Buka Rapim TNI AU, KSAU Benarkan Rencana Pembelian F-15EX dan Rafale Namun Kebijakan Ada di Kemhan

0

MYLYESAT.COM – Usai membuka Rapim TNI Angkatan Udara tahun 2021 pagi ini Mabes TNI AU, Cilangkap (18/2), seperti sudah diduga, KSAU Marsekal TNI Fadjar Prasetyo langsung mendapat pertanyaan dari wartawan terkait rencana pengadaan jet tempur F-15EX dari Amerika Serikat dan Rafale dari Perancis.

Baca juga: 

Rencana pengadaan 36 unit Dassault Rafale dari Perancis dan 36 unit Boeing F-15EX disampaikan Menhan Prabowo Subianto saat memberikan briefing dalam Rapim TNI pada 16 Februari 2021 di Mabes TNI Cilangkap.

Mengikuti dokumen yang beredar di kalangan wartawan, disebutkan bahwa Kemhan ingin melaksanakan refurbish seluruh pesawat tempur dan sudah dialokasikan anggaran kecuali untuk pesawat Hawk, masih dicarikan anggarannya.

Terkait 36 pesawat tempur F-15EX , disebutkan bahwa 8 unit sudah siap dan diharapkan 6 pesawat bisa tiba sebelum 2022.

Selain itu juga diagendakan pembelian 15 unit pesawat angkut C-130J Hercules, pengadaan 2 unit pesawat tanker MRTT, 30 radar GCI, dan 3 unit UAV

Terkait rencana pengadaan ini, KSAU mengatakan bahwa otoritas pengadaan menjadi ranahnya Kemhan. Sedangkan TNI AU dalam hal ini bertanggung jawab dalam menyiapkan spesifikasi yang dibutuhkan.

Dalam sambutannya Marsekal Fadjar menyampaikan kondisi aktual yang tengah dihadapi bangsa Indonesia terkait Covid-19.

Sepanjang 2020 hingga hari ini, bangsa Indonesia mengalami berbagai ujian dan cobaan yang tidak pernah dialami sebelumnya. Selama masa sulit tersebut, TNI AU senantiasa hadir dan turut berkontribusi aktif dalam meringankan beban yang dihadapi segenap bangsa Indonesia.

Boeing F-15EX disebut akan dibeli untuk memperkuat TNI AU. Foto: Boeing

KSAU juga menyampaikan bahwa TNI AU telribat aktif dalam mitigasi pandemi Covid-19, penanggulangan bencana alam, operasi pencarian dan pertolongan kecelakaan transportasi, penanggulangan Kelompok Kriminal Separatis Bersenjata atau KKSB, dan berbagai hal lainnya.

“Selaku Kepala Staf Angkatan Udara, saya menyampaikan penghargaan tertinggi kepada seluruh prajurit TNI Angkatan Udara di mana pun berada dan bertugas. Saya mengucapkan terima kasih atas pengabdian seluruh prajurit TNI AU sekalian, yang selalu berada di garda terdepan untuk menjaga kedaulatan negara di udara, sekaligus meringankan kesulitan rakyat di sekelilingnya,” tutur KSAU.

Rapat Pimpinan TNI Angkatan Udara 2021 memgambil tema: “TNI Angkatan Udara Berjiwa Kesatria, Militan, Loyal, dan Profesional, Siap Mendukung Percepatan Penanganan COVID-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional”.

Aspek kesejahteraan prajurit menjadi perhatian utama KSAU sebagai bentuk komitmennya dalam meningkatkan profesionalisme prajurit.

Menurut Fadjar, tahun lalu TNI AU telah meningkatkan tunjangan awak pesawat, termasuk tunjangan brevet maupun tunjangan keahlian dan keterampilan khusus lainnya. “Kenaikan tunjangan telah dibayarkan Desember lalu,” ujarnya.

Selain itu menjadi perhatian TNI AU adalah program perumahan non-dinas bagi prajurit.

Untuk satuan operasional, KSAU berencana akan membelikan kendaraan dinas untuk lanud-lanud kecil dan daerah operasi, yang akan dipenuhi secara bertahap.

“Saya berkomitmen untuk memperhatikan aspek peningkatan kesejahteraan personel seperti tunjangan di lembaga pendidikan, tunjangan daerah terpencil, dan tunjangan pamrahwan,” kata Fadjar.

Terkait pengadan alutsista, KSAU menjelaskan bahwa pengadaan alutsista selain untuk memperkuat kekuatan TNI, juga memiliki kontribusi sebagai salah satu bentuk diplomasi pertahanan bernilai strategis yang berpengaruh terhadap konstelasi politik global.

TNI AU beberapa kali merevisi pengusulan alutsista, yang disesuaikan dengan kondisi global dan kemampuan negara. Meskipun memiliki pedoman Postur, Renstra, maupun MEF, namun dalam pelaksanaannya sangat bergantung pada berbagai faktor dan kondisi yang terus berubah secara dinamis.

Pengadaan alutsista harus memenuhi operational requirement, aspek commonality, mendapatkan Transfer of Technology serta sesuai dengan kemampuan negara dan kondisi TNI AU.

Mulai tahun ini hingga 2024, TNI AU akan segera merealisasikan akuisisi berbagai alutsista modern secara bertahap.

Selain pembelian pesawat baru, Pemerintah juga menyiapkan anggaran untuk modernisasi berbagai pesawat tempur TNI AU yang pelaksanaannya akan dimulai tahun ini.

Namun digarisbawahi oleh KSAU, esensi terpenting dari penambahan alutsista bukanlah pada penambahan jumlah platform. Namun jauh lebih penting adalah peningkatan kemampuan secara signifikan.

TNI AU harus memastikan terjaganya kesiapan operasional matra udara melalui pembinaan kemampuan personel serta pemeliharaan dan perawatan alutsista, agar terus berada pada level tertinggi.

Terkait pemaparan Panglima TNI dalam Rapim TNI yang menekankan lesson learned dari konflik Nagorno-Karabakh serta mengacu pengalaman satuan TNI dalam operasi di Poso dan Papua, disimpulkan bahwa pengembangan konsep operasional penggunaan pesawat nirawak telah menjelma menjadi game changer yang harus mendapat perhatian khusus.

Kemampuan ISR (Intelligent, Surveillance, Reconnaissance) termasuk kemampuan siber, kemampuan perang elektronika serta integrasi seluruh platform tempur TNI dalam suatu network-centric warfare (NCW), juga harus mendapatkan perhatian penuh dan dikembangkan secara berkelanjutan.

Dengan begitu banyak kemajuan teknologi saat ini dan puluhan alutsista canggih yang akan diakuisisi TNI AU, sebuah keniscayaan bahwa dibutuhkan SDM yang profesional dan berkualitas tinggi untuk mengoperasikannya.

“Peningkatan kualitas SDM menjadi krusial dalam mewujudkan TNI Angkatan Udara yang disegani,” ungkap KSAU Marsekal Fadjar Prasetyo.

Share.

About Author

Leave A Reply