Ditinjau KSAU, Latma Cope West 2021 Jadi Kesempatan Penerbang TNI AU Jajal Kemampuan BVR

0

MYLESAT.COM – Sangat istimewa pelaksanaan Latihan Bersama (Latma) Cope West 2021 antara TNI AU dan USAF (Anglatan Udara Amerika Serikat) tahun ini. Pasalnya, KSAU Marsekal TNI Fadjar Prasetyo menyempatkan untuk melihat langsung pelaksanaan latihan saat melaksanakan kunjungan kerja di Lanud Roesmin Nurjadin, Pekanbaru, Kamis (24/6/2021).

Baca Juga: 

Latma Cope West dilaksanakan sejak 14 – 24 Juni 2021. Latihan melibatkan pesawat tempur F-16 Fighting Falcon dari Skadron Udara 3 TNI AU dan 13th Fighter Squadron, Misawa AFB, Jepang.

Materi yang secara umum dilaksanakan selama Cope West 2021 adalah latihan pertempuran udara.

Dalam kesempatan kunjungannya ini, KSAU memberikan taklimat kepada para pelaku latihan di ruang BCDS-A Wing 6 Lanud Roesmin Nurjadin. Setelah itu KSAU menuju Shelter Charlie untuk meninjau pesawat F-16 milik AU AS.

“Saya sengaja datang untuk melihat langsung pelaksanaan Cope West 2021,” ujar Marsekal Fadjar.

KSAU Marsekal Fadjar Prasetyo tiba di Lanud Roesmin Nurjadin untuk meninjau Latma Cope West 2021. Foto: beny adrian/ mylesat.com

Kepada para perwira penerbang, KSAU menceritakan behind the scene Cope West 2021, yang awalnya sempat melahirkan keraguan di tengah pandemi Covid-19.

“Tapi saya punya pertimbangan dan selalu mengatakan kepada para pemimpin bahwa kita sebagai yang ditugasi untuk melindungi dan menjaga kedaulatan, apapun situasinya harus tetap berlatih, tetap beroperasi. Risiko bisa kita hitung, sehingga kita putuskan dilaksanakan,” tutur KSAU.

Sebelumnya KSAU mendengarkan paparan dari Direktur Latihan Kolonel Pnb Jajang Setiawan, yang sehari-harinya menjabat Komandan Wing 6 Lanud Roesmin Nurjadin. Salah satu yang disampaikan Kolonel Jajang adalah rencana Cope West 2022.

“Cope West 2022 silakan disiapkan, koordinasikan dengan Mabes dan Lanud Iswahjudi. Perhatikan kesiapan fasilitas di Madiun untuk melaksanakan beberapa materi latihan,” tekan Fadjar.

Tak kurang KSAU menyampaikan bahwa Cope West bukanlah latihan untuk menang-menangan. Sebaliknya, tekan KSAU, ini adalah gaming experience bagi penerbang tempur TNI AU untuk mengasah dan menambah ilmu tentang pertempuran udara.

Selalu memperhatikan regenerasi, kali ini KSAU juga mengingatkan kembali para perwira senior di skadron untuk tidak melupakan tanggung jawabnya kepada yuniornya.

“Libatkan mereka, biarkan mereka terlibat. Kalau merasa adik-adik tidak mampu, itu salah kalian, karena tugas kalian adalah memimpin adik-adik. Kita berharap satu skadron memiliki kualifikasi standar, kita dari Mabes merencanakan tapi tugas kalian melaksanakan pembinaan,” urai KSAU panjang lebar.

Fadjar juga mengajak para perwira senior untuk bersama-sama memetakan kemampuan yuniornya dan memberikan dorongan atau peluang untuk membuat mereka lebih maju. Apalagi yang memiliki kelebihan, harus dibina.

“Tapi yang penting, jangan sombong,” tekan KSAU.

Marsekal Fadjar juga mengungkap sedikit rencana pengembangan dan modernisasi alutsista TNI AU, terkait perencanaan Cope West di masa mendatang.

“Saya bertanggung jawab untuk terus meningkatkan kemampuan. Dengan eMLU terjadi peningkatan fleet,” kata KSAU, yang mengharapkan dibangunnya koordinasi yang bagus di antara Skadron 3 dan 16 dalam pembinaan penerbang tempur, khususnya peningkatan kemampuan BVR (beyond visual range).

KSAU juga menggarisbawahi bahwa diharapkan program eMLU akan terus menambah jumlah pesawat berkemampuan BVR.

Isu-isu lain yang disampaikan KSAU adalah pengembangan network centric warfare dan indigenous datalink system. KSAU berharap tidak lama lagi, TNI AU sudah memiliki kemampuan untuk melaksanakan pertempuran udara jarak jauh, dengan dukungan sistem pasokan data yang lebih kuat dan cepat.

Karena pertempuran udara modern ditandai dengan peningkatan situational awareness yang semakin tinggi diiringi evolusi sistem persenjataan khususnya rudal.

Sebelumnya Kolonel Pnb Jajang Setiawan menyampaikan bahwa pada hari ini, semua penerbangan sudah dilaksanakan dengan aman dan lancar. Latihan berjalan lancar, aman, dan tanpa ada insiden yang bisa mengganggu jalannya latihan.

Sore ini dilaksanakan sorti terakhir sebanyak 8 pesawat tempur F-16 Fighting Falcon untuk melaksanakan pertempuran udara 4 lawan 4.

Awalnya di Medan

Cope West dilaksanakan pertama kali pada tahun 1995 di Medan. Saat itu TNI AU mengirimkan 6 pesawat tempur F-16A/B Skadron 3 dari Lanud Iswahyudi. Sementara USAF menerbangkan 6 F-16C dari 14th Fighter Squadron, Misawa.

Salah satu kelebihan Cope West pertama ini adalah, penerbang TNI AU diberi kesempatan melaksankan air refuelling dari pesawat tanker KC-135R Stratotanker dari 909th Air Refuelling Squadron di Kadena, Jepang.
Cope West pertama membukukan 60 sorti penerbangan. Baik untuk mater BFM, ACM, ACT dan air refuelling.

Saat itu USAF juga memperkenalkan taktik long range air combat dan simulasi within visual range.
Dari situlah kemudian TNI AU dan USAF sepakat untuk melaksanakan latihan Cope West secara rutin hingga sekarang.

Latihan ini sempat berganti fokus saat pelaksanaan tahun 2014. Baik TNI AU maupun Angkatan Udara AS mengerahkan pesawat angkut C-130 Hercules untuk melaksanakan materi pergeseran pasukan (Serpas) dan pergeseran logistik (Serlog).

Cope West kembali dihidupkan pada 2016. Terbentuknya Skadron Udara 16 membuat latihan menjadi semakin intensif, selain dengan Skadron 3. Kedua skadron secara bergantian menjadi tuan rumah Cope West yang dilaksanakan di dua tempat yaitu Manado dan Pekanbaru.

“Di Manado sampai 2019. Tahun 2020 vakum karena Covid, tahun depan rencana di Madiun,” ungkap Jajang.

Pelaksanaan Cope Wes 2021 di Pekanbaru memang sangat ideal. Karena Lanud Roesmin Nurjadin memiliki fasilitas yang relatif lengkap. Mulai dari ACMI, MTA (military training area), dan AWR di Siabu seluas 10.000 hektar.

Diskusi singkat KSAU Marsekal Fadjar Prasetyo dengan Komandan Skadron 13 Letkol Jordan Khan (kiri), Atase Udara AS Kolonel Brian (tengah, dan Atase Darat AS Kolonel Ian Francis (kanan). Foto: beny adrian/ mylesat.com..

Karena itu tidak tertutup kemungkinan pada pelaksanaan Cope West di masa depan, kedua angkatan udara melaksanakan weapon delivery.

Tidak tertutup juga kemungkinan future Cope West melaksanakan latihan yang melibatkan berbagai platform. Otomatis latihan akan menguji kemampuan penerbang dalam melaksanakan misi yang lebih komplek.

Mulai dari composite strike, Serpas, Serlog, dan CSAR (combat SAR).

Jika menelusuri jejak Cope West sejak latihan pertama hingga saat ini, latihan tahun ini memberikan kesempatan kepada penerbang TNI AU untuk menjajal kehebatan F-16AM/BM yang sudah ditingkatkan kemampuannya.

“Di tahun ini ditambah materi BVR karena ada kemampuan itu di Skadron 3,” jelas Jajang.

Untuk Cope West 2021 ini, USAF melibatkan 91 personel dari Misawa. Dengan selesainya latihan, secara bertahap personel USAF akan meninggalkan Pekanbaru untuk kembali ke Jepang.

Total selama Cope West telah dilaksanakan sebanyak 104 sorti dengan 52 sorti TNI AU dan 52 dari USAF.

Selama latihan terlihat penerbang Skadron 3 TNI AU mampu mengikuti ritme mitranya dari USAF. Hal ini dikarenakan latihan rutin yang dilaksanakan TNI AU setiap tahun dalam format MOT (Mission Oriented Training) dan LFE (Large Force Employment).

Baca Juga: 

Tinjau MOT dan GFAC Hari ke-5, KSAU Marsekal Fadjar Prasetyo Tekankan Pentingnya Evaluasi

Tentu latihan semacam Cope West akan sangat bermanfaat bagi penerbang tempur TNI AU dalam meningkatkan kemampuannya.

Latihan seperti ini bisa dimanfaatkan untuk sharing knowledge dan experience. Selain tentunya secara politis menunjukkan kedekatan hubungan Indonesia dan AS khususnya dalam kerja sama militer.

Share.

About Author

Being a journalist since 1996 specifically in the field of aviation and military

Leave A Reply