Tinggal di Rumah Kontainer, Merekalah Penghadang Bandar Narkoba di Perbatasan AS

Apa yang menarik dari satuan yang sifatnya khusus? Profil pasukan komando? Jelas. Arsenal yang dipakai? Ya. Alutsista pendukung? Mungkin benar. Bagaimana jika yang menarik bukan hanya itu semua, melainkan posnya?

Bagaimana mungkin pos satuan sampai dibahas? Apanya yang menarik?

Jangan protes dulu. Kali ini coba kita urai aspek menarik dari sesuatu yang selama ini dianggap biasa saja, atau hanya berupa bangunan dari satuan khusus.

Persoalan ancaman narkoba sesungguhnya tak hanya dialami Indonesia. Negeri adidaya seperti AS pun kerap dibuat puyeng menghadapi ancaman satu ini.

Jika bicara soal ancaman penyelundupan narkoba kelas berat, otomatis terfokus pada satu wilayah perbatasan yang medannya amat menantang dan tak bosan-bosannya dipakai sebagai jalur utama para penyelundup nekat bersenjata itu: perbatasan Meksiko.

Sebagai badan penegak hukum Federal yang menjaga perbatasan sekaligus pintu-pintu masuk wilayah AS, peran United States Customs and Border Protection (US CBP) amat vital.

Salah satu tantangan berat yang dihadapi adalah penyelundup narkotika dan obat-obat terlarang (narkoba) yang nekat dan tak jarang dibekali persenjataan.

Badan yang bernaung di bawah Department of Homeland Security (DHS) itu sejatinya memiliki dua misi utama atau “Twin Goals” yaitu antiterorisme dan memfasilitasi perjalanan baik manusia maupun barang – ke atau dari luar negeri – yang aman dan sah.

Oleh sebab itu badan yang baru “lahir kembali” setelah reorganisasi besar-besaran 2003 itu juga bertanggung jawab menahan arus imigran ilegal dan masuknya barang selundupan (bahkan senjata selundupan) termasuk narkoba ke Amerika Serikat.

Salah satu area perbatasan dengan medan sulit ada di negara bagian Arizona, seperti di Sektor Yuma. Di sisi yang berbatasan dengan Meksiko itu terdapat wilayah tandus yang keras dan liar, minim infrastruktur.

Untuk mendukung patroli dan penjagaan perbatasan di wilayah  yang liar dan luas ini, US CBP mendirikan beberapa pos depan atau outpost yang diistilahkan FOB (forward operating base) berupa kontainer bekas yang disulap menjadi living quarter lengkap dengan gudang penyimpanannya (perbekalan hingga senjata).

FOB yang seperti itu sudah terbayang menyiksanya. Tetap panas kendati sudah dipasangi pendingin ruangan. Namun kebutuhan bakar bakar dan air senantiasa jadi tantangan di wilayah terpencil yang jauh dari mana-mana.

Setelah 2004, kondisi kurang nyaman itu pun berubah berkat kreativitas personel US CBP dengan dukungan petingginya yang kian gerah melihat statistik penyelundupan narkoba.

Bagaimanapun juga, pengawasan di pos-pos terdepan perlu dijaga 24 jam sehari, 7 hari seminggu. Lengah sedikit, para penyelundup bakal melenggang bebas masuk wilayah AS.

Salah satu FOB di sektor Yuma disulap dari sekadar pos kontainer bekas, menjadi pos jaga modern yang bahkan bersifat mobile.

Masih dibuat dari kontainer bekas, namun dimodifikasi agar bisa dibongkar pasang dengan cepat. Dalam tempo 72 jam, FOB yang dinamakan Camp Grip itu dapat dibongkar dan dipindah ke titik lain sesuai kebutuhan. Jangan sangka bahwa pos bersifat knocked down itu seadanya.

Camp Grip dari segi penampakannya masih terlihat seperti bangunan temporer. Begitu melongok jeroannya, kentara bahwa sebagai sebuah pos, terbilang modern, dilengkapi living quarter memadai (tentu AC), terdapat tangki bahan bakar terpisah, sarana komunikasi modern, dan tangki air berkapasitas 10.000 US gallon untuk keperluan minum, MCK hingga sistem pemadaman kebakaran otomatis.

Camp Grip meski dapat dipindah, dalam penempatannya personel US CBP senantiasa berusaha memilih tempat yang datar, karena bagaimana pun juga untuk kecepatan dan ketepatan pembekalan sarana yang paling tepat adalah helikopter.

Jika tak jauh dari jaringan jalan antar negara bagian (interstate), truk masih bisa masuk. Namun jika sudah jauh ke posisi terpencil, heli UH-60L Blackhawk milik US CBP jadi andalannya.

Camp Grip memang “hanya” sebuah pos. Namun kreativitas yang membidaninya merupakan upaya nyata para garda terdepan dalam menghadang masuknya para kurir narkoba yang tak jarang bersenjata berat, nekat melawan petugas hukum AS, demi menjajakan barang haram bernilai jutaan dolar itu.

 

Teks: antonius kk

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: