Tumpas
Salah satu jenis operasi militer yang dilaksanakan TNI adalah operasi khusus, yang dilaksanakan oleh satuan tugas TNI yang dibentuk secara khusus.
Dimaksud satuan khusus adalah satuan yang terdiri atas pasukan khusus TNI dan atau melibatkan satuan TNI lainnya yang memiliki kemampuan khusus di bidangnya yang dilatih, disiapkan dan dilengkapi dengan peralatan khusus untuk melaksanakan tugas-tugas khusus tersebut.
Nah, dalam operasi khusus laut, Taifib Marinir TNI AL merupakan satuan pelaksana Operasi Pengintaian Amfibi yang merupakan operasi khusus perang (OMP).
Taifib merupakan bagian dari pasukan khusus TNI AL sebagai satuan pelaksana operasi khusus laut lainnya baik dalam OMP maupun OMSP. Sedangkan operasi penanggulangan teror bagian operasi khusus dalam OMSP dilaksanakan oleh Denjaka.
Operasi Pengintaian Amfibi yang menjadi tanggung jawab Taifib memiliki beberapa tujuan. Operasi jenis ini memiliki kerahasiaan tinggi, karena hasilnya akan menentukan berhasil atau tidaknya gelombang pendaratan pasukan kawan yang dilakukan beberapa hari kemudian.
Operasi Pengintaian Amfibi dilaksanakan untuk mengumpulkan informasi intelijen, konfirmasi pantai pendaratan dan tumpuan pantai, merebut, menguasai dan menghancurkan sasaran yang bernilai strategis dengan pertimbangan Tugas, Musuh, Pasukan Sendiri (Tumpas).
Kemampuan mobilitas diperlukan untuk melaksanakan tugas secara responsif, menjamin kebebasan bertindak, mengembangkan hasil yang dicapai dan mencegah kehancuran pasukan sendiri. Asas mobilitas menetapkan satuan khusus TNI untuk mempertahankan medan operasi secara statis, namun memilih untuk mengorbankan daerah dan waktu guna mendapatkan keunggulan strategis.
Metode infiltrasi yang dipilih baik lintas darat, laut dan udara, akan menentukan sarana angkut yang akan digunakan untuk menunjang mobilitas awal menuju daerah operasi.
Semua kemampuan itulah yang dilatihkan kepada 32 siswa Pendidikan Intai Amfibi Marinir Angkatan 43. Dengan harapan kelak saat mereka dikirim ke medan penugasan, tidak ada lagi keraguan dalam bertindak selain hanya kepercayaan diri yang tinggi untuk mencapai hasil maksimal.
Satuan Intai Amfibi Marinir sebagai Pasukan Khusus TNI AL berdasarkan Surat Keputusan KSAL No Skep/1857/XI/2003 Ttanggal 18 November 2003 Tentang Pemberian status Pasukan Khusus kepada Intai Amfibi Korps Marinir (Taifib Kormar). Sekaligus menetapkan kepada anggota Taifib Kormar diberikan hak sebagai pasukan khusus sesuai ketentuan yang berlaku di TNI Angkatan Laut.
Berawal dari Trikora
Mengacu kepada buku “KKO dari Tahun ke Tahun 1945-1971â€, ide membentuk kesatuan Intai Para Amfibi sudah ada sejak menjelang dikumandangkannya kampanye Trikora 1961. Tahap pendidikan keamfibian dan perang hutan sudah bisa dilaksanakan oleh KKO, tetapi belum tahap Para Dasar.
Oleh sebab itu pada 1960, dikirimlah dua perwira ke Sekolah Para Komando AD (SPKAD) di Batujajar Bandung guna merintis pendidikan Para oleh KKO AL.
Khusus untuk tahap Para, KKO mengirim siswa SIPAM ke SPKAD dan ke Margahayu (AURI). Baru pada akhir 1965, pendidikan Para dapat dilaksanakan oleh Serangsus (Sekolah Perang Khusus) KKO.
Berdasarkan surat keputusan Pangko No.1560.134A 1962, ditetapkan syarat-syarat bagi pengikut sekolah Intai Para Amfibi. Yaitu atas dasar sukarela, berbadan sehat, umur setinggi-tingginya 35 tahun, masa dinas paling kurang 1 tahun dalam KKO, tinggi badan paling kurang 160 cm, dan lulus tes SIPAM.
Tahap Pendidikan
- Tahap dasar selama 6 minggu untuk memupuk disiplin serta mental sebagai prajurit KKO AL, sebagai penyegaran pelajaran dasar yang telah diterima dan penambahan pelajaran sampai tingkat peleton serta pengetahuan khusus, pembinaan fisik sebagai persiapan menghadapi tahap berikutnya.
- Sebelum memasuki tahap dasar ini, para siswa harus dibaptis oleh senior dan perwira pembina serta seluruh anggota pelatih. Tahap perang hutan (jungle warfare) selama 10 bulan merupakan tahap paling lama dilaksanakan di Pantai Ngliyep Malang Selatan, Jawa Timur. Setelah dibukanya Serangsus, tahap perang hutan dilaksanakan di Selogiri Banyuwangi, Jawa Timur.
- Tarap recon (intai amfibi) dan dasar penyelaman selama 6 minggu. Siswa dilatih berenang siang maupun malam di segala cuaca lautan. Sebagai latihan terakhir para siswa harus mampu menyeberangi Selat Madura tanpa alat. Juga latihan menyelam 20 meter dan cakap memakai alat selam ringan.
- Para selama 4 minggu. Sebelum adanya Detasemen Pendidikan Para Serangsus KKO AL, tahap Para dasar dilaksanakan di SPKAD Batujajar dan di Margahayu Bandung (AURI). Setelah KKO punya pendidikan Para, dilaksanakan di Gunungsari Surabaya.
- Tembak mahir sebagai sniper di lapangan tembak Gunungsari selama 2 minggu.
- Tahap lanjutan dalam rangka pengembangan di Kesatuan Intai Para Amfibi KKO AL. Jadi tidak termasuk kedalam tahap pendidikan yang harus dilalui siswa SIPAM. Tahap lanjutan diikuti anggota KIPAM yang sudah lulus SIPAM (tahap 1 s/d 5), alias anggota yang sudah aktif dilantik di kesatuan KIPAM. Tahap lanjutan yang harus dilalui adalah Free Fall, Free Fall Water, Heli Jump, Low Drop Parachute, Selam Lanjutan, Cast And Recovery dengan kapal cepat.
Teks: beny adrian