Monumen Sayap Sebelah di Lanud Halim, Sering Dilewati Namun Tidak Dipahami

Banyak orang berlalu-lalang di dalam komplek Lanud Halim Perdanakusuma di jalan yang menuju ke arah Base Ops Lanud. Baik itu anggota TNI AU, warga sipil yang berkepentingan, wartawan hingga presiden.

Namun tidak ada yang menghiraukan sebuah monumen berwarna kuning yang telah berdiri selama 64 tahun di sisi sebuah lapangan rumput. Jika kita datang dari gerbang Lanud, posisinya berada di sisi kanan. Hanya kesepian yang menemaninya sepanjang hari.

Mungkin wajar, karena monumen ini sedikit tertutup oleh rindangnya pepohonan Glodokan Tiang yang berbaris menjulang ke atas bak piramid.

KSAU Laksamana Udara R. Suryadi Suryadarma meresmikan Monumen Sayap Sebelah. Terlihat berdiri di sebelah kiri KSAU (tampak depan) Mayor Pnb PGO Noordraven. Foto: Dispenau

Banyak orang membuat monumen berbentuk burung rajawali atau garuda dengan sayap merentang gagah. Namun ada juga yang hanya membuat sayapnya saja, sepasang atau sebelah. Sehingga secara bentuk, monumen ini memang unik.

Itulah monumen unik ini yang berada di Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta. Meski tidak ada nama resminya sejak diresmikan, namun karena desainnya hanya sebelah sayap, maka monumen ini dikenal sebagai Monumen Sayap Sebelah.

Monumen sayap sebelah ini berdiri kokoh di atas lantai segilima bersusun dua yang tebalnya lebih kurang sepertiga meter.

Ketika pernah ditulis majalah Angkasa No. 11, Agustus 1994, disebutkan bahwa bagian bawah monumen berwarna merah dan bagian atas berwarna putih, yang merupakan lambang bendera Indonesia.

Disebut juga bahwa monumen ini berada di tengah lapangan kira-kira 100 meter dari menara pengawas Lanud Halim. Namun sekarang, monumen ini berada di samping lapangan.

Monumen ini memiliki tinggi 17 meter. Terdiri dari bulu-bulu utama bagian luar dan bulu-bulu bagian dalam masing-masing 18 dan 8 helai.

Foto dari udara saat peresmian Monumen Sayap Sebelah tahun 1953. Dari foto ini terlihat bahwa upacara peresmian cukup meriah dan diikuti banyak anggota AURI. Foto: Dispenau

Maknanya jelas, mengekspresikan proklamasi kemerdekaan Republik Inddonesia 17 Agustus 1945 dalam bentuk lambang bermakna.

Begitu pula lantai dasar yang berbentuk segilima, menyatakan bahwa proklamasi kemerdekaan berlandasan Pancasila.

Masih menurut Angkasa, untuk memberi kesan anggun di setiap sudut lantai dipasang masing-masing sebuah lampu berwarna merah yang menyorot ke arah obyek utama. Sinar lampu itu membuat Monumen Sayap Sebelah tampak membara. Dilihat dari atas pesawat di waktu malam, monumen ini tampak jelas dari berbagai arah.

Rancangan monumen ini hasil dari pemenang sayembara yang diselenggarakan oleh Kapten  M Jacoeb yang menjadi Komandan Lanud Tjililitan (sekarang Halim Perdanakusuma) pada tahun 1953-an.

Monumen Sayap Sebelah dibuat untuk mengenang almarhum Halim Perdanakusuma yang gugur bersama Iswahyudi di Tanjung Hantu, Malaka pada 14 Desember 1947 dalam perjalanan pulang dari Thailand ke Indonesia lewat Singapura.

Sayap Sebelah memang bukan nama resminya. Monumen ini termasuk ke dalam kelompok monumen dengan bentuk tugu.

Monumen Sayap Sebelah didirikan dengan tujuan sebagai identitas Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma dan (saat itu) sebagai check point pesawat yang akan mendarat.

Di samping itu juga dimaksudkan untuk mengabadikan nama Marsekal Muda Anumerta Halim Perdanakusuma sebagai pengganti nama Lanud Tjililitan yang diresmikan pada 17 Agustus 1952.

Halim Perdanakusuma punya banyak pengalaman di bidang militer. Kariernya dimulai sejak mengikuti pendidikan di Angkatan Udara Inggris melalui Royal Canadian Air Force sebagai navigator.

Pada masa perjuangan Indonesia, Halim terpanggil untuk mempertahankan kemerdekaan dan kedaulatan Indonesia.

Ia kembali ke tanah air dengan bekal pengalaman dan kemampuan yang diperolehnya selama mengikuti pendidikan dan bertempur dalam Perang Dunia II di bawah Angkatan Udara Inggris.

Dengan bekal pengalaman tersebut Halim Perdanakusuma bergabung dengan Angkatan Udara Republik Indonesia (AURI).

Dengan melihat Monumen Sayap Sebelah dari depan, terlihat di kejauhan tower ATC Lanud Halim Perdanakusuma. Foto: beny adrian

Prestasi gemilang yang dibuat Halim adalah merencanakan operasi udara pertama pada 29 Juli 1947 di Jawa Tengah. Halim berhasil menggembleng dan menugaskan beberapa perwira muda untuk mengadakan serangan mendadak terhadap tangsi-tangsi Belanda di Semarang, Ambarawa, dan Salatiga.

Monumen Sayap Sebelah diresmikan tahun 1953 dengan upacara militer. Bertindak sebagai inspektur upacara KSAU Marsekal R. Suryadi Suryadarma.

Hadir dalam peresmian tersebut para pejabat AURI dan segenap anggota Lanud Halim Perdanakusuma.

 

Teks: beny adrian

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s