Erlangga Suryadarma, Sejarah AURI di Mata Putra KSAU Pertama Surjadi Surjadarma

Saya sering dikagetkan oleh suara berat yang memanggil nama saya di beberapa kali upacara HUT TNI AU dan HUT Kopassus. “Ben, beny, sini lu,” panggil suara itu. Karena sudah akrab, tanpa menolehpun saya sudah tahu siapa pemilik suara berat itu, yang tak lain dari Captain Erlangga Suryadarma.

Pak Erlangga, begitu saya biasa memanggil beliau, adalah anak kedua dari KSAU pertama Laksamana (Pur) Surjadi Surjadarma. Kala itu di awal kemerdekaan, kepangkatan KSAU masih menggunakan nama laksamana.

Dari penikahannya dengan Ibu Oetami, Suryadarma memiliki tiga anak yaitu Awaniduhita Priyanti, Erlangga Suryadarma, dan Adityawarman Suryadarma.

Maka kemarin (9/4/2018) saat upacara HUT TNI ke-72 di Lanud Halim Perdanakusuma, suara berat itu kembali mengusik kuping saya. “Sehat pak,” tanya saya yang djawabnya, “Ya, beginilah, gua sudah pensiun,” kata Erlangga yang sudah berusia 78 tahun.

Seperti kebiasaannya sejak lama, Erlangga memang tidak pernah duduk di tenda undangan bersama tamu lainnya. Ia selalu lebih suka bergerombol dan ngobrol di antara protokol dan prajurit lainnya yang berdiri di belakang tenda. Karena memang Pak Erlangga tipe orang lapangan.

Pak Erlangga terlihat lebih kurus dari beberapa tahun lalu. “Kondisi gua sudah menurun, maklum sudah tua,” akunya.

“Makanya kalau ada upacara seperti ini gua selalu hadir karena bisa bertemu banyak orang, bisa ngobrol, ucap Erlangga.

Pak Erlangga yang mengaku sudah pensiun dari Airfast, pun menceritakan sejumlah kesaksian yang dialaminya saat diajak menemani ayahnya sebagai KSAU.

Ia pernah menceritakan kepada saya, melihat pernyataan sikap bertanggung jawab Leo Wattimena kepada Suryadarma atas peristiwa Laut Aru pada 15 Januari 1962.

Erlangga duduk santai di belakang tenda tamu ditemani perwira TNI AU saat upacara HUT TNI AU ke-72. Foto: beny adrian

“Om Leo minta mengundurkan diri, tapi ayah melarang, dan bilang, ini tanggung jawab saya,” ujar Erlangga.

Erlangga juga menceritakan keberanian dua pesawat Guntei mendarat di Kemayoran tanpa meminta izin mendarat dari Belanda. Di pesawat itu ada Adisucipto, Iswahyudi, dan Suryadarma sendiri. “Itu heroik sekali, itu peristiwa besar yang menunjukkan bahwa AURI itu eksis,” jelasnya.

Peristiwa ini terjadi pada saat pelaksanaan evakuasi tawanan perang di Asia Tenggara termasuk Hindia Belanda setelah kekalahan Jepang. Ketika itu Laksamana Mounbatten membentuk RAPWI (Recovery of Allied Prisoners of War and Interness).

Pun saat sore mencekam ketika pesawat C-47 Dakota VT-CLA yang membawa bantuan obat-obatan dari Singapura ditembak jatuh pesawat P-40 Kitthawk pada 29 Juli 1947 di Maguwo, Yogyakarta, Erlangga melihat sendiri kejadian itu.

“Saya ada di mobil bersama kakak saya, kami diajak ayah yang menunggu kedatangan pesawat, kemudian diserang P-40,” urainya. Dalam kenangan Erlangga, ayahnya shock berat melihat kejadian itu dan menangis, karena di dalamnya para sahabatnya ikut gugur bersama VT-CLA.

“Saya lihat ayah marah sekali lalu gebrak meja sambil teriak…. i knew it, i knew it,” ujarnya. Subuh di hari yang sama, dua pesawat Cureng dan sebuah Guntei, mengebom kedudukan Belanda di Semarang, Salatiga, dan Ambarawa.

Menurut Erlangga, kejadian itu sudah diprediksi ayahnya karena Belanda memiliki pesawat tempur yang bisa dengan mudah merontokkan Dakota. Apalagi subuhnya, AURI menyerang Belanda di tiga lokasi. Sehingga siang itu, Belanda membalas dengan menyerang Maguwo.

Karena situasi sudah sedemikian mencekamnya, Suryadarma memerintahkan pendaratan VT-CLA di Maguwo, tutur Erlangga, dilakukan pada saat maghrib saja karena Belanda tidak berani terbang malam (only visual, no instrument).

Tapi Dakota sudah terlanjur terbang. Beberapa kali dicoba menghubungi pakai radio, tidak bisa.

“Sepertinya pilot memutuskan lain, ia terlalu yakin karena sebagai orang Australia merasa tidak akan diganggu pilot Belanda,” ulas Erlangga.

Masih menurut Erlangga, sejatinya ayahnya tidak setuju dengan keinginan para kadet untuk menyerang Semarang, Salatiga, dan Ambarawa pada subuh di hari yang sama. “Mereka kan masih kadet, siapa yang bertanggung jawab, Pak Adisucipto juga sudah ke Singapura.”

Namun karena begitu menggebu-gebunya semangat para kadet untuk menyerang, Suryadarma dan Komodor Halim Perdanakusuma yang saat itu ada di Maguwo, dengan berat hati memberikan izin kepada para kadet.

“Telepon gua ya, nanti kita ketemu lagi,” ucap Pak Erlangga yang selalu bersikap hangat kepada siapapun.

Itulah sejarah. Masih banyak celah yang harus kita gali untuk mengungkap kejadiannya.

 

Teks: beny adrian

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: