Suka menjahit
Marsekal Muda (Pur) Leonardus Willem Johanes Wattimena, demikian ayah-ibu HL Wattimena dan UR Wattimena memberinya nama. Sebagai anak keempat dari enam bersaudara yang lahir di Jakarta, 3 Juli 1927, dari sebuah keluarga Protestan, Leo melewatkan jenjang pendidikannya dari sekolah rakyat (1940) sampai SMA (1950) di Jakarta.
Nuansa Belanda yang begitu kental kala itu, tak heran menjadikan kemampuan bahasa Belandanya sangat baik. Sebaliknya, bahasa Indonesiannya minus.
Tahun 1950, Leo muda tidak melewatkan kesempatan menjadi penerbang yang dibuka markas besar AURI. November 1950, beserta 59 kadet lainnya, Leo diberangkatkan ke Trans Ocean Airlines Oakland Airport (TALOA), California untuk mengikuti pendidikan penerbang.
Karena bakat yang besar ditopang kesempurnaan fisik dan intelijensia tinggi, menempatkan Leo sebagai lulusan terbaik. Dari 60 kadet, 45 orang lulus sebagai penerbang. Selebihnya menjadi navigator.
Predikat terbaik yang mengembel-embeli kelulusannya saat wisuda, mengharuskan Leo beserta 19 rekannya melanjutkan pendidikan menjadi instruktur selama tujuh bulan di TALOA.
Sekembalinya di Indonesia (1952), Leo langsung bergabung dengan Skadron 3 di Lanud Halim Perdanakusuma. Leo juga pernah mengecap pendidikan instruktur di Royal Air Force (RAF, 1955) dan lulus juga dengan peringkat satu.
Setahun kemudian, berdua dengan Rusmin Nurjadin, penerbang kawakan ini tercatat sebagai penerbang jet pertama Indonesia, seiring datangnya 8 pesawat de Havilland DH-115 Vampire.
Bahkan Leo yang waktu itu masih berpangkat Letnan Udara I, langsung dipercaya memimpin armada Vampire, Skadron Udara 11 Lanud Kemayoran, 1 Juni 1957. Indonesia pernah memiliki 16 pesawat jet latih tempur Vampire.
Saat ini pesawat pesawat Vampire menjadi salah satu koleksi di Museum Pusat Dirgantara Mandala, Yogyakarta.
Di balik sikapnya yang keras, sebenarnya Leo menyimpan bakat seni. Menyanyi, bermain musik, melukis, bahkan memasak, merupakan sisi lain dari seorang Leo.
Soal musik, Andoko selalu ingat saat siaga di Ambon dalam Operasi Trikora. “Kalau ia nggak ada, sepi,” ujarnya. Lain lagi dimata anak keduanya, Gunthur Leonardus. “Bapak suka membaca, nonton TV, olahraga, juga menjahit,” tuturnya.
Karya lukis Leo yang sangat sederhana itu, tambah Gunthur, masih tersimpan rapi sampai hari ini.
Satu hal yang tak pernah dilupakan Gunthur adalah pesan Leo kepada anak-anaknya. “Ia pernah bilang, saya tidak akan meninggalkan harta, tapi buku. Itu gudang ilmu. Membaca paling utama,” Gunthur menirukan pesan ayahnya.
Menurut Gunthur, Leo mewariskan ribuan buku, dari buku tentang sejarah dunia, perang dunia, sampai novel-novel cinta.
Memang, sebagai individu, Leo punya tata nilai tersendiri yang memerdekakan bagaimana ia mesti bersikap. Leo juga tidak arogan, mesti menyandang predikat penerbang tempur. Ini terbukti di sela-sela pembentukan flying club Jakarta.
Kepada sahabatnya Andoko, Leo yang duduk di belakang kokpit Piper Cub mengatakan begini. Saya tidak ingin kamu fail-kan hanya karena tidak bisa terbang Piper. Maksud Leo, Andoko tidak usah ragu-ragu, mentang-mentang teman. Namun Leo juga tidak ingin gagal (fail).
“Dia bukan pribadi yang egois, walau memang agak lain dari kebanyakan. Ia tidak terlalu banyak mengungkapkan perasaannya secara verbal. Perbuatannya adalah dirinya. Leo tidak pernah bicara soal perasaannya dan orang lain. Ia tertutup untuk itu. Yang terbuka dari Leo justru soal dedikasinya,” tutur Andoko soal sohibnya yang pernah beli mobil Chevrolet bareng dengannya.