MYLESAT.COM – Armada Utara Rusia (Russian Northern Fleet) mulai melaksanakan serangkaian latihan militer terbaru di kawasan Kutub Utara (Arktik), Jumat (6/8/2021).
“Latihan komando dan staf telah dimulai untuk Armada Utara di bawah arahan Komandan Pahlawan Rusia Laksamana Alexander Moiseyev untuk melatih komando dan kontrol dari prajuri dan pasukan,” kata kantor penerangan Armada Utara.
Latihan dalam skala besar di Kutub Utara ini secara keseluruhan, latihan melibatkan lebih dari 10.000 personel, 70 jenis rapur hingga 15 pesawat, dan sekitar 30 kapal peran, kapal selam, dan kapal pendukung lainnya.
Angkatan Udara Armada Utara dan Angkatan Darat Pertahanan Udara akan melakukan latihan darat dan udara yang melibatkan kapal perang, kapal selam, dan kapal pendukung. Kapal-kapal dari semua Kola Flotilla dan divisi kapal pembawa rudal armada juga berpartisipasi.
“Latihan bertujuan untuk menilai keterampilan praktis perwira markas besar dalam komando dan kontrol pasukan, melatih waktu operasi, dan menyelesaikan latihan tempur menggunakan senjata sebagai bagian dari pengelompokan semua pasukan,” kata pihak penerangan.
Pihak penerangan Armada Utara juga mengatakan bahwa latihan akan membantu komando menilai kesiapan pasukan Armada dalam latihan skala besar di akhir tahun ini.
Rusia pada Maret lalu juga melaksanakan latihan militer di Arktik pada saat ketegangan meningkat dengan Barat, khususnya Amerika Serikat, di dekat Alexandra Land di kepulauan Franz Josef Land.
Dalam pernyataan saat itu, Laksamana (Pur) Viktor Kravchenko mengatakan bahwa manuver tersebut harus mengingatkan AS bahwa mereka memiliki persaingan di kawasan itu dan bahwa Rusia “sudah lama berada di sini.”
Sebelumnya pada bulan Februari, Amerika Serikat mengerahkan pembom jarak jauh B-1 Lancer untuk berlatih di Norwegia. Tindakan itu dinilai sebagai unjuk kekuatan yang mengingatkan kembali pada situasi Perang Dingin.
Selama tahun 1990-an, Rusia dan AS menjalin hubungan diplomatik dan perdagangan. Namun pada tahun 2000-an timbul ketegangan yang meningkat setelah pemilihan Vladimir Putin dan dugaan campur tangan Rusia dalam pemilihan presiden AS tahun 2016 dan 2020.