Hankam

Indonesia Akan Menarik Diri dari Program KFX/IFX, Benarkah?

Seperti dikutip janes.com (17 April 2018), Indonesia disebutkan tengah mempertimbangkan untuk menarik diri dari program pembuatan pesawat tempur generasi 4,5 KFX/IFX dengan Korea Selatan.

Pesawat tempur ini diberi nama Korean Fighter Xperiment dan Indonesia Fighter Xperiment (KFX/IFX).

Informasi ini diperoleh dari pameran Defence Services Asia (DSA) 2018 yang berlangsung dari 16-19 April 2018 di Kuala Lumpur, Malaysia.

Menurut pejabat Indonesia, sementara keterlibatan Indonesia masih terus berjalan, beberapa masalah utama mencuat yang menimbulkan perdebatan mengenai kelanjutan partisipasi Indonesia dalam program KFX/IFX.

Termasuk ke dalamnya soal pendanaan, juga diperdebatkan sejauh mana Indonesia memperoleh manfaat teknis strategis dari proyek KFX/IFX, dan apa yang disebut pejabat ini sebagai faktor geopolitik.

Pejabat Indonesia juga mengindikasikan bahwa partisipasi Indonesia di masa datang dalam program KFX/IFX kemungkinan akan ditentukan oleh pejabat seniornya termasuk Presiden Joko Widodo.

Salah satu sumber industri Indonesia mengatakan, sebenarnya uang bukanlah masalah utama meskipun ada beberapa masalah dengan ini.

Faktor-faktor utama dalam keputusan ini adalah keuntungan teknis yang dapat diperoleh Indonesia melalui program dan beberapa faktor geopolitik yang harus dipertimbangkan oleh pemerintah Indonesia.

Terkait faktor geopolitik, sumber industri ini menyebutkan Rusia, AS, Korea Selatan. Dia tidak menjelaskan maksudnya tetapi dipahami oleh janes.com bahwa keterlibatan Indonesia dalam proyek ini telah menjadi sumber keprihatinan di AS, pemasok utama teknologi KFX/IFX yang waspada terhadap hubungan Indonesia dengan Rusia.

Pada Januari 2018, pejabat pertahanan Indonesia menyatakan bahwa saat ini ada kekurangan sekitar Rp 1,85 triliun (140 juta dolar AS) yang harus dibayarkan kepada Korea Selatan dengan imbalan keterlibatan Indonesia dalam program KFX/IFX sesuai perjanjian yang ditandatangani pada 2015.

Pada 8 Februari 2017, Wakil Menlu Indonesia Abdurrahman Mohammad Fachir mengatakan bahwa proyek ini ditunda karena AS menolak mengizinkan Korea Selatan memberikan lisensi ekspor untuk empat teknologi kunci.

Seperti diketahui, KFX/IFX akan menggunakan radar cerdas AESA (active electronically scanned array), sistem pelacak IRST (infrared search and track), pod penargetan optik elektronik (EOTGP), dan sistem jamming frekuensi radio canggih (RF).

Menanggapi keberatan AS ini, Korea disebutkan akan memasang sistem serupa buatan lokal dari Hanwha System sebagai pengganti.

Sejak awal, program KFX/IFX selalu mengindikasikan ketidakstabilan. Beberapa kali isu seperti ini sudah bergulir, namun baik dari TNI maupun Kemenhan tetap menaruh harapan agar proyek jet tempur ini berjalan sesuai rencana.

 

Tes: beny adrian

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close