang dalam jumlah besar, kecuali dua mobil kepresidenan buatan General Motor merk Buick warna hitam dan merk de Soto berkelir kuning, turut di dalam KLB.

Sekadar mengingatkan, mobil Buick besar berkapasitas tujuh orang ini awalnya merupakan milik kepala Jawatan Kereta Api Jepang.

Ke empatbelas anggota Polisi Pengawal Pribadi Presiden dan Wakil Presiden adalah Soekasah, Winarso, Edy Supandi, Mangil Martowidjojo, Rasmad, Didi Kardi, Sudio, R. Ramelan, Oding Suhendar, Ebat, Suhardja, Sukanda, Karnadi, dan Mohammad Toha.

Sesungguhnya itu pengelabuan (kamuflase). Akal-akalan yang sudah seumur sejarah militer itulah yang jadi kata kunci paling tepat untuk menyebut kesuksesan tim penyelamatan presiden ini.

Para masinis KLB juga cerdik. Sebelum meninggalkan Jakarta, dari pagi hari para awak KLB beberapa kali membuat kereta langsir, pura-pura menyambung gerbong antara stasiun Jatinegara, Manggarai, Gambir hingga persis di belakang kediaman Bung Karno di Pengangsaan Timur 56.

Sementara secara diam-diam, E. Mirta Soewanda, seorang pegawai stasiun Manggarai, dengan hati-hati menaikkan koper-koper berlabel Ir. Soekarno dan Drs. Mohammad Hatta, serta sejumlah menteri negara lainnya ke atas kereta.

Padahal tindakan itu hanyalah untuk mengecoh tentara Belanda.

Sore itu memang tidak ada sama sekali tanda-tanda bahwa presiden dan wakil presiden RI akan diselamatkan ke sebuah kota di luar Jakarta. Penjagaan dan pengawalan juga berjalan seperti biasa, tidak ada gerak-gerik mencurigakan.

Malah para pemuda yang biasa bergerombol di belakang rumah presiden yang setiap saat dengan suka rela akan memberikan perlindungan, pun tidak menangkap isyarat-isyarat aneh.

Saat yang ditentukan pun tiba. KLB berhenti persis di belakang rumah presiden. Winarso yang memimpin pengawal pribadi presiden, memerintahkan lima anggotanya untuk mendekati KLB.

Mereka bertugas mengawasi setiap gerak-gerik mencurigakan yang bisa menggagalkan rencana. Beberapa pemuda yang tengah berjaga di belakang rumah presiden, menghampiri lalu bertanya, ada apa gerangan?

“Tidak ada apa-apa, hanya penugasan biasa saja,” jawab anggota Polisi Pengawal Pribadi Presiden.
“Kalau ada apa-apa, kami siap untuk membantu saudara-saudara,” pinta mereka mantap.

Siang telah merambat jauh. Langit Jakarta mulai gelap, pertanda sore mulai datang. Sebuah rombongan kecil melangkah santai di Jalan Bonang menuju KLB yang telah siap diberangkatkan.

Kaki-kaki mereka melangkahi tangga KLB tanpa ragu, siap menempuh perjalanan malam yang mencekam. Lima anggota pengawal pribadi bermodalkan senjata rangkap, senapan M-95, revolver, senapan serbu, dan pistol serbu, masih berjaga di sekitar KLB sampai detik-detik terakhir KLB diberangkatkan.

Dengan sedikit aksi langsir, KLB mulai bergerak maju dengan pasti ke arah Manggarai. Suasana gerbong gelap gulita, sengaja diciptakan untuk mengelabui tentara Belanda.

Benar saja, di Stasiun Manggarai KLB berhenti. Tentara Belanda yang tugas jaga malam itu, memperhatikan, tapi tidak berinsiatif memeriksa gerbong belakang yang gelap. Mereka pikir tentu gerbong kosong.

Empatbelas pengawal pribadi presiden baru lega, begitu tahu KLB beranjak pergi.

Ketegangan kedua kembali terjadi ketika KLB berhenti di Stasiun Jatinegara. Gelapnya suasana di dalam gerbong, kembali mengurungkan niat tentara Belanda untuk ingin tahu lebih jauh apa isi gerbong.

Wajah-wajah tentara Belanda yang sesungguhnya orang Indonesia itu, terlihat seram dari dalam gerbong oleh para pengawal pribadi. Mereka berjalan mondar-mandir di kiri-kanan gerbong. Untung tidak ada yang membawa senter.

Sambil menahan napas dan tegang, tangan para pengawal presiden ini tidak pernah lepas dari gagang senjata. Mata mereka selalu awas, mengawasi gerak-gerik tentara Belanda dan memastikan presiden dan wakil presiden dalam keadaan baik.

Mereka akan bergerak secepat kilat begitu ada gelagat mengancam keselamatan objek, yaitu presiden dan wakil presiden.

Sesaat kemudian, KLB bergerak pelan meninggalkan Stasiun Jatinegara. Pemberhentian berikutnya adalah Stasiun Klender. Tidak ada lagi rasa takut mendera karena mereka tahu tidak ada tentara Belanda di stasiun ini. Lampu-lampu mulai dinyalakan secukupnya dan jendela pun dibuka sesaat menjelang KLB memasuki Stasiun Klender.

Pekik Merdeka! Merdeka! Merdeka!, tanpa dikomando lepas bebas dari mulut anggota pengawal dan kru KLB. Seperti seseorang yang disekap lama lalu bebas, begitu gembiranya.

Kereta Api Luar Biasa (KLB) terus melaju kencang menembus kegelapan malam membawa duo Sang Proklamator.

Pagi hari pukul 09.30 WIB, 4 Januari 1946, KLB tiba di Stasiun Tugu Yogyakarta dengan selamat disambut Sri Sultan Hamengkubuwono IX.

Mission accomplished.

Selamat ulang tahun Paspampres ke-75, Setia Waspada.

Share.

About Author

Leave A Reply