Setelah Vakum Lebih 70 Tahun, Jepang Aktifkan Kembali Pasukan Marinir

Pertama kali sejak berakhirnya Perang Dunia II, Jepang mengaktifkan pasukan pendarat marinir. Pengaktifan kembali pasukan marinir ini, ditandai dalam sebuah latihan bersama Marinir Amerika Serikat pada 7 April lalu.

Latihan dilaksanakan antara Marinir AS dari Unit Ekspedisi Marinir ke-31 dengan pasukan Amphibious Rapid Deployment Brigade (ARDB) Jepang di Camp Ainoura, Jepang.

Pasukan marinir ini akan bertugas mempertahankan dan merebut kembali wilayah Jepang yang diduduki musuh, dengan menggunakan kemampuannya dalam melakukan serbuan amfibi.

Meski sempat membekukan pasukan marinirnya selama puluhan tahun, Jepang dikenal sebagai salah satu negara pelopor pasukan amfibi. Kemampuan amfibi ini diperlihatkan Jepang di China pada tahun 1930-an, dan kemudian diturunkan saat menggilas Asia Pasifik dengan pasukan pendaratnya dalam Perang Dunia II.

Saat itu Jepang menggunakan kapal pendarat dengan lantai datar yang kemudian banyak ditiru Sekutu.

Usai PD II dengan kekalahan Jepang dalam perang, pasukan militer seperti marinir dilarang sebagai kekuatan ofensif.

Kehadiran marinir ini akan memberikan kemampuan kepada Jepang untuk melakukan proyeksi kekuatan di Laut China Selatan, terkait perselisihan Jepang dan China dalam memperebutkan Pulau Senkaku. China menyebutnya Pulau Diaoyu.

Dalam latihan bersama dengan Marinir AS itu, ARDB mempertunjukkan kemampuannya dalam menguasai kembali sebuah pulau yang dikuasai musuh. Pengukuhan kembali ARDB ini dihadiri oleh sekitar 1.500 Marinir Jepang.

Sebelumnya pada Januari lalu, kedua pasukan juga melaksanakan latihan bersama Iron Fist di Camp Pendleton, California. Dalam latihan ini, kedua marinir melaksanakan operasi amfibi dan pendaratan.

Menurut sejumlah sumber, Jepang memiliki sekitar 2.100 prajurit marinir.

Amphibious Rapid Deployment Brigade (ARDB) Jepang didesain sebagai infanteri ringan. Direncanakan ARDB akan menggunakan kapal pendarat hovercraft LCAC yang dibuat Jepang berdasarkan lisensi dari AS.

Sejumlah ranpur amfibi AAV7 juga dibeli dari Marinir AS, termasuk sekitar 17 pesawat hibrid V-22 Osprey. Disebutkan bahwa militer Jepang belum menemukan pangkalan yang cocok untuk Osprey. Pasalnya warga yang tinggal dekat markas ARDB menolak pesawat ini karena suaranya yang bising.

Selain mengaktifkan kembali pasukan marinir, Jepang dinilai juga membutuhkan kemampuan gabungan laut dan darat dalam menghadapi kemungkinan serangan dari China.

Karena itu, Jepang sangat ingin mengoperasikan pesawat canggih F-35B yang bisa dioperasikan dari kapal induk Izumo dan Ise.

 

Teks: beny adrian

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: