Marsma (Pur) Tjilik Riwut, Legenda Orang Hutan yang Bisa Menghilang

Di lingkungan TNI AU, khususnya lagi di Korpaskhas, nama Tjilik Riwut sangatlah harum dan dikenal luas. Nama ini khususnya selalu disebut-sebut dalam peringatan HUT Korpaskhas di setiap tanggal 17 Oktober.

Pria berperawakan putih dan tinggi ini mendapat perhormatan dengan pangkat marsekal. Lengkapnya Marsekal Pertama (Kehormatan) Tjilik Riwut.

Tjilik Riwut lahir di Kasongan pada 2 Februari 1918. Ia adalah salah satu putera Dayak dari suku Dayak Ngaju yang menjadi anggota KNIP (Komite Nasional Indonesia Pusat) dan kemudian setelah meninggal ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional.

Tjilik Riwut selalu menyatakan dirinya sebagai “orang hutan” karena lahir dan dibesarkan di belantara Kalimantan. Namun demikian, pengabdiannya dalam masa Perang Kemerdekaan menunjukkan bahwa Tjilik Riwut merupakan pejuang bangsa.

Sebagai putra Dayak, Tjilik Riwut mewakili 142 Suku Dayak pedalaman Kalimantan untuk bersumpah setiap kepada Pemerintah Republik Indonesai. Sumpah dilakukan di hadapan Presiden Sukarno di Gedung Agung Yogyakarta pada 17 Desember 1946.

Sebagai seorang tentara, Tjilik Riwut dikenal sangat fanatik dengan angka 17 ini ikut berperang di Kalimantan dan Jawa.

Mayor Tjilik Riwut saat masa perjuangan. Foto: infoitah.net

Satu di antaranya adalah pada 17 Oktober 1947, Tjilik Riwut memimpin operasi penerjunan pasukan payung di Kalimantan.

Saat itu KSAU Laksamana Surjadi Surjadarma membentuk satu staf khusus di bawha komando KSAU. Saat itulah ia melantik Mayor Tjilik Riwut sebagai Komando Pasukan dan duduk di dalam staf sekretaris bagian siasat perang KSAU, disamping tugasnya sebagai perwira Markas Besar Tentara.

Mayor Tjilik Riwut segera menyusun rencana dan melakukan berbagai persiapan berupa latihan yang diikuti 60 orang dari Kalimantan, 12 dari Sulawesi dan beberapa orang lagi dari Jawa dan Madura.

Mhereka adalah Iskandar dan M Dachlan dari Sampit, J Bitak dari Kelapa Baru, C Willems dari Kuala Kapuas, J Darius dari Kasongan, Achmad Kosasih dari Mangkahui Barito, Ali Akbar dari Balikpapan, M Amirudin dan Emanuel dari Kahayan Hulu, Marawi dari Rantau Pulut, Suyoto dari Ponorogo, Harry Hadisumantri dari Semarang, dan Bachri dari Barabai, dan Djarni.

Para pemuda yang akan diterjunkan di Kalimantan ini digembleng dan diasramakan di Desa Padasan, sebuah desa di sebelah tenggara landasan Waguwo.

Pasukan ini dilatih oleh para anggota AURI di bawah pimpinan Opsir Muda Udara I Sudjono. Dari hasil latihan itu akhirnya terpilih 14 orang untuk melaksanakan infiltrasi.

Aksi heroik ini diawlai dari pemikiran Gubernur Kalimantan Ir. Mohammad Noor yang mengkhawatirkan keadaan Kalimantan saat itu. Masih kuatnya Belanda di wilayah Kalimantan, memberikan kesulitan kepada pemuda pejuang untuk menghadapinya.

Dalam suatu perjalanan dari Yogyakarta ke Jakarta, tanpa sengaja Mohammad Noor bertemu Surjadarma. Kesempatan itu tidak disia-siakannya dengan mengutarakan kondisi di Kalimantan dan keinginannya untuk melakukan infiltrasi.

Keinginan ini rupanya sejalan dengan visi dan misi Surjadarma yang mempunyai mimpi melakukan dropping pasukan atau logistik melalui udara.

Rencana ini disampaikan Surjadarma kepada Jenderal Soedirman, yang langsung mendukung. Surjadarma pun menindaklanjuti dengan mengeluarkan perintah kepada pasukan yang akan diberangkatkan berisikan empat hal:

  1. Membawa pemancar radio lengkap dengan motor dan bahan bakar.
  2. Membangun pemancar induk hingga terselenggara hubungan Kalimantan, Sumatera, dan Jawa.
  3. Menghimpun dan mengkoordinir perlawanan setempat.
  4. Menyiapkan dropping zone.

Di hari keberangkatan pasukan ke Kalimantan, Mayor Tjilik Riwut menyampaikan taklimat terakhirnya. Saat itu ia menyampaikan bahwa Iskandar ditetapkan sebagai komandan pasukan payung. Apabila setelah penerjunan Iskandar gugur, maka posisinya digantikan oleh Dachlan.

Setelah bisa membangun jaringan komunikasi, pasukan diminta segera menghubungi Kapten Mulyono, perwira yang sudah membangun kekuatan perlawanan di pedalaman di dekat lapanga Sepanbiha di belakang Kampung Buntut Sopan di Kotawaringin.

Setelah perang usai, Tjilik Riwut aktif di pemerintah. Pada senin 17 Agustus 1987, Tjilik Riwut meninggal dunia dalam usia 69 tahun. Ia dimakamkan di TMP Sanaman Lampang, Palangka Raya, Kalimantan Tengah.

Namanya kemudian diabadikan untuk nama bandara dan jalan utama di Palangka Raya.

Jalan ini merupakan jalan terpanjang di Kalteng yang menghubungkan Palangka Raya dan Sampit sepanjang lebih kurang 229 kilometer.

Untuk menghormati jasa-jasanya, berdasarkan surat keputusan Presiden nomor 108/TK/1988 tanggal 6 November 1988, Tjilik Riwut dianugerahi gelar Pahlawan nasional.

Penetapannya sebagai Pahlawan Nasional merupakan wujud penghargaan atas perjuangannya pada masa Perang Kemerdekaan dan pengabdiannya dalam membangun Kalimantan Tengah.

Bagi masyarakat Kalteng, sosok Tjilik Riwut sangat identik dengan Bukit Batu. Selain dikenal sebagai Gubernur Kalimantan Tengah pertama, Tjilik Riwut juga dipercaya memiliki kesaktian.

Tjilik Riwut dikabarkan bisa menghilang tanpa jejak saat dikejar pasukan Belanda. Ia diyakini bisa berjalan puluhan kilometer hanya dalam hitungan menit, dan seorang tabib yang bisa menyembuhkan segala penyakit.

Menurut legenda masyarakat setempat, ilmu ini didapatnya karena rajin bertapa di Bukit Batu.

Bukit Batu merupakan objek wisata di Kabupaten Katingan, Kalimantan Tengah. Banyak yang datang ke sini untuk menggelar ritual.

Kawasan wisata ini dikenal dengan nama Pertapaan Pahlawan Nasional Tjilik Riwut. Situs ini berada di dekat kota Kasongan, Kabupaten Katingan, Kalimantan Tengah.

Oleh Pemerintah Kalimantan Tengah, tempat ini ditetapkan sebagai objek wisata spiritual.

 

Teks: beny adrian

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: