Benny Moerdani dan Sukardi, Persahabatan Dua Bintang Empat

“Saya mengenal Benny Moerdani sudah cukup lama. Perkenalan pertama terjadi tahun 1953 di Alun-alun Bandung,” ujar Marsekal (Pur) Sukardi membuka lembaran kenangannya bersama Jenderal (Pur) Leonardus Benyamin Moerdani alias Benny Moerdani.

Keduanya saat itu sama-sama berstatus kadet.

Selanjutnya komunikasi dan tatap muka di antara keduanya hanya terjadi di lapangan, khususnya saat ABRI menggelar operasi lintas udara. Saat itu Sukardi menjadi penerbang pesawat angkut TNI AU, sedangkan Benny adalah perwira RPKAD yang diterjunkan.

Setelah Operasi Naga tahun 1962 di Merauke dalam rangka Operasi Trikora untuk menerjunkan pasukan gabungan RPKAD, PGT, dan Raider, agak lama putus kontak antara Sukardi dan Benny.

Mereka baru bertemu lagi ketika sama-sama bertugas di Departemen Hankam/ Mabes ABRI di Jakarta tahun 1975. Sukardi sebagai Asisten Operasi G2 Hankam, sedangkan Benny sebagai Asisten Intelijen G1 Hankam.

Letda Pnb Sukardi (nomor lima dari kiri) dilantik sebagai penerbang pada 20 Oktober 1953 di Lanud Andir, Bandung. Foto: Dok. Sukardi

Hubungan keduanya menjadi lebih intensif setelah Benny menjabat sebagai Panglima ABRI/ Panglima Kopkamtib dan Sukardi menjadi Kepala Staf TNI AU (1982-1986).

Karena Benny sudah menjadi atasannya, maka sejak itu Sukardi selalu memanggil rekannya ini dengan “Pak”, bukan lagi “Ben”. Sukardi pun bersikap lebih formal sebagai bawahan.

“Namun Benny masih saja bertegur sapa dengan bahasa Jawa dan memanggil saya seperti masa sebelumnya,” kenang Sukardi.

Pada suatu kali, sebagai Panglima ABRI, Benny memanggilnya dan mengemukakan bahwa organisasi TNI AU yang akan datang harus efisien dan efektif, tidak bisa lain. Hal itu dikemukakan Benny kepada Sukardi dalam rangka reorganisasi ABRI tahun 1984/1985.

Sukardi Kemudian mengemukakan pendapatnya. Berbicara mengenai efektif dan efisiennya sebuah organisasi angkatan udara, maka sistem yang paling cocok adalah model Angkatan Udara Kerajaan Inggris (RAF), yaitu sistem direktorat atau dalam istilah sono disebut Three Prong System yang bersendikan kepada tiga pilar utama yaitu Operasi, Administrasi, dan Logistik.

Rupanya Benny langsung setuju dengan penjelasan temannya ini. Sukardi juga lega karena mampu meyakinkan Panglima ABRI tentang konsep organisasi yang paling ideal, yang datang langsung dari orang Angkatan Udara.

Ngobrol santai Sukardi dan Benny Moerdani (kanan). Foto: Dok. Sukardi

Sebab kalau mendengar dari pihak lain, apalagi dari orang-orang yang tidak tahu jiwa angkatan udara, bisa-bisa yang terjadi berbeda sama sekali.

Menurut Sukardi, ia seringkali dipanggil Benny untuk mendiskusikan berbagai hal khususnya menyangkut TNI AU di ruang dinas Panglima ABRI. “Hanya kami berdua, dalam suasana santai dan akrab,” ujar Sukardi. Dalam pertemuan seperti itu, biasanya Benny ditemani secangkir kopi sambil menghirup rokok.

Karena komunikasi langsung antara Sukardi dan Benny jugalah yang akhirnya mampu mencegah dibubarkannya Kopasgat (sekarang Korpaskhas).

“Kesimpulan saya sebagai orang TNI AU, Jenderal Benny Moerdani adalah seorang perwira TNI (darat) yang sangat memahami dan mengerti tentang keberadaan dan peran kekuatan udara dalam sistem pertahanan Indonesia yang punya karakter geografis yang khas,” ulas Sukardi di dalam bukunya “Saatnya Berbagi Pengalaman dan Rasa (2010).

Sukardi juga menilai, Benny memahami peran teknologi modern dan SDM yang berkualitas untuk angkatan udara.

Sisi lain Jenderal Benny memang unik. Orang luar bisa jadi punya kesan jenderal ini seram dan sedikit bicara layaknya orang intel.

Sukardi pun mengenalnya sebagai orang yang memang tidak banyak bicara, tetapi pada saat-saat tertentu ternyata Benny juga suka bercanda dan tertawa lepas kalau ada jokes yang mengena.

“Pokoknya dia bisa bercanda beneran,” ujar Sukardi.

Sukardi ingat suatu peristiwa pada rapat staf Dephankam/ Mabes ABRI tahun 1975. Sukardi saat itu sebagai Asisten Operasi Hankam, sedangkan Benny Asisten Intelijen Hankam.

Nah, saat istirahat biasanya digunakan untuk sedikit bercanda guna melepas penat. Tanpa sengaja, Sukardi memandangi dan mengamati tas kerja Benny yang kelihatannya baru dan unik. Sukardi spontak nyeletuk. “Tas kantornya baru ya, bagus lagi.”

Di luar dugaan, Benny menjawab. “Kamu mau?”

Benny lalu mengeluarkan seluruh isi tasnya dan langsung menyodorkan tas itu kepada Sukardi.

Nyoh enggone (nih, pakailah),” kata Benny. Teman-teman perwira yang lain tentu saja heran menyaksikannya. Sukardi malah diam terbengong-bengong.

“Sudah, ambil saja,” desak Benny, sepertinya melihat ekspresi ragu Sukardi. “Saya ambil, dan tas itu masih saya gunakan untuk ke kantor,” aku Sukardi.

Masih ada kisah lain yang menunjukkan sifat khas Benny.

Pada tahun 1976, Staf Operasi  Hankam/ABRI mendapat giliran untuk menyelenggarakan Rapat Tahunan Bersama (GBC, General Border Committee) antara Indonesia dan Malaysia di Yogyakarta.

Sukardi menghadap Presiden Soeharto untuk menjelaskan hubungan TNI AU dan IPTN (sekarang PTDI), Oktober 1983. Foto: Dok. Sukardi

Delegasi Malaysia langsung terbang ke Yogyakarta dengan pesawat Fokker F-38. Sedangkan delegasi Indonesia naik pesawat C-130B Hercules yang lebih lambat tentunya. Akan tetapi harus tiba di Lanud Adisutjipto 30 menit lebih awal dari rombongan Malaysia.

Sejak dari Lanud Halim Perdanakusuma, Sukardi dan Benny duduk di kokpit bersama awak pesawat. Dalam penerbangan yang berlangsung 55 menit itu, Benny banyak sekali bersenda gurau. Kadang diselingi pertanyaan-pertanyaan tentang fungsi dan kegunaan dari berbagai alat kontrol dan handle di kokpit Hercules.

Benny kadang menunjuk instrumen yang mempunyai warna merah, hijau, kuning, dan putih. “Barangkali ia mau ngetes apakah saya masih ingat dengan pesawat yang pernah saya awaki selama empat tahun lebih itu.”

Sukardi tahu, temannya ini mempunyai interest besar untuk mengenal seluk-beluk Hercules, pesawat yang pernah menerjunkannya di belantara Merauke dalam Operasi Naga pada 23 Juni 1962.

Menjelang pendaratan di Yogya, Benny bertanya kepada captain pilot Letkol Pnb Suakadirul, pukul berapa pesawat akan mendarat di Adisujipto, yang dijawab kurang lebih 15 menit lagi.

“Jam berapa sekarang,” tanya Benny kepada Suakadirul.

“Jam 09.37,” jawabnya.

“Coba lihat jam berapa arlojimu,” tanya Benny kepada Suakadirul. Ternyata tidak sama. Kemudian dicek kepada kopilot, rupanya juga beda. Akhirnya dicek dengan arloji Sukardi, yang kebetulan menunjukkan waktu yang sama dengan yang ada di kokpit.

Benny lalu bilang kepada Sukardi. Begini ucapannya.

“Arlojimu copoten, wenehno captain-ne, duweke captain-ne kon menehno neng kopilot te, lan duweke kopilot-e ben di enggo flight engineer-e (arlojimu lepaskan dan berikan kepada captain, punya captain kasihkan kepada kopilot dan milik kopilot serahkan pada flight engineer).”

Kemudian katanya lagi kepada Sukardi. “Lah iki duwek-ku enggonen (ini punyaku kamu pakai).”

Para kru yang saat itu ada di kokpit merasa geli dengan pertukaran arloji yang unik itu. Bahkan hampir tidak bisa bicara. Sukardi hampir tidak percaya ketika jam tangan Benny dengan merk Rolex emas itu dipasangkan di pergelangan tangannya, walau Benny sendiri akhirnya tidak pakai jam tangan.

“Jam tangan ini sampai sekarang masih saya simpan sebagai kenangan unik. Hanya pada kesempatan tertentu saja saya kenakan,” ucap Sukardi sambil memperlihatkan jam tangan Rolex itu kepada mylesat.com.

Sampai akhirnya ketika Jenderal (Pur) Benny Moerdani dirawat di RSPAD Gatot Subroto dan akhirnya meninggal pada Minggu, 29 Agustus 2004, Sukardi selalu menengok sahabatnya itu. Begitu banyak kenangan yang sudah ia lalui bersama Benny, yang meninggalkan kesan mendalam bagi Sukardi.

Tepatnya 30 Desember 2017 ini, Marsekal (Pur) Sukardi akan genap berusia 86 tahun. Sukardi yang lahir di Bojonegoro tahun 1931, lahir dari pasangan Prawirodiredjo dan Saodah.

Setelah diterima AURI tahun 1951 dan dilantik sebagai penerbang tahun 1953, Sukardi menjalani pengabdiannya sebagai penerbang transpor. Dari pesawat C-47 Dakota, kemudian transisi ke Ilyushin Il-14 tahun 1958 dan melanjutkan transisi ke pesawat Hercules pada 1961.

Menurut Marsekal (Pur) Saleh Basarah, Sukardi adalah penerbang Hercules generasi pertama yang dilatih di dalam negeri oleh instruktur AURI sendiri. “Pak Kardi perwira yang perfectionist, disiplin, tertib aturan dan selalu rapih dalam berpakaian,” kenang Saleh Basarah.

“Hanya saja saya tidak pernah ditugaskan membawa Hercules ke Amerika, pernah diajukan tapi kemudian digantikan orang lain,” kenang Sukardi tersenyum tipis.

Menurut Sukardi, kesempatan menerbangkan Hercules ke Amerika biasanya dilakukan dalam rangka overhaul. Saat itu, banyak penerbang berharap dapat kesempatan menerbangkan pesawat Hercules ke Amerika.

Jadi KSAU

Sukardi tidak akan melupakan hari keberuntungannya pada 1 Desember 1982.

Hari itu, ia mengikuti rombongan Menhankam/ Pangab Jenderal TNI M. Jusuf yang melakukan kunjungan kerja.

Hercules A-1341 lepas landas dari Lanud Halim pukul 06.00 Wib. Seperti biasa, semua yang ikut tidak pernah tahu ke mana Pak Jusuf akan mendaratkan pesawat. Sukardi saat ini menjabat sebagai Panglima Komando Strategis Nasional (Kostranas).

Sukardi mendengarkan perintah dari Menhankam/ Pangab Jenderal M Jusuf. Foto: Dok. Sukardi

Di tengah deru mesin pesawat Hercules, tiba-tiba Pak Jusuf memanggil Sukardi untuk duduk di dekatnya.

“Bapak Presiden telah menyetujui Marsekal Sukardi untuk menggantikan Marsekal Ashadi Tjahjadi sebagai KSAU.”

Ucapan yang spontan dan tanpa basa-basi dari Pak Jusuf itu, terang saja mengagetkan Sukardi. Apalagi di dalam pesawat banyak seniornya yaitu KSAL Laksamana Walujo Soegito, KSAD Jenderal Poniman, Kapolri Jenderal Awaludin Djamin, dan KSAU Marsekal Ashadi Tjahjadi.

Pak Jusuf mengulurkan tangannya sebagai ucapan selamat kepada Sukardi yang berusaha tetap tenang. “Syukur alhamdulillah, terima kasih atas kepercayaan yang diberikan oleh Presiden,” balas Sukardi kepada Menhankam.

Hercules pun mendarat di Pontianak, dan kemudian melanjutkan perjalanan ke Palembang. Tanggal 2 Desember, pesawat kembali mendarat di Halim.

Setibanya di Halim, staf Menhankam memberitahukan bahwa Presiden Soeharto akan melantik para Kepala Staf dna Kapolri tanggal 4 Desember.

“Saya hanya punya satu hari saja untuk mempersiapkan diri setelah delapan tahun meninggalkan TNI AU,” urai Sukardi.

Memang sejak 1975, Sukardi tidak lagi berdinas di lingkungan TNI AU. Ia diangkat menjadi Asisten Operasi Hankam merangkap Asisten Operasi Kopkamtib. Dua tahun kemudian menjadi Wakil Panglima Kowilhan II Jawa-Madura-Nusa Tenggara dengan kedudukan di Yogyakarta. Baru di tahun 1981 Sukardi menduduki jabatan sebagai Panglima Kostranas.

Tanggal 18 Desember, diadakan upacara serah terima jabatan dari KSAU Marsekal Ashadi Tjahjadi kepada Marsdya Sukardi dengan inspektur upacara Menhankam/ Pangab Jenderal M Jusuf.

KSAU yang dikenal disiplin dan makan nasi dari beras yang sama dengan yang dimasak oleh prajurit TNI AU kala itu, menjadi satu-satunya perwira tinggi bintang empat TNI dari generasi 1950-an yang masih hidup.

Rekan-rekan seangkatannya yaitu KSAL Laksamana TNI Mochamad Romly, KSAD Jenderal TNI Rudini, dan Kapolri Anton Soedjarwo, semuanya sudah meninggal.

Sukardi juga adalah KSAU tertua yang masih hidup dan tetap menjalankan aktivitasnya di PT Jasa Angkasa Semesta (JAS) dan Yayasan Indonesia-Jerman.

Ketika hal itu saya sampaikan kepada beliau dalam beberapa kali pertemuan, Sukardi seperti biasa hanya membalas dengan senyum kecil. “Bapak itu KSAU tertua yang masih ada, loh pak,” kata saya kepada beliau suatu hari.

“Saya minta maaf kepada KSAU (Marsekal Hadi Tjahjanto) karena tidak bisa menghadiri beberapa kali undangan yang diberikan, kesehatan saya sudah tidak memungkinkan untuk hadir,” tutur Sukardi.

Ketika saya tanyakan, apakah Sukardi merindukan untuk bertemu dengan para pelaku Operasi Trikora baik para kru pesawat maupun pasukan yang diterjunkan, seperti biasa, Sukardi hanya membalasnya dengan diam disertai senyum tipis.

 

Teks: beny adrian

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s