Marsda (Pur) Leo Wattimena, Legenda Penerbang Tempur TNI AU: Apa Kabar Le

0

Apa kabar Le

Betapapun, tetap ada sisi halus dalam diri manusia. Itulah Leo Wattimena.

Pada 15 Agustus 1971, Leo mengajukan permohonan pengunduran diri dari dinas militer dan mengakhiri kariernya yang gemilang di AURI sebagai marsekal berbintang dua.

Ia pernah menjabat sebagai Panglima Komando Operasi AURI (1963), Panglima Komando Pertahanan Udara (1966), anggota MPRS (1966), dan Deputi Operasi Menteri/Panglima AU.

Sebenarnya sebelum benar-benar mengakhiri pengabdiannya kepada negara, Leo masih sempat dipercaya sebagai duta besar RI untuk Italia (1969).

Sekali lagi, emosinya yang meledak-ledak konon membuatnya harus mengemban tugas lebih cepat. Apalagi yang diperbuatnya? “Leo memukul tukang jahit pakaiannya,” tandas Musidjan ketawa.

Usai pengabdiannya di AURI, cerita tentang Leo seperti kehilangan gantungan. Mata rantai seperti putus. Andoko juga tidak begitu yakin, apa pekerjaan Leo.

Menurut Ashadi, Leo sempat bekerja di sebuah perusahaan kabel. Ashadi yang waktu itu menjabat KSAU, bertemu Leo secara tidak sengaja di daerah Blok A, Kebayoran Baru. “Saya minta ia menjadi staf ahli KSAU,” kata Ashadi.

Namun kesehatannya sudah menurun. Penyakit asma yang dideritanya mulai merongrong kesehatannya. Kondisinya juga sudah berbeda dengan Leo yang dikenal gagah.

Andoko mengaku pernah bertemu Leo di Markas Besar AURI di Pancoran. “Kelihatan sedikit kurus,” aku Andoko. “Saya terharu sekali. Ia teman yang baik. Orang yang sangat care dengan teman. Saya rangkul, saya tanya, apa kabarnya,” jelas Andoko.

“Gimana kabarnya, Le,” tanya Andoko yang dijawab Leo dalam bahasa Belanda dengan pelan.

“Kalau jalan rasanya semua goyang.” Seperti digambarkan Andoko, badan Leo sedikit kurus dan sebuah tongkat di tangan kirinya untuk menopang tubuhnya (dan mungkin perasaannya yang limbung).

Terus menurunnya kesehatan Leo diperparah oleh gangguan asma, akhirnya menghentikan perjalanan penuh petualangan seorang penerbang andal itu.

Persis 18 April 1976, Marsda (Pur) Leonardus Willem Johanes Wattimena, akrab dipanggil Le dan cukup dikenal dengan Leo Wattimena, menurut Gunthur, menghembuskan napasnya yang terakhir di rumahnya di kawasan Pasar Minggu.

Sebelum dikebumikan di TMP Kalibata, jenazahnya disemayamkan di Mabes TNI AU, Pancoran. Sebelum menghembuskan napas terakhir, seperti didengar Andoko dari kerabatnya, Leo berpesan agar dikebumikan dengan mengenakan pakaian penerbang AURI berwarna jingga. Karena itulah yang menjadi kebanggaan Leo.

Jika kembali diingat, yang menyentuh di balik kekerasan wataknya, Leo tidak pernah lupa ibunya yang berumah di Bandung.

Sering dengan menerbangkan sendiri sebuah pesawat kecil, Leo membawakan beras untuk ibunya. Padahal sebagai panglima, Leo bisa saja memerintahkan komandan Lanud Husein. Namun Leo tidak melakukannya.

Sebab yang ada di kepalanya hanya satu, ia sebagai panglima penguasa perang udara. “Ia tahunya hanya bekerja, tidak lebih,” kata Suparno.

 

Teks: beny adrian

1 2 3 4
Share.

About Author

Being a journalist since 1996 specifically in the field of aviation and military

Leave A Reply