Siap Ground Run, Ini Fakta Pesawat Cureng TNI AU yang Sudah Akan Dihidupkan Tapi Batal

0

MYLESAT.COM – Indonesia pernah punya pesawat RI-X WEL karya Wiweko Soepono yang melegenda. Dibuat selama lima bulan oleh Biro Perencanaan dan Konstruksi TRI AU di sebuah bekas gudang kapuk di daerah Maospati, Jawa Timur. Pun ada pesawat metal pertama yang diberi nama Sikumbang karya Nurtanio Pringgoadisuryo. Namun dengan tidak mengurangi hormat kepada kedua mahakarya anak bangsa ini, pesawat yang satu ini juga punya tempat tersendiri di hati TNI AU.

Memang bukan karya putra bangsa, sebaliknya menjadi kekuatan penjajah Jepang kala itu. Namun berkat keuletan teknisi kawakan kala itu, Basir Surya, pesawat Yokosuka K5Y Willow yang dikenal di tanah air sebagai Cureng itu bisa diterbangkan.

Yokosuka K5Y Willow alias Cureng adalah pesawat latih biplane Jepang saat menduduki Indonesia. Pesawat ini kembali terlihat utuh setelah direstorasi tahun 2017. Foto: beny adrian/ mylesat.com

Baca Juga:

Tidak hanya itu, Cureng juga meletakkan begitu banyak pondasi dalam sejarah pembangunan TNI Angkatan Udara.

Itu sebabnya itu ketika mylesat.com melihat pesawat legendaris ini dipajang di depan VIP Room Lanud Adisutjipto pada Jumat (29/7/2022), hati ini bergetar. Meski sosok biplane ini terlihat anggun dengan balutan warna hijau, namun aroma kepahlawan yang melekat padanya tak terbantahkan.

Dengan pesawat inilah, juga Mitsubishi Ki-51 Sonia alias Guntai, kadet-kadet penerbang AURI (TNI AU) melakukan operasi serangan udara pertama dalam sejarah Indonesia sejak merdeka. Tepatnya 29 Juli 1947, dua Cureng dan satu Guntai lepas landas dari Maguwo (Lanud Adisujipto) untuk menjatuhkan bom pada kedudukan Belanda di Semarang, Ambarawa, dan Salatiga.

Pesawat hebat ini tersimpan dan terawat di Museum Pusat TNI AU Dirgantara Mandala (Muspusdirla), Yogyakarta. Pesawat Cureng asli yang sebelumnya menjadi koleksi Museum Satria Mandala, Jakarta, diboyong ke Muspusdirla Yogyakarta pada 2017 atas perintah KSAU Marsekal TNI Hadi Tjahjanto. Restorasi dikerjakan oleh Skadron Teknik 043.

Pesawat Cureng dengan nomor 62 ini pertama kali ditampilkan di hadapan publik pada peringatan HUT Koharmatau, 27 Oktober 2017.

Cureng menjadi koleksi Museum Satria Mandala sejak 1977. Sedangkan pesawat yang dipajang di Muspusdirla dan Monumen Jogja Kembali (Monjali) Yogyakarta adalah replikanya.

Sementara Guntai yang ada di Muspusdirla, ditemukan di Papua dalam kondisi tanpa roda pendarat dan sirip vertikal. Pesawat direstorasi pada 1987.

Dalam catatan sejarah disebutkan bahwa Sonia atau Guntai menjadi pesawat peninggalan Jepang yang paling banyak hancur saat invasi Belanda di Yogyakarta pada 1949.

Marsekal Hadi Tjahjanto saat menjadi KSAU, memeriksa proses restorasi pesawat Cureng di Skatek 043.
Foto: beny adrian/ mylesat.com

Pesawat Cureng yang dipajang di depan Lanud Adisutjipto ini bukanlah replika. Oleh TNI AU, pesawat Cureng asli ini diganti dengan replika yang selama ini ada di Muspusdirla.

Yokosuka K5Y Willow atau Cureng adalah pesawat latih (two-seat intermediate trainer) yang pernah digunakan Angkatan Laut Jepang di Indonesia pada masa Perang Kemerdekaan. Setelah Jepang hengkang dari Republik, pesawat ini dan beberapa pesawat lainnya ditinggal begitu saja. Ketika itu jumlah Cureng disebutkan mencapai 50 pesawat. Umumnya sudah tidak bisa diterbangkan.

Setelah diperbaiki Basir Surya, berhasilah sebuah pesawat Cureng diterbangkan pada 27 Oktober 1945 dari pangkalan udara Maguwo oleh Agustinus Adisucipto.

Peristiwa bersejarah ini menandai untuk pertama kalinya pesawat dengan lambang merah putih di ekornya diterbangkan di alam kemerdekaan oleh putra Indonesia sendiri. Tanggal bersejarah ini diabadikan sebagai hari besar Koharmatau.

Adisucipto kembali menerbangkan pesawat lainnya, yaitu Nishikoren pada 7 November 1945 di pangkalan udara Cibeureum, Tasikmalaya. Pesawat Cureng pula yang pertama kali digunakan untuk melakukan pemotretan udara menggunakan kamera jenis oblique.

Dari penelusuran di berbagai literatur, diperoleh data bahwa di dunia hanya ada empat monumen Yokosuka K5Y1. Masing-masing satu replika di Museum Satria Mandala dan di Kawaguchiko Motor Museum di wilayah Perfektur Yamanashi, Jepang.

Sementara pesawat aslinya ada di Museum Pusat Dirgantara Mandala Yogyakarta dan di Kawaguchiko Motor Museum, Jepang.

Siap ground run 

Ada sebuah misteri di Cureng jika kita membaca buku “Marsda TNI Dento Priyono Perwira Teknik dengan Sejuta Inovasi” (2021). Pada halaman 211 dituliskan bahwa Cureng siap ground run alias mesinnya bisa dihidupkan.

Tidak banyak yang tahu bahwa Dento Priyono yang saat itu menjabat Kadisaeroau, tidak hanya memindahkan dan merestorasi Yokosuka K5Y1 tapi juga berusaha menghidupkan kembali pesawat buatan Nippon Hikoki KK tahun 1933 ini.

Sudah diimpikannya sejak awal bahwa Cureng tidak hanya sekadar pajangan Museum, akan tetapi juga bisa dihidupkan minimal setahun sekali pada setiap peringatan Hari Bhakti TNI AU.

Untuk merealisasikan keinginannya, Dento dibantu Lulut Wahyudi (Custom Builder) untuk membeli spare parts pesawat di Jepang. Beberapa komponen sudah dipasang, termasuk baling-baling sudah di-balancing sehingga siap dihidupkan.

KSAU Marsekal TNI Fadjar Prasetyo ber-swa foto dengan pesawat Cureng, usai memimpin upacara napak tilas serangan udara 29 Juli 1947 di Lanud Adisutjipto pada 29 Juli 2022. Foto: beny adrian/ mylesat.com

Sebagai orang teknik, menghidupkan kembali pesawat buatan tahun 1930-an ini tentu menjadi pencapaian yang tidak ternilai. “Sesuatu yang tidak bisa dinilai dengan rupiah, meski keluar uang tapi ada nilai sebagai orang teknik mampu menghidupkan pesawat tua,” aku Dento.

Dento mengaku mengeluarkan biaya Rp 185 juta untuk menghidupkan kembali pusaka terbang ini.

Sampai pada suatu hari Muspusdirla akan kedatangan tamu dari Kedutaan Besar Jepang di Jakarta. Padahal saat itu mesin pesawat sedang diperbaiki di Skatek agar bisa hidup kembali. Apa boleh buat, pihak Lanud Adisutjipto meminta pesawat untuk dikembalikan ke posisinya di Museum.

Sejak itu, upaya menghidupkan kembali Cureng berhenti sama sekali. “Saya sebetulnya ingin tuntaskan. Sekarang jika ingin dihidupkan lagi masih bisa, perlu seseorang yang peduli,” ucap Dento Priyono.

Share.

About Author

Being a journalist since 1996 specifically in the field of aviation and military

Leave A Reply