MYLESAT.COM – Ada perlakuan istimewa diberikan Kepala Angkatan Udara Australia Marsekal Mel Hupfeld kepada KSAU Marsekal TNI Fadjar selama menghadiri Air and Space Power Conference 2022 (ASPCon22) di Canberra. Selain selalu diberi posisi center setiap kali foto bersama, pun ketika KSAU ingin meninjau RAAF Base East Sale di Sale, Victoria, satu pesawat C-130J Super Hercules disiapkan. Great host.
Australia (RAAF) dan Indonesia (TNI AU) mempunyai sejarah yang panjang sebagai negara pertama dan kedua di luar Amerika Serikat yang mengoperasikan Hercules. Khusus C-130J, Australia lebih dulu memesan 12 unit Super Hercules pada Desember 1995 dan pengiriman dimulai sejak 1999 hingga 2001.

KSAU Marsekal TNI Fadjar menuju C-130J didampingi perwira RAAF. Foto: Dispenau
Saat pembelian C-130J, sebagai bagian dari negosiasi dengan Lockheed Martin, tujuh C-130E RAAF dikembalikan ke perusahaan untuk mendapatkan diskon harga pesawat. Pada saat pemesanan 12 pesawat ini, Pemerintah Australia mengambil opsi tambahan 27 Super Hercules, namun tidak pernah dieksekusi.
Pesawat C-130J dioperasikan oleh Skadron 37 di RAAF Base Richmond yang berada di luar kota Sydney.
Pesawat C-130J inilah yang disiapkan RAAF untuk mendukung kunjungan KSAU ke sejumlah lembaga pendidikan di RAAF Base East Sale.
Di Base East Sale berdiri Air Academy RAAF yang menaungi sejumlah satuan pendidikan. Seperti School of Air Traffic Centre (SATC), Air Mission Training School (AMTS), dan Central Flying School. Itu sebabnya pangkalan ini menjadi salah satu pusat pelatihan utama RAAF.
Karena di sini bercokol Australian Air Force Cadets dari 4 Wing (Victoria), rumahnya No. 409 Squadron Australian Air Force Cadets, markasnya tim aerobatik The Roulettes, dan juga Officers Training School (OTS) setelah direlokasi dari Point Cook Base. Pangkalan ini diawaki oleh sekitar 700 personel.
Dalam special flight dari SQN34 Air Terminal Canberra menuju RAAF Base East Sale pada Kamis (24/3/2022), lagi-lagi ada kejutan. KSAU diberi kesempatan duduk di kokpit C-130J Super Hercules RAAF dalam penerbangan lebih kurang 60 menit.
Sepertinya RAAF memahami keinginan KSAU, karena tak lama lagi TNI AU akan mengoperasikan pesawat yang sama. KSAU sendiri sudah melihat langsung pembuatan C-130J pesanan TNI AU dalam lawatannya ke AS tahun lalu. Sehingga mengetahui seluk beluk pengoperasian Sang Putra Dewa, menjadi sebuah keniscayaan.
Dipiloti seorang letnan perempuan, KSAU sangat menikmati penerbangan siang itu. Sambil memperhatikan flight instrument yang sudah glass cockpit, bertolak belakang dengan pengalamannya saat menerbangkan B737-200 yang masih analog, sesekali KSAU mengajak kedua penerbang dan flight engineer berbicara.

KSAU di kokpit C-130J Super Hercules RAAF yang segera dioperasikan TNI AU. Foto: Dispenau
Banyak pertanyaan kritis dilontarkan KSAU.
Seperti soal dua tipe C-130J yang short yang long, versi apa yang lebih ideal. Begitu juga soal drop tank, sejauh mana efektivitasnya dalam pengoperasian yang terkait dengan manuver pesawat. KSAU juga mendapat masukan berharga saat ngobrol di kabin pesawat. Perwira RAAF ini mengatakan bahwa akan jauh lebih efektif jika lantai pesawat tidak terlalu banyak dijejali rel.
Selama penerbangan, tersingkap kemampuan sejati C-130J RAAF yang telah di-update sejak kedatangannya dan mengagumkan. Seperti sistem komunikasi, sejak 2015, seluruh armada C-130J RAAF sudah menjalani upgrade sistem berbasis satelit. Termasuk peralatan yang diperlukan untuk memungkinkan kru menggunakan jaringan pertukaran data Link 16.
Tak heran, penggunaan gadget Ipad lazim di antara kru. Begitu juga layanan internet WiFi, tersedia selama penerbangan.
Selain itu, C-130J RAAF juga sudah dilengkapi RWR (radar warning receivers) sejak 2012 dan disiapkan menerima Large Aircraft Infrared Countermeasures.
Pada 2019, dilaporkan bahwa RAAF mempertimbangkan untuk memasang pod penargetan AN/AAQ-28(V) Litening di armada Hercules untuk meningkatkan kesadaran situasional kru.
“Saya merasa terhormat dan berterimakasih kepada RAAF yang telah menyiapkan sarana transportasi menuju RAAF Base East Sale,” ujar KSAU.
Setibanya di RAAF Base East Sale, RAAF memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada KSAU dan rombongan untuk melihat semua fasilitas yang dimiliki.
Tak ketinggalan, KSAU diberi kesempatan melihat solo aerobatic pesawat Pilatus PC-21 The Roulettes yang memukau. Meski tidak bisa joy flight, KSAU sempat mencoba simulator PC-21.
Satu hal menarik dari aksi PC-21 The Roulettes adalah asap tebal yang dikeluarkan menambah dramatisnya aerobatik yang ditampilkan. Untuk asap ini, The Roulettes memasang smoke generator di kedua sayap. Mirip drop tank.

KSAU memberikan buku kepada pilot yang menerbangkannya ke RAAF Base East Sale. Foto: Dispenau
Tentu hal serupa bisa dilakukan Jupiter Aerobatic Team TNI AU dengan memasang smoke generator di hard point yang tersedia di sayap pesawat.
“Banyak yang bisa dikerjasamakan, seperti membuat kerja sama pelatihan bahasa, karena datang ke training school maka kita jadi tahu bagaimana RAAF menyiapkan seorang navigator, weapon system officer hingga menyiapkan latihan Pitch Black. Saya nanti akan minta apakah TNI AU bisa mengirimkan personel (overseas student) ke sini untuk melihat dan belajar,” tutur Marsekal Fadjar.