Tak Hanya Rindu Terbang, KSAU Sengaja On Seat di Kokpit B737 untuk Ngecek Letda Pnb Ajeng Tresna

0

MYLESAT.COM – Menjadi kebanggaan bagi KSAU Marsekal TNI Fadjar Prasetyo ketika seorang anggota Wara (Wanita Angkatan Udara) menjadi penerbang VIP di Skadron Udara 17. Kebanggaan tidak hanya sebagai KSAU, tapi juga karena Marsekal Fadjar pernah menjadi Komandan Skadron 17.

Anggota Wara yang dimaksud menjadi penerbang Skadron 17 adalah Letda Pnb Ajeng Tresna Dwi Wijayanti. Kelahiran Jakarta, 25 September 1995 ini alumni AAU 2018.

Baca Juga:

Sebelum bergabung dengan Skadron 17, Letda Ajeng adalah penerbang pesawat tempur T-50i Golden Eagle di Skadron Udara 15. Karena kebutuhan organisasi, ia harus melaksanakan konversi ke pesawat transpor.

Di satu sisi menjadi keinginan Marsekal Fadjar untuk mengetahui secara langsung progress yang sudah dicapai Ajeng setelah bergabung dengan Skadron 17 sejak Desember 2020. Tapi di relung hatinya yang lain, ada satu hal lagi yang ingin dilakukan KSAU ke-23 ini.

“Saya rindu terbang,” aku Fadjar kepada mylesat.com. Rindu atau kerinduan adalah sebuah keinginan dan harapan. Baik untuk bertemu atau terhadap sesuatu.

Secara spesifik, kerinduan Marsekal Fadjar adalah duduk di kokpit pesawat Boeing B737 yang telah membesarkannya sebagai penerbang TNI AU.

Lahir di Skadron Udara 11 sebagai penerbang tempur A-4 Skyhawk, Marsekal Fadjar kemudian menjalani konversi ke pesawat transpor Boeing B737 Skadron Udara 17 sebagai penerbang VIP/VVIP. Kisah serupa yang saat ini tengah dilakoni Ajeng.

Tepatnya April 1995, Lettu Pnb Fadjar Prasetyo memulai fase pengabdiannya di Skadron 17. Di bulan itu, ia menjalani fase pemeriksaan terbang oleh Letkol Pnb Sukirno selaku Komandan Skadron 17. Sejak saat itu, Fadjar meniti kariernya di Skadron 17.

Hampir semua jenis pesawat fixed wing Skadron 17 sudah diterbangkannya, kecuali C-130 Hercules dan helikopter. Mulai dari Fokker F28, Boeing B707, dan B737-200.

Jika dilihat perjalanan kariernya hingga menjadi Komandan Skadron 17 tahun 2004 dan kemudian menjadi Atase Udara di Kedubes RI di Kualalumpur, Malaysia pada 2009, kita bisa beranggapan sejak itu Marsekal Fadjar tidak pernah lagi menerbangkan B737.

Karena dibutuhkan, komandan Wing bisa saja ‘turun gunung’ untuk menerbangkan pesawat yang berada di lingkup komandonya. Jabatan Komandan Wing 1 Lanud Halim Perdanakusuma, diemban Fadjar pada tahun 2012.

Sebagai perwira yang sekian tahun menerbangkan satu jenis pesawat, kerinduan seperti itu wajar adanya. Seperti seseorang yang dulunya atlet badminton, pasti adrenalinnya bergemuruh setiap kali berada di sekitar lapangan.

Marsekal Fadjar Prasetyo berswa foto dengan latar belakang Letda Ajeng. Sebagai KSAU, Marsekal Fadjar mengamati kemampuan Ajeng menerbangkan B737 sejak lepas landas hingga mendarat di Halim. Foto: Dok. Marsekal TNI Fadjar Prasetyo

Sampai suatu ketika, Marsekal Fadjar menanyakan perkembangan Letda Ajeng Tresna kepada Komandan Skadron 17 Letkol Pnb Sunar Adi Wibowo. Kepada alumni AAU 2002 ini, Fadjar memberikan pesan khusus.

“Kalau ada kunker, yang terbang Ajeng, ya,” perintah Fadjar kepada Sunar. Permintaan KSAU itu langsung disiapkan Letkol Sunar. Kebetulan sekali Letda Ajeng memang sudah dalam persiapan menjadi kopilot di pesawat B737-400/500.

Jadilah dalam penerbangan B737-500 A-7307 hari itu, Selasa dan Rabu (27-28 Juli 2021) dari Lanud Halim Perdanakusuma ke Lanud Adi Sutjipto di Yogyakarta, Ajeng masuk ke dalam daftar kru.

Misi penerbangan hari itu dipimpin langsung oleh Letkol Pnb Sunar Adi Wibowo dengan penerbang kedua dan ketiga adalah Kapten Pnb Arie S. Andreas dan Letda Pnb Ajeng Tresna. Sementara teknisi terdiri dari Mayor Tek V. Haryono, Lettu Tek Ruslan, Letda Tek Setiyo, Peltu Komaruddin, dan Pratu Rozaak.

KSAU melaksanakan kunjungan ke Yogyakarta untuk mengikuti Sidang Pantukhir Terpusat Penerimaan Taruna dan Taruni Akademi TNI di Akademi Militer, Magaleng.

Ajeng disiapkan sebagai penerbang ketiga dalam misi. Karena itu dalam penerbangan dari Halim ke Adi Sutjipto, ia tidak duduk di kanan.

Ternyata hal itu menjadi perhatian KSAU, yang sebelum mendarat di Lanud Adi Sutjipto di Yogyakarta, masuk ke ruang kokpit. Marsekal Fadjar menanyakan, kenapa Ajeng tidak on seat?

Dengan pernyataan langsung dari KSAU, akhirnya Ajeng disiapkan sebagai kopilot (on seat) dalam penerbangan kembali ke Lanud Halim Perdanakusuma pada keesokan harinya.

Guna mengetahui bagaimana Ajeng menerbangkan pesawat, Fadjar memutuskan untuk melihatnya langsung dengan duduk di bangku tengah di belakang penerbang.

Bangku ini biasa disebut seat observer. Siapapun yang berkepentingan, boleh duduk di bangku kecil ini. Bisa flight engineer, penerbang ketiga atau flight instructor dalam misi training.

Tidak hanya melihat selintas, KSAU Marsekal Fadjar Prasetyo benar-benar duduk di bangku observer di kokpit B737 sejak lepas landas di Yogyakarta hingga mendarat di Lanud Halim.

Sungguh luar biasa. Perpaduan di antara energi rindu terbang dan tanggung jawab sebagai Kepala Staf, membuat Marsekal Fadjar betah menyimak anak buahnya menyelesaikan tahapan penerbangan pertamanya sebagai kopilot.

Baca Juga: 

Bagi Letda Ajeng sendiri, misi hari itu sungguh istimewa. Karena saat itu menjadi semacam judgment day baginya untuk mendapatkan kualifikasi sebagai kopilot B737-400/500 yang dioperasikan Skadron 17.

Kebetulan sekali pada misi di hari penentuan itu, ia diberi kesempatan membawa VIP yang tak lain daripada Kepala Staf Angkatan Udara Marsekal TNI Fadjar Prasetyo.

“Perasaan saya ketika berada di kokpit bersama Bapak Kasau sangat senang bercampur bangga. Merupakan pengalaman yang baru dan tidak akan saya lupakan, karena Bapak berkenan duduk berdampingan dengan kami di kokpit. Saya mengucapkan terima kasih dan penghormatan yang tinggi kepada beliau karena selama berada di kokpit, beliau turut memberikan motivasi serta bimbingan bagi kami yang masih baru untuk berkarier dan berkreativitas di TNI AU dengan terus mengembangkan diri dan belajar,” ungkap Letda Pnb Ajeng Tresna Dwi Wijayanti kepada mylesat.com.

Letda Pnb Ajeng Tresna sampai saat ini sudah mengantongi 245 jam terbang. Terdiri dari di pesawat latih Grob sebanyak 108 jam, pesawat latih KT-1B sebanyak 104 jam, jet tempur T-50i mencapai tujuh jam, dan saat ini di B737-500 sudah 25 jam terbang.

KSAU tentu bermaksud, kehadirannya di kokpit bukan untuk ngerecokin anak buahnya. Melainkan sebagai bentuk perhatian dan dorongannya kepada penerbang yunior untuk bisa menunjukkan kemampuan terbaik sebagai penerbang TNI AU.

“Memang saya rindu terbang dan juga ingin lihat Ajeng terbang, ternyata dia terbang standar. Artinya sebagai penerbang baru Boeing tidak terlihat kesulitan bahkan sudah cukup menguasai, mengingat perlu adaptasi dari pesawat tempur ke pesawat angkut apalagi saat itu sebagai pilot flying dalam misi VIP,” tutur Marsekal Fadjar.

Selamat menjadi kopilot B737 untuk Letda Pnb Ajeng Tresna.

Share.

About Author

Being a journalist since 1996 specifically in the field of aviation and military

Leave A Reply