Mengenang Kebesaran TNI AU Lewat Pembom Ilyusin-28

0

Salah kalkulasi

Dari buku panduan Ilyushin-28 disebutkan bahwa pesawat dengan berat maksimum 21.200 kg dengan dua mesin jenis Klinov VK-1 turbojet ini mempunyai aksi radius 2.180 km.

Sebagai pilot muda mereka mempraktikkan kemampuan terbang ini guna menghadapi tugas yang akan dibebankan kepadanya pasca Trikora yang dikumandangkan Bung Karno di Yogyakarta.

Mereka mulai melatih diri untuk tugas operasi, meliputi latihan navigasi jarak jauh, bombing, terbang malam serta recce dengan foto. Dari latihan inilah diketahui bahwa performa Il-28 tidaklah sehebat yang tertulis di buku, terkait jarak jelajah.

Hal ini disebabkan pesawat diterbangkan di daerah tropis, padahal semua perhitungan rancang bangun dan uji coba dilakukan di negeri sub tropis.

Selain itu bila pesawat membawa beban penuh lepas landas (MTOW) seberat 21 ton maka diperlukan panjang landasan minimal 1.800 m.

Selain itu pesawat ini semuanya dikendalikan dengan mekanisme kontrol tanpa adanya servo, sehingga beban pilot sangatlah berat utamanya saat lepas landas dan mendarat.

Hanya pilot bernyali besar dan mempunyai feeling yang baiklah yang mampu menerbangkan pesawat ini. Saat itu para pilot Il-28 rata-rata berumur 24 tahun.

Selain itu dengan sistem pneumatik maka para teknisi sangatlah sulit menemukan kebocoran. Lain halnya pesawat yang dikendalikan dengan sistem hidrolik, setiap kebocoran akan terlihat dengan jelas.

Pesawat Il-28 diawaki oleh tiga orang terdiri dari pilot, navigator merangkap bombardier dan gunner yang ada di tail section.

Dengan senapan laras ganda kaliber 23 mm yang terletak di nose dan tail, Il-28 dirancang sebagai pesawat pembom taktis yang mandiri dalam arti kata mampu beroperasi tanpa lindungan pesawat tempur.

Kemampuan terbang tinggi (40.000 kaki) dengan kecepatan 900 km per jam serta wing loading sebesar 291 kg per meter dan thrust/weight ratio sebesar 1:3,2 menjadikan pesawat yang oleh NATO dijuluki Beagle ini hanya mampu disaingi oleh English Electric Canberra yang terbang perdana pada 21 April 1950.

Hingga akhir hayat pada 1990, pempom Ilyushin-28 telah diproduksi hampir 6.000 unit yang tersebar di 20 angkatan udara utamanya di belahan Timur.

Selain di Rusia, pesawat ini juga diproduksi di Cuba, Ceko dan China dengan merek dagang H-5 Harbin.  Tidak tanggung-tanggung China mengembangkan pesawat ini dalam 10 varian termasuk jenis Harbin H-5A yang dirancang mampu membawa bom nuklir.

Sedang untuk ekspor mereka memasarkan dengan nama Harbin BT-5 dan B-5 utamanya untuk Korea Utara.

Bagi pemuda Indonesia adanya pesawat Il-28 telah mempuyai arti sendiri, mengingat ini adalah pembom jet pertama di belahan Bumi Selatan. Dengan semangat menyala mereka berangkat ke Morotai untuk bergabung dengan Satgas Senopati.

Bersama MiG-17 dari Skadron 11, Satgas Senopati melaksanakan misi deception dalam rangka infiltrasi ke Irian Barat periode 1962. Dalam tugas ini sebuah Il-28 yang dipiloti LU II Wakidjan, LU II Hadi Poernomo/Navigator dan Gunner LMU I Jost Toisutta, jatuh di laut menjelang mendarat di Morotai.

Kejadian pada 14 Agustus 1962 pukul 03.00 pagi ini terjadi selepas Il-28 melakukan deception saat dua C-130 Hercules melaksanakan penerjunan di daerah Klamano, Sorong dengan hasil baik.

Kecelakaan juga menimpa Skadron 21 saat beroperasi dengan home base Patimura, Ambon.   Sebuah Il-28 jenis latih tail number M-848 mengalami bouncing dan hard landing yang berakibat total lost.

Untungnya semua awak termasuk pilot LU I Efendi Siagian selamat.

Selama tugas operasi Djajawidjaja, Il-28 yang semula dipangkalkan di Morotai dan Patimura untuk selanjutnya mulai Juni 1962 digeser ke Amahai untuk mendekati daerah operasi.

Di tempat inilah LU I Soeparman dengan Il-28 dan LU I Nursalim di MiG-17 menembak sebuah kapal asing di daerah yang telah dinyatakan sebagai restricted area. Tembakan dilakukan dari senapan laras ganda kaliber 23 mm baik yang ada di nose maupun tail gunner.

Bahkan menurut Soeparman, MiG pun ikut menembak. Meskipun sempat menjadi isu internasional karena pesawat militer menembak kapal sipil, belakangan diketahui bahwa kapal tersebut adalah kapal ikan milik Jepang.

Dalam peristiwa ini tidak ada korban jiwa meskipun kapal akhirnya harus ditarik ke pelabuhan terdekat karena lumpuh.

Medio 1962 masuk gelombang pilot eks Tjakra 2 sebanyak 12 orang, di antaranya Bambang Sugeng, Jumalib, dan Intan Napitupulu serta empat navigator yaitu Mardjuki, Wahono, Syamsudin,  dan Sardjan. Nanti pada 3 Maret 1964 pesawat Il-28 disiagakan di Medan dalam rangka operasi Dwikora.

Dalam penugasan ini pesawat menjadi satu kelompok dengan Tu-16 dan MiG-21, jenis pesawat terbaru yang dimiliki AURI. Kekuatan ini masuk dalam Komando Siaga dengan Panglima Laksamana Madya Omar Dani.

Pasca operasi Dwikora, sisa Il-28 sebanyak 10 unit diserahkan ke ALRI dikarenakan AURI telah dilengkapi dengan 22 unit pembom jarak jauh Tu-16B di Skadron 41 dan Tu-16KS di Skadron 42.

Semuanya berpangkalan di Madiun. Dengan surat Keputusan Menteri/Kepala Staf Angkatan Udara nomor: 110 tahun 1964 tertanggal 19 Desember 1964, Skadron 21 dilikuidasi. Keputusan ini diteken oleh Laksamana Madya Omad Dani.

Sejak itu berakhir pula kiprah Il-28 selama diterbangkan para pilot muda AURI, berakhir pula kejayaan Skadron 21 Pembom. Belakangan badge Skadron 21 digunakan oleh pesawat OV-10 Bronco periode 2005 sampai 2007.

Nantinya pada tahun 2012 badge ini akan dipakai oleh pesawat EMB-314 Super Tucano asal pabrikan Embraer dari Brasil sebagai pesawat COIN. Bergulir lagi kejayaan TNI AU dengan pesawat barunya untuk membela Tanah Air tercinta.

 

Teks: beny adrian

1 2
Share.

About Author

Being a journalist since 1996 specifically in the field of aviation and military

Leave A Reply