Seminggu Pasca Lebaran, KSAU Marsekal TNI Fadjar Prasetyo Tancap Gas Langsung Kunker ke Manado

0

MYLESAT.COM Kedatangan KSAU Marsekal TNI Fadjar dan Ibu Inong Fadjar Prasetyo beserta pejabat jajaran Mabesau, disambut meriah oleh segenap anggota Lanud Sam Ratulangi, Manado, Sulawesi Utara. Selain masih dalam suasana Idul Fitri 1443 H, juga momen ini menjadi kunjungan kerja (kunker) pertama Marsekal Fadjar ke Lanud Sam Ratulangi.

Karena itu kepada seluruh anggota Lanud Sam Ratulangi, KSAU mengatakan surprise karena mendapat sambutan yang hangat. “Memang sejak Covid, kunker dilaksanakan selektif, namun kita bersyukur karena saat ini kondisi sudah jauh membaik,” ungkap Marsekal Fadjar.

KSAU Marsekal TNI Fadjar disambut jajaran Forkopimda Sulawesi Utara. Foto: beny adrian/ mylesat.com

Hari ini, Senin (9/5/2022), KSAU Marsekal TNI Fadjar Prasetyo tiba di Manado untuk meninjau sejumlah satuan kerja di lingkungan Lanud Sam Ratulangi. Termasuk melakukan ground breaking pengembangan rumah sakit dan peresmian nama rumah sakit TNI AU Lanud Sam Ratulang menjadi RSAU dr. Charles P.J South.

KSAU menjelaskan bahwa saat ini Lanud Sam Ratulangi sudah ditingkatkan menjadi Pangkalan Udara Tipe A sesuai Peraturan Kepala Staf TNI Angkatan Udara Nomor Perkasau/46/XII/2020 pada tanggal 22 Desember 2020. Dengan peningkatan itu, Lanud Sam Ratulangi dipimpin oleh seorang perwira tinggi bintang satu, yang saat ini dijabat oleh Marsma TNI Mohamad Satriyo Utomo.

Dalam sambutannya sebelum mendengarkan arahan KSAU di Balai Prajurit, Marsma TNI Mohamad Satriyo mengatakan bahwa Lanud Sam Ratulangi memiliki tugas melaksanakan kesiapsiagaan dan pembinaan operasi terhadap satuan jajaran.

Letaknya yang strategis dan berbatasan dengan negara tetangga, menjadikan Lanud Sam Ratulangi sebagai pangkalan aju penting di ujung utara Indonesia.

Pengarahan KSAU Marsekal TNI Fadjar di hadapan anggota Lanud Sam Ratulangi. Foto: beny adrian/ mylesat.com

Lanud Sam Ratulangi selama ini aktif melaksanakan tugas dukungan operasi udara, operasi SAR maupun latihan. Untuk mendukung operasi penerbangan, saat ini sudah dibangun shelter yang mampu menampung empat pesawat tempur.

Model gelar kekuatan seperti ini menurut KSAU sesuai dengan sifat unik dari angkatan udara itu sendiri. Karena menurut Fadjar, memahami angkatan udara tidak bisa disamakan dengan matra lain. Karakteristik air power sangat berbeda dengan matra lainnya, sehingga harus dipahami secara utuh.

Bahwa kecepatan, jarak jangkau, kemampuan terbang tinggi, dan fleksibilitasnya yang unik, menjadikan angkatan udara harus dipahami dalam cara yang berbeda. Memang tidak mudah, karena faktanya butuh 21 tahun bagi Amerika Serikat untuk bisa memahami jalan pikiran Jenderal Giulio Douhet dan membentuk yang namanya USAF pada 18 September 1947.

Karena keunikannya itulah, Fadjar memandang bahwa penggelaran kekuatan udara harus dilandasai pada paham home base. “Tidak mesti satu regional dilengkapi dengan pesawat tempur apalagi skadron udara. Angkatan udara menganut paham fungsi, sehingga dimana membutuhkan maka kita akan gelar ke sana (baca: pangkalan aju). Saya menganut paham home base,” ujar Fadjar.

KSAU Marsekal TNI Fadjar menyapa anggota Lanud Sam Ratulangi usai memberikan pengarahan. Foto: beny adrian/ mylesat.com

Konsep home base dipahami sebagai pembentukan pangkalan utama yang mampu mendukung kesiapan operasional pesawat beserta infrastruktur.

Pemahaman inilah yang disampaikan KSAU secara garis besar kepada seluruh personel Lanud Sam Ratulangi, sehubungan adanya pertanyaan dari salah seorang perwira yang mengatakan, apakah ada rencana Mabesau untuk menggelar kekuatan udara permanen di Lanud Sam Ratulangi.

Pemahaman ini bukan pula dikarenakan Indonesia negara berkembang. Di negara maju pun penggelaran skadron udara tidak harus di semua tempat.

“Jadi kita menyiapkan Lanud Sam Ratulangi siap menerima operasi udara, jika ada eskalasi ancaman maka kita bisa menggelar kekuatan lebih cepat,” kata Fadjar yang menyelaraskan pandangannya dengan visi menjadikan TNI AU sebagai Angkatan Udara yang disegani di Kawasan.

KSAU berharap, dengan peningkatan status Lanud menjadi Tipe A, kesiapan operasi yang diawaki oleh seluruh personel juga ikut meningkat. Untuk itu, KSAU memberikan apresiasi kepada Komandan Lanud Sam Ratulangi yang berhasil melaksanakan fungsi pembinaan dengan baik.

“Saya apresiasi laporan tadi yang mengatakan bahwa indikator keberhasilan pembinaan di sini adalah tercapainya zero accident dan zero incident, bahkan zero Laka Lantas (kecelakaan lalu lintas),” puji KSAU. Saat ini Lanud Sam Ratulangi diawaki oleh 238 personel.

Foto bersama KSAU Marsekal TNI Fadjar dengan keluarga besar Kolonel (Pur) dr. Charles P.J South yang namanya diabadikan sebagai nama RSAU. Foto: beny adrian/ mylesat.com

“Zero Laka Lantas itu masalah sepele namun sulit diatasi, kenyataannya hampir setiap minggu saya menerima laporan terjadi kecelakaan dan bahkan merenggut jiwa, tapi alhamdulillah di sini terjaga dengan baik,” puji KSAU.

Kepada KSAU, Marsma TNI Mohamad Satriyo juga menyampaikan bahwa tujuh calon tamtama yang diusulkan dalam seleksi penerimaan prajurit TNI AU, diterima seluruhnya.

Sebagai pangkalan udara, Lanud Sam Ratulangi menguasai sejumlah aset. Namun yang menarik dari penjelasan Satryio adalah, terdapatnya dua lahan yang disebut sebagai heritage. Yaitu sebuah bekas dermaga peninggalan Jepang yang digunakan untuk operasi pesawat amfibi. Serta sebuah bekas lapangan terbang di Desa Kalawiran, Kecamatan Langowan Timur, Kabupaten Minahasa.

Bekas lapangan terbang Kalawiran ini dijaga oleh lima anggota Kopasgat TNI AU. Dari peta satelit masih terlihat jejak landasan ini sebuah lahan memanjang dan ditumbuhi rumput.

Kepada seluruh anggota Lanud Sam Ratulangi, KSAU juga memberikan ilustrasi singkat tentang organisasi baru di tubuh TNI AU yaitu Koopsudnas (Komando Operasi Udara Nasional).

Koopsudnas itu, beber KSAU, merupakan penggabungan Kohanudnas dan Koopsau melaksanakan tugas dan fungsi pertahanan udara. Dengan organisasi baru ini jelas meringankan tugas KSAU.

“Perlu diketahui bahwa Koopsudnas itu sesuai esensi dari angkatan udara itu sendiri yaitu unity of command, kita beroperasi di udara dan mempunyai kekhasan sendiri. Semua bergerak dalam satu komando meski fungsinya berbeda karena ada pesawat tempur, angkut, heli, Paskhas, dan sebagainya. dengan berada di bawa komando baru, diharapkan kita akan semakin baik dan jalur perintah juga lebih jelas,” tutur KSAU.

“Kita merencanakan sesuatu yang bersifat strategis, itu idenya,” tambah Fadjar.

Foto bersama KSAU dengan anggota TNI AU, ASN, dan karyawan RSAU dr. Charles P.J South. Foto: beny adrian/ mylesat.com

Seperti sudah berulang-ulang disampaikan KSAU pada setiap kesempatan pengarahan kepada personel TNI AU, untuk lebih bijak dalam berselancar di media sosial. KSAU tidak ingin ada anggota TNI AU yang terjerat masalah dikarenakan kelatahannya di media sosial.

“Selalu ingat siapa kita, yaitu anggota TNI yang diikat oleh norma dan aturan,” ucap KSAU. Marsekal Fadjar tak lupa memberikan dorongan moril kepada seluruh personel Lanud Sam Ratulangi khususnya, untuk selalu mempersiapkan diri sebaik mungkin dalam menghadapi jenjang pendidikan terkait kenaikan pangkatan.

“Siapkan diri kalian untuk mengikuti setiap jenjang pendidikan dan selalu percaya diri, kalian pasti bisa,” ucap KSAU Marsekal TNI Fadjar Prasetyo.

Share.

About Author

Being a journalist since 1996 specifically in the field of aviation and military

Leave A Reply