Tinjau MOT dan GFAC Hari ke-5, KSAU Marsekal Fadjar Prasetyo Tekankan Pentingnya Evaluasi

0

MYLESAT.COM – Hari-hari ini langit Jawa Timur khususnya Madiun Area, Ponorogo, dan Trenggalek akan dipenuhi berseliwerannya puluhan pesawat tempur TNI AU. Gelegar mesin pesawat tempur ini merupakan bagian dari digelarnya latihan Mission Oriented Training (MOT) dan Ground Forward Air Control (GFAC).

MOT adalah sebuah metode latihan operasi udara yang melibatkan pesawat dalam jumlah banyak, dari berbagai jenis, dan diskenariokan menghadapi berbagai rupa ancaman (threat). Model latihan seperti ini masih terbilang baru bagi TNI AU, namun terus dikembangkan.

Baca Juga: 

Pelaksanaan latihan MOT dan GFAC menggunakan dua pangkalan udara. Yaitu Lanud Iswahjudi di Madiun dan Lanud Abdulrachman Saleh di Malang.

Latihan melibatkan 45 pesawat dan helikopter dari berbagai jenis. Sebanyak 30 pesawat tempur ditempatkan di Lanud Iswahjudi. Sementara 15 pesawat berbadan besar berpangkalan di Lanud Abdulrachman Saleh, Malang.

Latihan dibuka Asisten Operasi Kepala Staf Angkatan Udara (Asops KSAU), Marsda TNI Henri Alfiandi di Gedung VIP Lanud Iswahjudi, Senin 19 Oktober 2020. Latihan akan berlangsung hingga 27 Oktober 2020.

Memasuki hari kelima latihan, Jumat (23/10), KSAU Marsekal TNI Fadjar Prasetyo meninjau pelaksanaan latihan. Turut mendampingi para Asisten KSAU, Pangkohanudnas, Pangkoopsau I, II, dan III, Dankorpaskhas, para Kepala Dinas di jajaran Mabesau, dan pejabat Lanud Iswahjudi.

Pada hari kelima, sesuai rencana, dilaksanakan operasi penerbangan malam dengan tema multi axis strike. Namun karena hujan deras mengguyur Kota Magetan dan sekitar sejak pukul 5 sore, latihan tidak bisa dilaksanakan secara maksimal.

Sedianya akan dilaksanakan Night LFE (Large Force Employment) dengan tema multi axis strike menggunakan 25 pesawat dengan empat pesawat sebagai Red Air.

Menurut Direktur Latihan Kolonel Pnb M. Anjar Legowo, tujuan dilaksanakannya MOT adalah untuk mendapatkan pengalaman dan pengetahuan dalam melaksanakan operasi dengan bermacam platform yang ada.

“Juga sebagai wahana bagi penerbang untuk sharing,” jelasnya saat membeberkan skenario latihan kepada KSAU.

Kepentingan lainnya dari MOT dan GFAC juga sangat penting dalam meningkatkan pengetahuan dan pemahaman penerbang terhadap misison planning dalam berbagai macam bentuk ancaman. Selain untuk meningkatkan koordinasi penerbang dari berbagai macam platform dengan mitra utamanya yaitu radar GCI (Ground-controlled Interception) dan GFAC (Ground Forward Air Control).

Kolonel Pnb Anjar memaparkan rencana latihan kepada KSAU. Foto: beny adrian/ mylesat.com

GCI adalah taktik pertahanan udara di mana satu atau lebih stasiun radar atau stasiun pengamatan lainnya dihubungkan ke pusat komunikasi komando yang memandu pesawat interseptor ke target udara.

Taktik ini dipelopori semasa Perang Dunia I oleh organisasi Area Pertahanan Udara London, yang menjadi sistem Dowding Angkatan Udara Inggris dalam Perang Dunia II, sistem skala nasional pertama.

Luftwaffe Jerman memperkenalkan sistem serupa selama perang, tetapi sebagian besar kombatan lain tidak mengalami ancaman serangan udara yang sama dan tidak mengembangkan sistem kompleks seperti ini sampai era Perang Dingin.

Saat ini perang sudah dilakukan di dalam sebuah sistem komando terintegrasi, sehingga semua sistem yang digunakan di teater haruslah memiliki keseragaman.

Angkatan Udara Amerika Serikat secara rutin melaksanakan latihan operasi udara skala besar. Di antara yang menarik adalah apa yang mereka sebut Elephant Walks. Begitu pun terhadap rivalnya Rusia, AU AS (USAF) tidak sungkan-sungkan menggelar latihan serangan udara strategis ke jantung Rusia menggunakan pesawat pembom dengan dukungan pesawat tempur.

Bagi penerbang TNI AU, latihan MOT dan GFAC dijadikan tolok ukur keberhasilan pembinaan personel. Yaitu tercapainya keserasian antara berbagai platform pesawat tempur, transpor, dan helikopter.

Dari jenis pesawat yang berbeda akan menghasilkan pengalaman yang berbeda pula sehingga diharapkan bisa sharing tactic.

MOT tahun 2020 menjadikan threat action sebagai poin utama. Sasaran yang ingin dicapai yaitu, bagaimana penerbang bereaksi apabila saat melaksanakan operasi udara mendapatkan threat atau ancaman. “Seperti apa reaksinya sehingga bisa survive dalam melaksanakan operasinya,” ungkap Anjar.

Pelaksanaan latihan diawali dengan refreshing teori serta diskusi di antara pelaksana latihan dan peserta. Pada hari berikutnya dilaksanakan force integration training sebagai ajang pemanasan sebelum memulai LFE (Large Force Employment). Penerbangan dilaksanakan baik siang maupun malam hari.

Sebelum tahap manuver lapangan, semua peserta latihan mengikuti forum diskusi untuk membicarakan berbagai materi terkait latihan. Seperti centre of gravity academic, mission planning academic, air to ground planning consideration serta threat action. Yaitu bagaimana pesawat tempur, tranpor, dan heli bereaksi saat menghadapi ancaman baik dari darat maupun udara.

Tidak ketinggalan pelaksanaan latihan penyelamatan rekan yang terjatuh atau tertinggal di daerah musuh (Combat SAR).

Latihan MOT membagi kekuatan ke dalam dua unsur, yaitu Blue Air dan Red Air. Skenario dibuat mendekati situasi riil, di mana pesawat Blue mendapatkan banyak ancaman dalam melaksanakan misinya. Baik dari udara maupun kekuatan darat.

Seperti pada sebuah skenario latihan, dilaksanakan penyusupan pasukan khusus ke wilayah musuh menggunakan tiga C-130 Hercules dan CN295. Latihan ini melibatkan 35 pesawat, dimana enam pesawat berlaku sebagai Red Air.

Perlakuan ancaman diberlakukan kepada ketiga jenis pesawat yang terlibat. Bahkan kemampuan BVR threat pun ditunjukkan dengan hasil yang sangat baik oleh pesawat F-16AM/BM Fighting Falcon.

Di antara skenario yang diuji adalah kemampuan penerbang transpor melaksanakan air droping, air landed, dan air tor air refuelling dengan mendapatkan simulasi ancaman dari pesawat tempur lalu bagaimana reaksi pilot.

Pada hari pemanasan sebelum dilaksanakannya LFE, penerbang transpor menunjukkan kepiawaiannya melaksanakan air landed secara beruntun menggunakan tiga pesawat C-130 Hercules.

Sementara helikopter melaksanakan Combat SAR dalam hostile environment.

Pada hari terakhir latihan akan dilaksanakan misi penyerangan (strike) dengan target penghancuran sasaran terpilih untuk mendapatkan keunggulan dalam pertempuran. Latihan akan melibatkan 35 pesawat.

Menarik disimak adalah akan dilaksanakan juga misi penarikan (extraction) pasukan dan menjemput pasukan yang masih tersisa di wilayah musuh untuk dibawa ke daerah aman.

Dalam bagian seperti ini, lazim kita lihat di film-film Hollywood dan sejarah perang udara, semua unsur akan memainkan perannya. CAS (Close Air Support) akan sangat menentukan keberhasilan misi seperti ini yang akan dilaksanakan oleh pesawat EMB-314 Super Tucano, T-50 Golden Eagle, dan Hawk 109/209.

Setidaknya hingga detik ini, sejumlah hasil sudah bisa diperoleh dengan semakin meningkatnya situational awareness penerbang. Terutama penerbang transpor dan heli yang selalu menjadi sitting duck dalam setiap peperangan.

Karena di antara sasaran yang ingin dicapai dalam latihan adalah memberikan kesadaran penerbang transpor dalam menghadapi ancaman. Mereka harus memahami bentuk manuver untuk menghindari ancaman.

KSAU Marsekal Fadjar Prasetyo memberikan arahan kepada peserta latihan. Foto: beny adrian/ mylesat.com

KSAU Marsekal Fadjar Prasetyo menilai bahwa pelaksanaan MOT tahun 2020 sudah berjalan dengan baik. Meski Fadjar mencatat ada beberapa hal yang masih harus terus disempurnakan.

Seperti soal perang elektronika dan model ancaman harus dibuat lebih beragam. Fadjar juga memberikan perhatian kepada model latihan yang masih melulu defensif. “Ke depan coba ofensif,” urainya.

“Ini awal yang baik dan semakin baik. Hanya saya berpesan bahwa yang paling penting itu adalah evauasi. Dengan evaluasi kita tahu apa kekurangan dan apa yang dibutuhkan ke depan. Supaya dalam perencanaan ke depan tahu apa yang harus dipenuhi,” jelas Fadjar.

Sebagai penerbang A-4 Skyhwak, Fadjar tentu memahami tantangan yang dihadapi adik-adiknya para penerbang tempur. Untuk itu Fadjar menyampaikan agar terus meningkatkan kemampuan, mempelajari perkembangan taktik perang udara, dan memanfaatkan semaksimal mungkin kesempatan pendidikan dan latihan di luar negeri.

“FWIC (Fighter Weapons Instructor Course) itu mahal sekali, kemampuan kita masih terbatas. Jadi saya harap yang senior menurunkan (ilmu) ke adik-adiknya. Karier harus dicapai tapi ilmu juga diturunkan,” tutur Fadjar.

Fadjar menyinggung para seniornya yang beruntung karena berkesempatan mengikuti FWIC di luar negeri seperti Amerika Serikat dan Singapura.

Namun agar tidak tertinggal jauh dalam hal pertempuran udara, jelas Fadjar, TNI AU pernah menempuh “paket ekonomis” dengan mendatangkan instruktur dari luar negeri ke Indonesia. Latihan menggunakan aset TNI AU.

“Jangan lupa evaluasi dan tetap berdoa agar latihan bisa berjalan dengan aman dan lancar,” kata KSAU.

Share.

About Author

Leave A Reply