Mitsubishi F-2, Penempur Perdana Gunakan Radar AESA Namun Terlupakan

Istilah AESA (active electronically scanned array) yang merujuk pada tipe radar tercanggih saat ini seolah terminologi “wajib” bagi penempur terklasifikasi generasi 4+ dan generasi 5. Tapi banyak yang tak tahu kalau jet tempur pertamapakai radar AESA bukanlah karya adidaya Amerika Serikat, pun bukan Eropa atau Rusia.

Jepang-lah yang sejatinya boleh berbangga.

Mitsubishi F-2A/B yang desainnya berbasis F-16C/D Fighting Falcon adalah jet tempur pertama di dunia yang dilengkapi radar AESA tatkala operasional tahun 2000.

Radar J/APG-1 buatan Mitsubishi Electric itu duluan operasional ketimbang AN/APG-77 milik F-22 Raptor (baru operasional 2005). Jadi sebelum istilah Block 50+/52+ mengemuka, Jepang sudah duluan membuat derivat F-16 canggih, dengan kategori “plus” pula.

F-2 dibuat untuk menggantikan jet tempur Mitsubishi F-1 yang  berdinas sejak 1978. Konsep FS-X (Fighter Support – Experimental) sudah digagas sejak  1980-an.

Istilah support fighter ini sebenarnya eufemisme dari klasifikasi penempur serang (strike fighter) yang juga berkemampuan tempur udara ke udara, dengan penekanan pada misi di lingkungan maritim.

Di antaranya penyekatan maritim (maritime interdiction) dan antikapal (anti ship mission). Support fighter Jepang dituntut mampu terbang di ketinggian amat rendah, namun tetap lincah bermanuver.

Jepang mengembangkan FS-X berbasis penempur eksisting (F-16C/D Block 40), dan meramunya dengan desain khusus “Agile Falcon” hasil riset General Dynamics. Selebihnya Jepang menggodok sendiri desain major system lainnya yaitu struktur utama, kokpit dan avioniknya.

Kontraktor utama adalah Mitsubishi Heavy Industries (MHI) dengan mitra utama General Dynamics selaku pabrikan F-16. Tatkala pada 1993 divisi pesawat tempurnya dijual ke Lockheed, kemitraan pun beralih. Porsi produksi dibagi 60:40 antara MHI dan Lockheed.

Lesunya ekonomi dekade 2000-an membuat Jepang membatasi produksi F-2 sekitar 100 unit, terdiri dari dua varian yaitu kursi tunggal (F-2A) dan varian latih berkemampuan tempur (combat capable) yaitu F-2B yang berkursi ganda.

Meski penampakannya amat mirip F-16, namun ada beberapa perbedaan mendasar. Sirip ekor horisontal (horizontal tailplane) F-2 lebih besar dengan bentuk berbeda, begitu pula sayapnya yang lebih luas sekitar 25% dengan LERX (leading edge root extension) yang juga lebih besar.

Hidung F-2 juga lebih besar disertai kanopi memakai rangka tambahan (lagi-lagi akibat dimensi yang lebih besar).

Mitsubishi F-2 mampu bermanuver lincah sambil terbang sangat rendah di atas permukaan laut dengan membopong 4 rudal anti kapal ASM-1 (atau 2 rudal ASM-2) dengan 4 rudal udara ke udara jarak menengah-jauh sekaligus.

Termasuk di antaranya karya mandiri Jepang AAM-4 yang jangkauannya mendekati 100 km, lebih jauh dari AIM-120C-5 AMRAAM, dan mungkin baru bisa disaingi AMRAAM versi C-7 ke atas.

Tak pelak orang bertanya hal satu ini: menang mana kalau diadu, F-2 atau F-16? Seperti umumnya budaya Timur, jawaban yang keluar amat diplomatis.

Capt. Nakahara, salah satu pilot F-2 yang bertugas di Lanud Misawa, Jepang, sambil tersenyum hanya menjawab singkat: “……It’s actually a refined F-16!”

Nah, silahkan pembaca mylesat.com menarik kesimpulan sendiri.

SPESIFIKASI Mitsubishi F-2
Kontraktor Utama Mitsubishi Heavy Industries – Jepang
Tonggak Terbang perdana: 7 Oktober 1995 ; Operasional: 2000
Mesin 1 x General Electric F110-GE-129 afterburning turbofan

berdaya 76 kN (normal) dan 130 kN (full afterburner)

Dimensi Panjang: 15,5 m; Tinggi: 5 m Rentang sayap: 11,1 m
Bobot 9.500 kg (kosong); 22.000 kg (MTOW)
Kecepatan maksimum Mach 2,0
Ketinggian maksimum 18.000 m (59.000 feet)
Radius tempur misi standar ± 850 km, dengan membawa dua rudal udara ke udara dan dua rudal antikapal
Jumlah awak 1 (F-2A) atau 2 (F-2B)
Persenjataan internal 1 x kanon JM61A1 kaliber 20 mm
Persenjataan yang dapat dibawa Rudal udara ke udara:

·         AIM-9 Sidewinder (jangkauan 17 km)

·         AIM-7E/M Sparrow (jangkauan 45 – 50 km)

·         Mistubishi AAM-3 / Type-90 AAM (jangkauan 13 km)

·         Mistubishi AAM-4 / Type-99 AAM (jangkauan 100 km)

Rudal udara ke permukaan:

–          ASM-1 / Type-80 ASM (jangkauan 50 km)

–          ASM-2 / Type-93 ASM (jangkauan 150 km)

Bom:

·         general purpose Mk.82/84

·         GBU-31 JDAM (Joint Direct Attack Munition), dengan penuntun pod J-AAQ-2 FLIR

 

Teks: antonius kk

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: