Kenali AESA, Radar Pesawat Terkuat Saat Ini

 

Belakangan ini ada satu akronim yang masuk golongan trending topic alias terminologi paling hot di kalangan pemerhati, produsen dan operator pesawat tempur generasi 4+ dan generasi 5. Akronim dimaksud adalah AESA, salah satu tipe radar yang kini paling banyak dibicarakan, dinanti dan diidamkan.

Nyaris semua produsen pesawat tempur generasi 4+ hingga generasi 5 mengiklankan fighter jagoan mereka dengan embel-embel “sudah dilengkapi radar AESA”.

Sebenarnya apa sih AESA, yang merupakan akronim dari active electronically-scanned array itu? Mari kita telusuri dari awal.

Antena radar memiliki fungsi ganda, yaitu sebagai pemancar (transmitter) sinyal elektromagnetik (untuk mendeteksi sasaran di udara) maupun penerima sinyal (pantulan balik jika gelombang tersebut mengenai target) atau diistilahkan sebagai receiver.

Baik transmitter maupun receiver bersama-sama membentuk satu kesatuan utuh yaitu komponen T/R (transmitter/receiver). Pada radar pindai mekanis (mechanically-scanned radar), modul T/R adalah antena radar itu sendiri (umumnya berbentuk piringan atau cekungan landai).

Pengarahan pancaran (radiasi) gelombang radar untuk penjejakan target, diatur dan diarahkan secara mekanis langsung oleh antena radar yang dilengkapi engsel-engsel yang digerakkan secara elektris.

Selain radar pindai mekanis (mechanically-scanned radar), ada jenis lain yang disebut phased array yaitu radar yang terdiri dari sekumpulan komponen atau modul T/R berukuran kecil yang disusun rapat di satu bidang datar.

Perbedaan nyata  jenis phased array dibanding mechanically-scanned radar ada pada pemancaran gelombangnya, di mana fase relatif dari sinyal yang dipancarkan setiap modul T/R bisa diatur besarannya.

Metode pemancaran ini menyebabkan pola sebaran radiasi/pancaran gelombang radar (gelombang elektromagnetik) dapat semakin diperkuat (dipertinggi pancaran radiasi gelombang elektromagnetiknya) ke satu arah yang diinginkan, atau sebaliknya diperlemah ke arah yang memang tidak dikonsentrasikan.

Sekadar catatan, radar phased array sesungguhnya bukanlah teknologi baru. Radar tipe ini sudah eksis bahkan sejak Perang Dunia II, berdasarkan prinsip-prinsip yang diaplikasikan Karl Ferdinand Braun, salah satu pemenang hadiah Nobel.

Hanya saja pada masa itu aplikasi radar phased array masih menemui segudang kendala. Hambatan terbesar datang dari dimensi modul T/R yang masih besar, belum dapat dibuat kecil.

Akibatnya, sebuah radar phased array yang berfungsi penuh bakal makan tempat luar biasa besar dan juga membutuhkan suplai daya listrik yang juga tak kalah besar.

Di zaman teknologi elektronik sudah berkembang sangat pesat seperti sekarang, di mana sudah tak aneh berbagai perangkat elektronis dibuat dalam ukuran kecil, bahkan mikro, aplikasi jenis phased array dengan kekuatan pancar yang kuat bukan lagi hal sulit.

Tantangan teknisnya justru ada pada  proses harmonisasi hasil deteksi serta pengolahan data-datanya sehingga menghasilkan fusi data yang akurat dan dalam tempo cepat.

Penggambaran sederhana cara kerja radar mechanically-scanned dan phased array kira-kira sebagai berikut. Pancaran gelombang radar konvensional bisa dianalogikan dengan cahaya dari lampu senter yang dalam kegelapan sorotannya terlihat menyebar membentuk kerucut (cone) yang kian melebar menjauhi sumbernya (lampu senter itu sendiri).

Pada radar phased array, pola pancaran yang keluar bisa diatur sehingga seolah-olah cahaya dari “senter” itu justru bisa mengerucut terfokus ke satu titik sejarak tertentu dari sumbernya, selain tentu juga bisa menyebar berpola cone seperti biasa.

Karena arah pancaran gelombang radar phased array diatur secara elektronis, maka belakangan radar jenis ini disebut juga pula sebagai radar pindai elektronis (electronically-scanned array radar).

Tipe radar ini terbagi lagi jadi dua jenis berdasarkan sumber pancaran gelombang radarnya, yaitu PESA (passive electronically-scanned array) yang merupakan generasi lebih awal dan AESA (active electronically-scanned array) yang merupakan generasi lanjutnya.

Pada PESA, pancaran gelombang radarnya berasal dari satu sumber (centralized radiofrequency source). Sementara pada AESA, tiap modul T/R memiliki sumber pemancar gelombang masing-masing. Di sinilah letak keunggulan AESA ketimbang PESA.

Walaupun sama-sama memiliki kemampuan mengarahkan pancaran gelombang radar secara elektronis (beam-steering electronically), AESA lebih andal lantaran jika salah satu atau bahkan beberapa  modul T/R rusak, maka kinerja radar secara keseluruhan masih belum begitu terganggu.

Sisi negatifnya, pembuatan AESA jauh lebih rumit dan otomatis harganya jauh lebih mahal ketimbang PESA.

Radar PESA terpasang pada pesawat tempur Rafale generasi awal, Typhoon (sebelum produksi tranche 2b), dan Sukhoi Su-35.

Sementara pesawat-pesawat tempur yang sudah menyandang radar AESA di antaranya Mitsubishi F-2, F-16E/F Block 60 Desert Falcon, F-16V (dan nantinya F-16 Block 70), Rafale generasi terkini (konfigurasi F3 ke atas), Typhoon (tranche 3 ke atas), F-15SA Saudi Advanced Strike Eagle, F-15SG Singapore Strike Eagle dan Gripen E/F.

TNI AU yang kita banggakan memang masih jauh dari memiliki radar tipe ini. Namun jika ke depannya Indonesia bisa memproduksi sendiri pesawat tempur dan memiliki kekuatan untuk bernegosiasi dengan negara pembuat, bukan tidak mungkin Indonesia bisa memiliki radar AESA yng sangat kuat ini.

 

Teks: antonius kk

 

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: